Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Rumah Teteh Chapt. 3

Rumah Teteh Chapt. 3

Masih di hari yang sama, setelah cukup lelah membereskan barang-barang, selepas maghrib gw tertidur dan gak tahu apa yang terjadi di luar kamar kemudian.

Bandung sedang turun hujan sepanjang hari, berlanjut hingga malam menjelang, memaksa gw terlelap cukup lama.

Tapi sekitar jam satu malam, gw terbangun..
Sekujur tubuh menggigil kedinginan, disebabkan oleh hembusan angin malam yang bertiup langsung ke badan, ternyata jendela kamar dalam keadaan terbuka, pantas saja..

Sambil menahan kantuk yang masih cukup hebat, berjalan gontai gw menuju jendela kamar untuk menutupnya. Melalui jendela itu, gw dapat melihat seluruh bagian depan rumah dengan halaman luasnya. Yang terlihat pada saat itu, suasananya masih cukup terang, terbantu dengan lampu depan yang sudah menyala.

Gw masih sangat bisa memandangnya dengan jelas.
Gerimis masih saja turun dari langit, Jalan depan rumah sudah terlihat sangat sepi, gak ada kendaraan yang melintas atau pun orang lalu lalang.
Cukup lama gw berdiri diam di depan jendela.

Lamunan terusik seketika, ketika sekilas melihat ada perempuan berjalan masuk ke arah lorong samping rumah. Walaupun hanya sekilas, tapi gw dapat melihatnya dengan jelas.

Perempuan dengan rambut ikal panjang sebahu, berpakaian baju terusan sebatas lutut, tapi gw gak sempat memperhatikan raut wajahnya.
Sekilas perawakannya seperti Sisi, tapi gw berpikir kalau itu adalah teman Doni atau Asep, karena mereka memang menempati kamar yang terletak di bagian samping rumah, untuk memasukinya dapat melalui pintu di lorong samping.

Gak terlalu ambil pusing, gw langsung kembali ke niat awal, menutup jendela kamar dan juga tirainya, kemudian mematikan lampu kamar dan langsung merebahkan badan di atas tempat tidur untuk melanjutkan tidur yang sempat terpotong. Badan masih terasa sangat lelah.

Dalam keadaan kamar yang gelap, hanya dibantu cahaya dari tv yang masih dalam keadaan menyala, gw memaksa mata untuk terpejam.
Tapi usaha gw gak juga kunjung berhasil, karena mendengar sesuatu yang bersumber dari lantai atas.

Ada suara yang cukup mengganggu, gw mendengarnya seperti suara langkah kaki..
“Duk…duk..duk..duk..duk..”, kira-kira seperti itu bunyinya.
Terkadang seperti suara langkah orang sedang berjalan, kadang seperti berlari. Membuat gw semakin susah untuk tidur..
“Memi dan Sisi, sudah tengah malam seperti ini masih belum tidur juga..” Pikir gw dalam hati.

Posisi kamar mereka memang tepat berada persis di atas kamar gw. Sehingga kalau dalam keadaan hening dan sepi seperti ini, suara langkah kaki mereka pasti terdengar dari bawah, seperti itulah kira-kira.

Cukup lama suara itu terus-menerus terdengar, sampai pada akhirnya hanya terdengar suara “Duk…duk..” sesekali. Mungkin Sisi dan Memi memang sudah selesai melaksanakan aktifitasnya, sukurlah, dengan begitu gw bisa melanjutkan tidur lagi.

Waktu menunjukkan pukul dua lewat tengah malam, ketika tiba-tiba merasa haus, saat itu juga gw berniat untuk keluar kamar dan menuju dapur untuk minum.

Untuk sampai ke dapur, gw harus melewati lorong tangga yang menuju ke lantai atas, lalu melewati ruang tengah, ruang makan, setelah itu baru sampai di dapur.

Isi rumah sudah sangat hening dan sepi, gw pikir mungkin karena sebagian besar penghuninya sudah tidur, mungkin hanya gw, Memi, dan Sisi yang masih terjaga.

Gak ada perasaan takut atau aneh, ketika membuka pintu kamar kemudian melihat suasana ruang tengah yang terlihat temaram, hanya terbantu cahaya lampu dari halaman belakang yang masuk melalui sela-sela jendela di ruang makan. Suasananya membuat nyali melemah, ditambah dengan suara angin yang bertiup cukup kencang di luar, menemani turunnya hujan yang intensitasnya semakin besar.

Ah mungkin karena ini adalah malam pertama tinggal di rumah baru, gw belum mengenal benar suasananya, berpikir begitu bermaksud untuk menambah nyali yang memang sudah semakin goyah.

Sebelah kiri kamar adalah ruang tamu yang juga sama keadaannya, gelap gulita, gak berani melirik kearah situ, perasaan gw gak enak.
Gw mulai melangkahkan kaki keluar kamar.

Tiga langkah pertama, sampai di depan tangga yang menuju lantai atas, tempat di mana kamar Memi dan Sisi berada. Sempat melirik ke arah situ, gw melihat lorong tangga dalam keadaan gelap, hanya terlihat porselen putih pada anak tangga yang memantulkan sedikit cahaya dari atas.
Gw sempat sebentar menghentikan langkah, tepat di depan lorong tangga, karena kembali mendengar sesuatu..
“Hihihihihi, hihi, hihihi..”
Terdengar suara tawa perempuan dari atas. Tawa yang hanya terdiri dari satu orang.
“Itu Memi atau Sisi ya..? sudah larut malam begini masih belum tidur juga.” Gw bergumam dalam hati. Setelahnya, gw melanjutkan langkah menuju dapur.

Sempat berniat untuk membangunkan teman-teman yang lain, untuk menemani sekadar berbincang, tapi gw urungkan niat itu, takut mengganggu istirahat mereka.

Sebenarnya, bagian rumah yang menurut gw cukup menyeramkan adalah lorong yang letaknya berada di sebelah dapur. Lorong ini menuju pintu samping yang melewati kamar Doni dan Asep. Karena itulah, ketika dalam perjalanan menuju dapur dan melewatinya, gw mempercepat langkah, karna merasakan kalau ada sesuatu di lorong itu.

Sesampainya di dapur gw langsung membuka lemari es dan meneguk segelas air. Gw biarkan dapur dalam keadaan gelap, hanya cahaya lampu dari dalam lemari es yang membantu penerangan.

Setelah selesai, gw langsung melangkahkan kaki kembali menuju kamar..
Di dalam perjalanannya, kembali langkah terhenti tepat di depan tangga.
Kembali gw mendengar sesuatu, ada suara yang terdengar mengambang dan sayup-sayup, tetapi masih cukup jelas.

Gw bisa memastikan bahwa suara itu adalah suara tangisan..
Suara perempuan yang menangis tersedu-sedu, bukan tangisan histeris, tetapi suara tangisan yang menurutku adalah tangisan kesedihan. Tertegun gw mendengarnya.

Masih saja gw berpikir kalau itu adalah suara Memi atau Sisi.
Aneh, sebelumnya terdengar suara perempuan tertawa cekikikan dari tempat yang sama, kenapa sekarang tiba-tiba menjadi suara tangisan?

Karena penasaran, gw sempat berniat untuk naik dan mencari tahu ada apa sebenarnya di lantai atas, tapi di anak tangga yang ketiga gw berhenti dan mengurungkan niat, lalu kembali melangkah turun, gw takut mengganggu privasi Memi dan Sisi. Kemudian gw langsung masuk kamar dan menutup pintu.

Di kamar, gw gak mendengar ada suara-suara lagi, entah itu suara tangisan, tertawa, atau pun suara langkah-langkah kaki.

Keadaan itu membuat gw kembali tertidur pulas.
Tapi, belum lama tertidur, gw kembali terbangun. Kali ini terjaga karena mendengar seperti ada yang membuka pagar rumah.
“Ada apa lagi ini…” sungut gw dalam hati sambil melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.

Setelah suara pagar, kemudian gw mendengar suara teman-teman kost yang lain, dan ternyata ada suara Memi dan Sisi juga. Gw langsung bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.

“Maaf Mas Brii, terbangun gara-gara kita ya..hehe. Tadi aku minta tolong Nando dan Doni untuk membantu mengambil barang-barang dari tempat kost yang lama. Tadinya mau ngajak mas Brii juga, tapi kelihatan capek sekali, jadi gak enak untuk membangunkan..” Memi membuka pembicaraan ketika gw masih terlihat bingung.

Hmmmm.., setelah mendengar penjelasan dari Memi, gw baru tersadar kalau ternyata mereka (Memi, Sisi, Nando, dan Doni) pergi ke luar rumah selepas maghrib ketika gw sedang tertidur pulas. Sedangkan Irwan dan Asep rencananya baru akan datang pada minggu pagi.
Jadi, sejak lepas maghrib, hanya ada gw di dalam rumah..
Sendirian…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *