Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Selepas Jam Kerja Ep.1

Selepas Jam Kerja Ep.1

Setelah #rumahteteh #RHDPK dan #briikecil, yang semuanya belum selesai, Malam ini kita mulai series terbaru ya. Mengisahkan tentang “geliat aktifitas” di gedung perkantoran selepas jam kerja. Gedung yang letaknya di tengah-tengah kota Jakarta. Kisahnya dialami oleh Mas Yono dkk, yang pernah bekerja di gedung itu, sebagai sekuriti.
Mari kita mulai.. 
Ingat, jangan pernah baca sendirian.. 
***

~Yono, Jam satu lewat tengah malam.~
23..
22..
21..
20…
19…
18…
Lift berhenti bergerak..
“Ting..”
Pintu lift terbuka dengan sendirinya di lantai 18, padahal aku gak menekan tombolnya tadi.

Gelap, lantai 18 ini sangat gelap, penerangan hanya bersumber dari cahaya lampu dari dalam lift yang isinya hanya ada aku sendirian.
Sangat berat kaki untuk melangkah, kejadian yang pernah terjadi beberapa minggu yang lalu membuatku berpikir seribu kali untuk melongokkan kepala sekadar untuk melihat keadaan.

Pintu lift tetap dalam keadaan terbuka.
Dari tempatku berdiri, aku menjulurkan tangan semaksimal mungkin meraih tombol untuk menutupnya.

Tombol berhasil kujangkau, lalu ku tekan beberapa kali, namun lift tetap saja gak mau menutup.
Aku mendekat ke pintu, mencoba sekali lagi menekan tombol penutup, ku tekan beberapa kali.

Gak ada pergerakan dari pintu, tetap dalam keadaan terbuka.
“Apa rusak lift ini?” Dalam kesendirian itu, aku bergumam dalam hati.
“Dug..dug..dug..dug..”

Tiba-tiba terdengar suara langkah bersepatu, suara langkah kaki yang berjalan di atas lantai berlapis karpet.
Aku maju dua langkah, melongokkan kepala ke luar lift.
Menengok ke kiri..
Ke kanan..

Dalam gelap, aku gak melihat apa-apa, hanya lantai kosong dengan beberapa ruangan yang tertutup pintunya.
“Dug..dug..dug..dug..”

Suara langkah itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih dekat.
Seperti ada orang yang berjalan mendekat ke arah lift, ke arah tempatku berdiri.

Aku merinding, lalu mundur beberapa langkah untuk kembali masuk.
Aku tekan kembali tombol penutup.
Sukurlah, lift akhirnya tertutup juga dan bergerak turun..
Sambil menunduk, aku menghela napas panjang.
“Gak ada apa-apa, aman, alhamdulillah..”
Begitu ucapku dalam hati.

Namun, sekonyong-konyong hidungku mencium sesuatu.
Wangi parfum pria tiba-tiba semerbak tercium di dalam lift.
Aku langsung menengadahkan wajah dari posisi menunduk.
Posisiku dekat dan menghadap pintu,

Aku terdiam, badanku lemas sekujur-kujur, merinding ketakutan..
Dari pantulan cermin di pintu lift, aku melihat ada seseorang yang sedang berdiri tepat di belakang..
Ternyata aku gak sendirian..

Seorang laki-lagi dengan tinggi badan nyaris sama denganku, berkemeja biru muda, dasi dan celana hitam.
Dia menunduk, gak menampakkan wajah.
Kapan dia masuk kedalam lift?
Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena sejak dari basement hingga ke lantai paling atas tadi aku patroli sendirian, benar-benar sendirian.

Sampai ketika harus turun kembali, aku tetap sendirian.
Dan gedung seharusnya sudah dalam keadaan kosong.

Aku hanya diam, gak berani menyapa atau pun mengajaknya berbicara.
Wangi parfum tubuhnya terus saja menyeruak memenuhi seisi lift, membuat lidah ini semakin kelu.

Gerakan lift menuju basement terasa sangat lambat.
Tiba-tiba dia mengangkat wajah,
Wajah pucat dengan lingkar hitam tipis di sekeliling dua matanya.
“Saya turun di lantai tiga ya Pak.”
Suara pelan keluar dari mulutnya.
Tanpa basa-basi aku langsung menekan tombol lantai tiga.

Tubuhku gemetar ketakutan, siapa orang ini? Mau apa dia ke lantai tiga?
Beberapa puluh detik yang cukup lama, sampai akhirnya pintu lift terbuka di lantai tiga.
“Permisi pak.., terima kasih”
Aku langsung bergeser ke kiri merapat ke dinding lift, membiarkannya berjalan keluar.
Langkahnya sangat pelan, seperti orang yang sedang merasakan sakit di sekujur badannya.

Seperti lantai yang lainnya, lantai tiga juga sangat gelap, hanya lampu dari dalam lift yang menjadi sumber penerangan.
Lelaki itu berjalan ke luar dan melangkah ke arah kiri, sementara aku hanya memperhatikan, tanpa berani melongokkan kepala untuk melihat ke mana dia berjalan.
Gak mau tahu..!

Dengan cepat aku menekan tombol menutup lift, aku tekan dengan keras dan berulang-ulang, dengan harapan pintu segera tertutup
Gak, ternyata gak segampang itu..

Pintu lift tetap terbuka selama beberapa puluh detik, aku tetap bersandar di sisi kiri sambil terus menekan tombol, gak berani melongok ke luar.
“Dug..dug..dug..dug..”

Suara langkah itu terdengar lagi, langkah yang mendekati lift.
Aku ketakutan, sambil terus menekan tombol penutup berulang-ulang.
Aku panik.

Sukurlah, pintu lift akhirnya menutup, kemudian bergerak ke bawah.
Aku terduduk lemas, masih ketakutan.
“Ting.. “
Pintu lift terbuka..
“Ngapain lo duduk di bawah Yon?! Liat setan lagi ya?”
Ternyata Amir, dia berdiri di depan lift sambil cengengesan.
“Ayo Mir, kita ke pos aja”
Kami langsung bergegas berjalan ke pos sekuriti yang letaknya ada di basement.
***

Pada malam itu, aku bersama Amir, Rony, dan Hamdan kebagian tugas jaga malam. Memang hanya empat personil yang diwajibkan bekerja pada saat itu.

Amir seharusnya berada di pos, memperhatikan monitor cctv yang kameranya berada di nyaris di setiap sudut gedung, dari basement sampai ke lantai paling atas.

Hamdan dan Rony bertugas di pos jaga depan, memperhatikan lingkungan luar sekitar gedung.
Malam itu aku sedang kebagian tugas berpatroli keliling bagian dalam, lantai demi lantai, ruangan demi ruangan, harus diperiksa semuanya. Patroli ini harus dilakukan dalam skala waktu tertentu.
Amir adalah team leader saat itu.

Ruangan sekuriti berada di basement satu, ruangan yang gak terlalu besar, berisi beberapa meja dan lemari. Toilet berada di luar ruangan, tapi masih di basement juga.

Di dalamnya terdapat beberapa monitor cctv yang cukup besar, lewat layar monitor itulah kami dapat melihat nyaris setiap sudut gedung lewat kamera cctv yang tertancap di setiap sudut gedung juga.
Nyaris gak ada sudut yang gak bisa kami monitor, semuanya terlihat.
***
“Lo liat apa Yon?”
Amir membuka omongan ketika kami sudah duduk di depan monitor.
“Lantai 18 lagi Mir.. “
Jawabku setelah sudah sedikit dapat mengatur napas.
“Ada apa sih, penasaran gw..”

Amir langsung menuju ke monitor komputer yang ada di hadapannya. Di monitor itu kami dapat melihat kembali rekaman cctv yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.

Pada layar monitor itu akhirnya terlihat gerak-gerikku, dimulai dari ketika aku berada di lift, yang kemudian lift berhenti di lantai 18.
Seperti biasanya, gak terlihat apa-apa, pada layar monitor hanya terlihat aku berdiri sendirian, tapi sudah terlihat ketakutan.
Iya, aku terlihat sendirian sampai ketika pintu lift terbuka dan ada Amir di luarnya, gak ada siapa-siapa lagi.

Lelaki misterius itu gak tertangkap kamera.
“Mana? Gak ada apa-apa Yon, lo halusinasi aja kali.. Hehe”
Amir memang baru beberapa minggu bertugas di gedung ini, dia baru saja dipindahtugaskan dari gedung yang lain. Karena itulah dia mungkin belum pernah mengalami dan melihat hal-hal seram.

Berbeda dengan aku, Hamdan, dan Rony yang sudah cukup lama bekerja di gedung ini.
“Nanti jam tiga, lo aja yang patroli ya Mir. Gw di sini aja.”
Amir mengiyakan.
***
Mundur ke belakang, sekitar tiga bulan sebelumnya, ada peristiwa aneh yang juga terjadi di lantai yang sama, yaitu lantai 18. Seperti biasanya, aku bekerja dengan tim yang sama, tetapi waktu itu Pak Warsan yang masih menjadi pemimpinnya.

Malam itu aku kembali yang mendapat tugas untuk berpatroli di dalam gedung, memeriksa seluruh lantai dan ruangan, memperhatikan setiap sudutnya, memastikan apakah di dalam gedung masih ada orang atau nggak.

Beberapa perusahaan yang berkantor di gedung ini, memang sering kali ada karyawannya yang kadang bekerja sampai malam, sampai tengah malam malah. Tapi hanya sebagian kecil perusahaan aja, gak semuanya.

Kami para sekuriti gedung sudah sangat hapal perusahaan mana saja yang biasanya ada karyawan yang bekerja sampai larut malam, dan di lantai mana saja, kami sudah cukup hapal.

Untuk patroli di dalam gedung biasanya hanya dilakukan oleh satu personil, satu personil lagi memantau dengan memperhatikan lewat layar cctv. Kami selalu memulai patroli dari lantai paling bawah, lalu menyusuri lantai demi lantai menggunakan lift, satu persatu hingga ke lantai yang paling atas.

Setelah selesai memeriksa sampai lantai atas, kami langsung turun kembali ke lantai bawah, selesai.

Kalau pada salah satu lantai masih terlihat ada kegiatan, kami akan datang mengunjungi karyawan yang masih sedang bekerja itu, untuk sekedar bertegur sapa atau menawarkan bantuan yang sekiranya dapat dilakukan.
Seperti pada malam itu, masih sekitar jam sepuluh, ketika aku sedang patroli di lantai tujuh, perusahaan yang ada di lantai ini termasuk perusahaan yang berkegiatan sampai malam, kadang sampai tengah malam.

Aku pun menghampiri beberapa dari mereka yang masih terlihat bekerja.
“Lembur lagi bos..” Sapaku kepada mereka.
“Wah.., Pak Yono. Iya nih Pak, tapi sepertinya sebentar lagi kami pulang.”
Jawab salah satu dari mereka, aku cukup kenal dengan orang-orang ini.
“Lanjut aja Bos, saya juga mau lanjut patroli.”
Aku pun melanjutkan berkeliling gedung setelahnya.
Patroli pada jam sepuluh itu keadaannya normal, gak ada yang aneh, termasuk lantai 18.

Lantai 18 ini dihuni oleh satu perusahaan yang bergerak di bidang keuangan. Selama aku kerja di gedung ini, sangat jarang ada karyawannya yang bekerja sampai larut malam, paling malam hanya sampai jam 19.00, setelah itu lantai 18 sudah kosong melompong.

Pada patroli malam yang pertama ini, jam sepuluh, lantai 18 benar-benar sudah kosong. Ketika aku membuka lift, lantai itu sudah gelap gulita, sama seperti lantai-lantai lainnya yang sudah kosong. Tapi walau pun begitu aku tetap harus memeriksa keadaan dan situasinya.

Aku memperhatikan sekitar, mengintip ke dalam ruangan-ruangan melalui pintu kaca yang ada di depan, memeriksa toilet juga, dan seluruh ruangan lainnya.
Lantai 18 benar-benar kosong, aman.
Kemudian aku melanjutkan memeriksa lantai selanjutnya, sampai selesai.
Patroli malam akan dilakukan lagi pada jam satu tengah malam nanti.
***
“Yon sudah jam satu nih, kamu keliling lagi ke dalam.”
Pak Warsan mengagetkanku yang sedang duduk memperhatikan monitor cctv.
“Oh, iya Pak, siap.”

Ternyata sudah jam satu, aku harus melaksanakan patroli malam yang kedua. Seperti biasa, dimulai dari lantai yang paling bawah dulu, kemudian memeriksa satu persatu lantai gedung sampai ke lantai yang paling atas.

Untuk patroli sesi dua ini biasanya dapat dilakukan dengan cepat, karena seharusnya gedung sudah dalam keadaan kosong.
Namun harus dilakukan dengan lebih hati-hati, karna biasanya pelaku kejahatan bergerak di saat tengah malam ini.

Tapi, pada jam-jam ini juga kami harus siap mental dan nyali, karena biasanya juga ada “Penghuni” gedung yang bergentayangan, sering kali selepas jam kerja.

Aku susuri lantai demi lantai, memeriksa setiap sudutnya, memperhatikan setiap ruangannya.

Gak ada hal mencurigakan, hingga akhirnya mencapai lantai yang paling atas, sukurlah.

Setelah selesai di lantai paling atas, aku langsung masuk lift untuk langsung meluncur turun ke basement.
“Ting..” Pintu tertutup, lift bergerak turun.
23..
22..
21..
20…
19…
18…
“Ting..”
Tiba-tiba pintu lift terbuka, padahal aku gak menekan tombol lantai 18 sebelumnya. Ketika lift sudah terbuka penuh, ternyata aku melihat pemandangan yang cukup aneh.
Aku terkejut, kaget..
Aku tetap berdiri diam di dalam lift untuk beberapa saat, masih menerka-nerka ada apakah gerangan.

Di lantai 18, pada saat itu terlihat terang benderang, ada beberapa orang lalu-lalang lewat depan lift dan meja resepsionis.
Meja resepsionis terletak persis di depan lift, hanya berjarak sekitar lima meter.

Aku terheran-heran, karena beberapa saat sebelumnya ketika aku periksa, lantai 18 ini sudah kosong melompong dan gelap, gak ada orang sama sekali.
Kenapa ini tiba-tiba banyak orang?
Suasananya persis seperti suasana ketika siang hari pada saat jam kerja, ramai.

Orang-orang yang berlalu-lalang terlihat normal, mengenakan baju kerja seperti biasa, laki-laki dan perempuan.

Tapi ada yang aneh, mereka semua seperti gak memperhatikan aku yang sedang berdiri di dalam lift, seperti gak menyadari kalau aku ada, semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Pada saat ini lah aku mulai sadar kalau ada yang gak beres, kalau ada yang aneh.

Perasaan mulai gak enak, mulai ketakutan, ketika menyadari kalau aku gak mengenali satu pun wajah dari orang-orang itu, aku gak ada yang kenal, semuanya asing.
“Ada yang bisa dibantu Pak?”
Tiba-tiba ada suara perempuan, membuyarkan pikiranku yang tengah terhipnotis akan keadaan itu.

Perempuan itu berdiri di balik meja resepsionis, meja yang letaknya persis di depan ku berdiri. Perempuan berkulit putih dengan rambut sebahu, mengenakan blazer hitam selayaknya karyawati.
Sama dengan yang lainnya, aku gak kenal perempuan ini, aku gak pernah melihat sebelumnya di gedung ini.
Perempuan ini cukup cantik dan menarik, tapi..
Tapi wajahnya terlihat pucat tanpa ekspresi..

Aku langsung merapatkan tubuh ke sisi kiri lift, mencoba bersembunyi dari pandangan resepsionis itu,
Aku menekan tombol penutup pintu berkali-kali, panik.
Sukurlah pintu lift akhirnya tertutup, tapi..
Tapi lift gak bergerak turun, tetap di lantai 18.
Beberapa puluh detik keadaaanya tetap seperti itu, pintu tertutup tetapi lift gak bergerak, tetap pada tempatnya.
Tiba-tiba..
“Ting..”
Pintu lift terbuka lagi..
Masih di lantai 18..
Tapi keadaannya sudah beda..
Keadaan lantai 18 sudah gelap gulita, gak ada orang lagi terlihat berlalu-lalang.

Gak ada lagi perempuan yang berada di belakang meja resepsionis.
Sepi..
Hening..
Gelap..
Aku gak berani melongokkan kepala keluar untuk melihat keadaan, aku ketakutan..
Tiba-tiba sayup sayup aku mendengar sesuatu,
“Duk..duk..duk..duk..”

Ada suara langkah kaki yang mendekat, mendekat ke arah lift.
Aku langsung menekan tombol penutup berkali-kali, dengan harapan lift segera tertutup, aku kembali panik.

Lift belum juga tertutup ketika suara langkah kaki itu kembali terdengar dan semakin dekat kedengarannya.
“Duk..duk..dukk..duk.”
Tapi sukurlah, akhirnya pintu lift mulai menutup.

Namun ketika pintu belum benar-benar tertutup, tiba-tiba aku melihat sosok yang muncul dari arah kiri dan berhenti dan berdiri tepat di depan lift.

Sosok itu seperti hendak masuk, tetapi pintu lift sudah keburu aku tutup.
Sosok yang gak terlalu jelas aku melihatnya, karna suasana sangat gelap, dan juga hanya beberapa detik, karena pintu lift sudah keburu tertutup.
Aku kembali mengucap sukur, karena setelah itu lift bergerak turun.
***
~Yono, Hamdan, Pak Warsan. Pada suatu malam, sekitar jam 12.00.~
Waktu itu aku dan pak Warsan sedang duduk memperhatikan monitor cctv di ruangan sekuriti, sedangkan Hamdan kebagian tugas berkeliling patroli gedung. Personil yang lainnya berjaga di sekitar bagian luar.
Seperti malam-malam biasanya, kami melaksanakan tugas dengan pola dan jadwal yang sama.

Saat itu melalui layar monitor cctv, aku memperhatikan gerak-gerik Hamdan yang tengah berpatroli di dalam gedung.
Tiba-tiba, layar monitor cctv ada yang mati, pada layar monitor hanya terlihat hitam dan gelap aja.

Kamera yang mati adalah kamera cctv yang berada di lantai sepuluh, kamera yang letaknya di atas sudut ruangan resepsionis, kamera ini menghadap ke pintu lift.

Aku langsung menghubungi Hamdan menggunakan radio panggil.
“Hamdan, tolong monitor ke lantai sepuluh ya. Cctv yang depan meja resepsionis mati, tolong diperiksa.”
“Monitor Yon, langsung menuju ke TKP.”
Begitu balas Hamdan.
Aku lalu mengikuti langkah Hamdan yang sedang berjalan menuju lantai sepuluh, memperhatikan melalui cctv.

Layar monitor masih gelap, masih mati, gak terlihat apa-apa.
Gak berapa lama kemudian ada suara Hamdan di radio panggil.
“Yon, gw udah di TKP nih, nasih mati kameranya?”
“Masih Dan, coba periksa, takut ada kabel yang putus.”
“Ok, Yon.” Jawab Hamdan.
Beberapa detik kemudian, layar monitor tiba-tiba kembali menyala, terlihat gambarnya.

Pada layar monitor terlihat wajah Hamdan yang sedang mengutak-atik kamera cctv, wajahnya cukup dekat dengan kamera.
Tapi ada yang aneh ketika aku melihat layar monitor itu, sangat aneh dan menakutkan..
Aku terhenyak kaget, bulu kudukku merinding semua, aku melihat sesuatu di layar monitor..
“Pak Warsan, bisa ke sini sebentar Pak, liat monitor cctv.”
Aku memanggil Pak Warsan yang sedang duduk di kursinya yang terletak di dekat pintu ruangan.

Ketika Pak Warsan sudah berdiri di belakangku dan ikut memperhatikan layar monitor cctv, dia ikut terdiam..
Kami berdua terdiam beberapa saat..
“Yon, sudah nyala belum?”
Suara Hamdan di radio panggil mengagetkan kami berdua yang tengah terdiam ketakutan.

Pak Warsan mengambil alih radio panggil yang ada di tanganku..
“Ndan, kamera sudah nyala lagi. Kamu langsung turun aja, tapi jangan lewat lift, lewat tangga darurat aja, jangan tanya kenapa. Kamu harus lewat tangga darurat.”
Begitu kata Pak Warsan.
“Oke pak, monitor.” Jawab Hamdan.

Wajah Hamdan langsung berubah mimik menjadi ketakutan, kemudian langsung berjalan cepat-cepat menuju tangga darurat, sepertinya dia mengerti akan situasi yang tengah terjadi, setelah mendengar omongan Pak Warsan melalui radio panggil.
Ada apa di layar monitor cctv?
Kenapa aku dan Pak Warsan menjadi diam ketakutan?

Ternyata, pada layar monitor, kami melihat Hamdan gak sendiran..
Di belakang Hamdan ada sosok yang berdiri diam memperhatikan Hamdan yang tengah mencoba memperbaiki kamera cctv.
Sosok itu berdiri cukup dekat dengan Hamdan, hanya berjarak sekitar tiga meter.

Kenapa Pak Warsan menyuruh Hamdan menggunakan tangga darurat dan gak boleh menggunakan lift?
Karena kalau Hamdan menggunakan lift dia akan berpapasan dan berhadapan dengan sosok itu. Sosok itu sosok laki-laki, berpakaian normal selayaknya karyawan kantor.
Tapi ada yang sangat menakutkan dari tampilannya..
Aku dan pak Warsan melihat sosok itu berdiri di belakang Hamdan, Tanpa kepala..
Sosok itu gak ada kepalanya..
***
Itu adalah beberapa fragmen awal dari series “Selepas Jam Kerja”.
Semoga bisa dinikmati.
Met bobo, semoga mimpi indah.
Salam~Brii~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *