Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Di Balik Dinding Rumah Sakit Chapt. 1

Di Balik Dinding Rumah Sakit Chapt. 1

Maret, 2017.
Ibu Juwita sudah gak sadarkan diri sejak kemarin. Kami yang berdiri di sekelilingnya hanya memandang tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.

Dokter Ferry sudah bekerja maksimal, terlihat pasrah dengan kondisi pasiennya yang satu ini, dia hanya duduk memperhatikan monitor yang ada di samping tempat tidur.

Beberapa saat kemudian, detak jantung Ibu Juwita semakin lemah, dan semakin melemah. Akhirnya, derai tangis keluarga memecah sunyinya ruangan, ketika sekitar jam satu tengah malam Ibu Juwita meninggal dunia.

***
Namaku Rida, aku bekerja sebagai perawat salah satu rumah sakit yang ada di pusat kota Bandung.

Sudah kira-kira lima tahun aku menjalani profesi ini, pekerjaan yang memang sudah menjadi cita-cita sedari kecil. Termasuk pekerjaan yang menurutku sangat mulia.

Aku sangat menikmati melakukan pekerjaan ini, nyaris semuanya ku lakukan dengan senang hati. Aku suka pekerjaannya, aku suka rekan-rekan sejawat, aku suka lingkungannya, semuanya.

Nyaris semuanya..
Rumah sakit tempatku bekerja ini adalah rumah sakit yang sudah lama berdiri, cukup tua usianya.

Iya, layaknya bangunan tua yang ada di kota Bandung, tentu saja masih ber-arsitektur Belanda. Di beberapa sudutnya dibiarkan apa adanya, gak pernah direnovasi sedikit pun, hanya cat nya saja yang terus diperbaharui.
Menurut sejarahnya, waktu pertama kali dibangun rumah sakit ini hanya memiliki satu gedung dan satu lantai saja, sekarang sudah memiliki beberapa gedung dalam satu kawasan, salah satu gedungnya terdiri dari tujuh lantai.

Rumah sakit yang sangat luas, cukup terkenal juga.
Malam ini, aku (dengan bantuan Mas Brii) akan mencoba menceritakan salah satu kejadian yang pernah aku alami di rumah sakit ini.
Dan tentu saja, kejadiannya sangat menyeramkan.

Teman-teman simak ya,
Ingat pesan Mas Brii, jangan pernah baca sendirian, karena terkadang “mereka” gak hanya sekadar hadir dalam cerita.
***
Ibu Juwita, satu dari beberapa pasien yang sangat aku ingat sampai sekarang, salah satu alasannya karena beliau cukup lama dirawat, selama kurang lebih dua bulan, sampai akhirnya takdir berkata lain, ajal menjemputnya di ruang rawat inap.

Selama dua bulan masa perawatan, kami para perawat sudah cukup akrab dengannya, kebetulan juga Ibu Juwita orang yang sangat ramah, senang bersenda gurau dan berbincang.

Ketika masuk rumah sakit, Ibu Juwita berumur 69 tahun, tubuhnya kurus dengan rambut panjang yang sudah memutih. Penyakit yang dideritanya cukup berat, dan komplikasi juga.

Kebetulan, aku yang pertama kali menangani dan merawat beliau, setelah keluar dari penanganan UGD.

Ruang yang Ibu Juwita gunakan adalah ruangan VIP, satu ruangan hanya dihuni oleh satu pasien. Di dalamnya tersedia sofa dan meja untuk keluarga yang ingin menemani.

Dengan telaten aku merawatnya pada malam pertama, mempersiapkan seluruh kebutuhan yang diperlukan.

Hanya ada dua anggota keluarga yang menemani, satu laki-laki berumur 40an dan satu perempuan berumur sekitar 25 tahun, yang laki-laki berdiri disamping tempat tidur sambil terus berbincang dengan Ibu Juwita, sementara yang perempuan duduk di sofa sambil terus-terusan memainkan ponsel yang ada di tangannya.
“Sudah ya Bu, sekarang ibu istirahat, saya berada di ruang perawat tidak jauh dari sini. Kalau ada yang diperlukan Ibu tinggal tekan tombol yang ada di sebelah tempat tidur, saya langsung datang.”
“Terima kasih ya Neng.” Jawab Ibu Juwita dengan senyuman.
Setelah itu aku langsung keluar, berjalan menuju ruang perawat yang berada di ujung lorong. Ruangan Ibu Juwita dan ruang perawat berjarak sekitar 30 meter.

Ruang rawat inap ini berada di gedung paling besar kedua, bangunan yang cukup tua usianya.

Malam itu yang bertugas hanya aku dan dua teman perawat, Ida dan Riana. Aku duduk sendirian di meja perawat yang berada di depan ruangan, sementara Ida dan Riana masih berkeliling ke ruangan pasien.

Sekitar jam sebelas malam, pintu kamar Ibu Juwita terbuka, kemudian dua anggota keluarga yang sejak awal menemani keluar dari ruangan.
“Suster, saya titip ibu saya ya. Kami hanya bisa menemani sampai di sini, besok kami datang lagi.”
Begitu ucap sang lelaki yang belakangan aku tahu kalau dia adalah anak dari Ibu Juwita.
“Baiklah Pak,” Jawabku dengan ramah.
Kemudian mereka pulang.
***
Sendirian aku duduk di meja depan ruang perawat, sementara Ida dan Riana berada dalam ruangan yang tepat berada di belakangku.
Lorong kosong panjang menjadi pemandangan yang aku lihat di depan, kanan dan kirinya berbaris pintu ruang rawat inap yang gak semuanya terisi, hanya beberapa saja.
Sangat sepi dan hening, situasi yang sudah biasa aku dan teman-teman rasakan apa bila sedang tugas malam.

Waktu itu sudah hampir jam satu malam, ketika aku harus berkeliling mengunjungi pasien satu persatu.
Ibu Juwita berada pada ruangan yang letaknya nomor dua dari ujung, aku sengaja mengunjunginya paling terakhir.

Ketika tepat berdiri di depan kamar, dari jendela aku dapat melihat kalau lampunya masih menyala terang.
Sebelum membuka pintu, aku terdiam sebentar karena mendengar sesuatu..
Senandung nyanyian tembang Jawa terdengar sayup-sayup dari dalam.

Lalu aku mengetuk pintu sebelum membukanya.
Ternyata Ibu Juwita yang sedang bernyanyi, nyanyian tembang lagu jawa..
“Selamat malam Bu, kok belum tidur?” Tanyaku dengan ramah.
“Iya neng, belum ngantuk. Supaya cepat ngantuk biasanya saya bernyanyi dulu, gak mengganggu kan ya Neng?”

Ibu Juwita membalas sapaku dengan senyumannya.
“Gak apa-apa Bu, tapi ibu harus istirahat, supaya lekas sembuh.”
Selanjutnya aku menemaninya untuk beberapa saat. Dalam perbincangan yang cukup singkat itu dia bercerita sedikit tentang keluarganya.

Bercerita dengan nafas yang beberapa kali tersengal, dia bilang kalau tadi yang menemani di ruangan adalah anak laki-lakinya yang nomor dua, yang perempuan itu istrinya, menantu Ibu Juwita.

Anak pertama bekerja di luar negeri, sedangkan yang bungsu, perempuan, tinggal di Surabaya bersama suaminya.
Ibu Juwita, perempuan kelahiran Semarang, bertahun-tahun tinggal di Bandung karna mengikuti sang suami yang bertugas di kota kembang ini.
Suaminya sudah lama meninggal, dan sepeninggal suaminya dia tinggal di rumah anak laki-lakinya yang nomor dua, yang tadi menemani di dalam ruangan.

Cukup lama aku mendengarkan beliau yang tampaknya sangat senang bercerita, hingga akhirnya aku sedikit memaksanya untuk beristirahat.
“Lampu saya redupkan ya Bu, kalau ada apa-apa Ibu silakan tekan tombol panggilan.”

Setelahnya aku keluar, kembali ke ruang perawat.
Itu malam pertama aku kenal dengan Ibu Juwita.
***
Kondisi Ibu Juwita yang naik turun memaksanya untuk terus dirawat inap, beberapa kali kondisinya sempat sangat menurun karena komplikasi penyakit yang dialami.

Sudah nyaris dua bulan masa perawatan, membuat kami sebagai perawat menjadi akrab dengan beliau.

Belakangan kami tahu kalau ketiga anak-anaknya termasuk orang berada, biaya rumah sakit sepertinya bukan masalah buat mereka.
Tapi, hanya anak lelaki nomor dua yang sering terlihat datang mengunjungi, itu pun hanya beberapa kali dalam seminggu, bisa dihitung dengan jari. Anak perempuan yang tinggal di Surabaya hanya datang dua kali, aku ingat betul.

Sedangkan anak yang pertama sama sekali gak pernah terlihat.
Ibu Juwita lebih banyak sendirian, hanya kami perawat yang setia menemani.

Kami juga jadi terbiasa mendengar sayup-sayup senandung tembang Jawa yang beliau nyanyikan sebelum tidur, hampir setiap malam.
Hingga akhirnya, pada suatu malam di bulan Maret, karena kondisinya yang sudah amat sangat lemah dan sudah gak tertolong lagi, beliau menghembuskan nafas terakhir.
Ibu Juwita meninggal dunia..
***
Singkat cerita, ketika jenazah Ibu Juwita sudah dibawa pulang oleh keluarga, ruangan tempatnya dirawat kami bereskan lagi menjadi seperti semula.

Kami, yang merawatnya selama beliau di rumah sakit, tentu saja merasa kehilangan, sosok yang ramah dan baik hati itu harus pergi untuk selamanya karna kondisi yang memang sudah sangat berat untuk sembuh.
Salah satu bagian terberat dalam melaksanakan pekerjaan ini..
***
April 2017, jam satu malam.
Bel ruangan nomor sebelas berbunyi, pertanda kalau pasien di dalamnya memerlukan bantuan.

Aku langsung bergegas ke ruangan itu. Pasien ruangan nomor sebelas kali ini berumur 42 tahun, pasien korban kecelakaan.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?” Ucapku ketika sudah berada di dalam.
Perlahan dia menggenggam dan  menarik tanganku agar aku jadi lebih mendekat lagi.

Setelah sudah cukup dekat, dengan suara nyaris berbisik dia bilang:
“Ada suara perempuan bernyanyi di kamar mandi sus..”

Cukup kaget aku mendengarnya, tapi dengan tenang aku bilang:
“Itu mungkin suara dari televisi Pak,”
Lalu aku berjalan ke kamar mandi dan membuka pintunya, kosong gak ada siapa-siapa.
“Tuh Pak, kosong. Bapak istirahat saja ya, supaya lekas membaik.”

Bapak itu hanya diam sambil masih tetap menunjukkan raut wajah was-was.

Setelah itu aku keluar, kembali ke meja perawat.
Itu salah satu cerita pasien yang kebetulan dirawat di kamar nomor 11, kamar yang beberapa minggu sebelumnya dihuni oleh almarhumah Ibu Juwita..
***
Sudah beberapa kali aku dan teman-teman perawat lain membahasnya, kamar yang pernah menjadi ruang perawatan Ibu Juwita.

Beberapa teman cerita, kalau mereka beberapa kali mendengar atau merasakan hal aneh ketika sedang berada di dalam kamar itu, atau pun ketika hanya sedang melintas di depannya.

Sering kali terdengar suara perempuan bernyanyi atau sekadar bersenandung. Suara yang menyanyikan tembang Jawa.
Suara nyanyian perempuan itu bersumber dari dalam kamar.

Ada teman perawat yang akhirnya punya keberanian untuk membuka pintu kamar, yang pada saat itu memang dalam keadaan kosong, ketika nyanyian kembali terdengar. Dia gak menemukan apa-apa, kamar benar dalam keadaan benar kosong, tapi sekujur tubuhnya langsung merinding hebat.

Tanpa pikir panjang dia langsung pergi meninggalkan ruangan.
Ada pula rekan bagian kebersihan yang mengalami peristiwa yang seram juga. Dia tiba-tiba melihat sosok perempuan yang mirip dengan Ibu Juwita tengah terbaring di atas tempat tidur. Tanpa pikir panjang, temanku ini langsung terbirit-birit ke luar ruangan saat itu juga.

Banyak kejadian aneh yang menimpa mereka, sedangkan aku sama sekali belum pernah merasakannya.
Sampai pada suatu malam, akhirnya aku alami juga kejadian seram yang mungkin akan aku ingat selama hidup.
***
Malam itu, hanya ada tiga ruangan yang berisi pasien, sisanya kosong, termasuk ruangan nomor sebelas.

Kebetulan aku kebagian shift malam, bersama dengan dua rekan lainnya kami bertugas di lantai itu.

Setelah semua pembesuk sudah pergi, suasana kembali menjadi sangat sepi dan senyap, apa lagi ketika malam beranjak larut.
“Rida, kami ke lantai satu dulu ya, ada yang butuh bantuan.”
Suara Ida mengagetkanku, membuyarkan lamunan.
“Iya, tapi jangan lama-lama ya.”

Jawabku kemudian.
Waktu itu jam dua belas malam, ketika akhirnya aku sendirian, duduk di meja depan ruang perawat.
Hingga tiba saatnya aku harus mengunjungi ruang pasien satu persatu, memeriksa keadaan dan melakukan keperluan lainnya.
***
Pasien yang ada di ruangan paling ujung adalah pasien yang paling terakhir aku kunjungi.

Untuk menuju ruangan itu aku harus berjalan melintas depan ruangan nomor sebelas, ruangan Ibu Juwita.

Saat melewatinya pertama kali, gak ada kejadian apa-apa, aku pun gak merasakan ada hal aneh, normal, kamar dalam keadaan gelap dan sunyi, lalu aku meneruskan langkah menuju pasien paling ujung.

Setelah semuanya selesai, aku kembali berjalan ke ruang perawat, untuk itu aku harus melewati kamar sebelas lagi.

Nah pada saat inilah aku melihat hal aneh.
Dari luar, terlihat dari jendelanya kalau lampu kamar sebelas menyala terang, padahal tadi waktu lewat pertama kali keadaannya gelap, lampu mati semua.

Tanpa berpikir macam-macam aku langsung masuk ke ruangan itu.
Benar, lampunya menyala semuanya, termasuk yang ada di atas tempat tidur.

Lalu aku langsung mematikan semua lampu.
Setelah ruangan sudah menjadi gelap, tiba-tiba sesuatu terjadi..
Aku mendengar ada suara perempuan yang sedang bersenandung..

Suara yang bersumber dari dalam kamar mandi.
Nyanyian tembang jawa, yang aku ingat dulu Ibu juwita sering menyanyikannya sebelum tidur.

Merinding, aku langsung bergegas ke luar ruangan.
Sesampainya di meja, aku langsung duduk sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi,
“Akhirnya aku merasakan apa yang sudah pernah teman-temanku rasakan.” Begitu gumamku dalam hati.

Di hadapanku ada lorong panjang yang lampunya sengaja kami biarkan dalam keadaan redup ketika malam hari. Pintu-pintu ruang rawat pasien berada pada kanan dan kiri lorong, ruangan nomor sebelas berada di sebelah kanan.

Aku hanya bisa melamun sendirian memandang ke lorong itu, hingga tiba-tiba ada sesuatu yang mengagetkanku..
Ada bel berbunyi, bel yang menandakan kalau ada pasien yang membutuhkan bantuan di dalam ruangannya.

Aku terkejut, aku kaget, karna bel yang berbunyi adalah bel dari ruangan sebelas. Ruangan Ibu Juwita..

Beberapa saat lamanya bel itu terus menerus berbunyi, aku berusaha untuk gak menghiraukan karna ketakutan, hingga akhirnya bunyi bel berhenti sendiri.
Cukup lega, tapi gak lama..

Suasana kembali menjadi hening dan sepi, ditambah dengan perasaanku yang semakin gak karuan, membuat keadaan semakin mencekam.
***
Aku langsung memicingkan mata memandang ke lorong, ketika mendengar sesuatu..
Berusaha mencari tahu sumber suaranya.

Ternyata yang kudengar adalah suara pintu yang terbuka.
Pintu ruangan yang letaknya di dekat ujung lorong, tapi aku belum tahu ruangan yang mana.

Terus aku perhatikan lorong itu, sampai kemudian ada sesuatu yang terjadi..

Dari kejauhan, aku melihat ada sosok yang berjalan keluar, kemudian berdiri di depan pintu, menghadap pintu ruangan lain yang ada di hadapannya.

Sosok perempuan berambut panjang, mengenakan jubah pasien, berdiri diam sambil tangan kirinya memegang tiang botol infus.
Sosok itu keluar dari dalam kamar nomor sebelas.
Aku terpaku, diam gak mampu berbuat apa-apa. Tubuh kaku gak bisa digerakkan sama sekali.

Kemudian, perlahan sosok perempuan itu memutar tubuhnya, jadi menghadap ke arah tempat aku duduk. Dalam keadaan lampu yang temaram, Aku yang melihat dari kejauhan sangat yakin kalau sosok itu mirip dengan Ibu Juwita.

Tubuhku gemetar, ketakutan, ketika pelan-pelan dia berjalan mendekat.
Gak kuat, aku menundukkan kepala, gak berani menatap ke depan.
“Rrrrr..rrrrr..rrrr.”
Suara roda tiang gantungan botol infus yang bergulir di atas lantai, terdengar ditarik, ditarik mendekat ke arah tempat aku duduk.
Aku masih menundukkan wajah, gak berani melihat.
“Rrrrr..rrrrr..rrrr.”
Suaranya semakin dekat dan semakin dekat..
Sampai akhirnya berhenti berbunyi..

Dalam keadaan menunduk, aku sangat yakin kalau sosok yang berjalan membawa tiang infus itu sudah berdiri tepat di hadapan.

Nyaris menangis, aku ketakutan.
Semakin ketakutan, ketika mulai terdengar pelan senandung nyanyian tembang jawa, suara senandung yang sumbernya sangat dekat.
Tubuhku bergetar hebat, cukup lama peristiwa ini berlangsung.
Sampai akhirnya, sambil menangis aku memaksa diri untuk mengangkat wajah.

Benar, sosok Ibu Juwita sedang berdiri di hadapan, tangan kirinya memegang tiang infus. Mengenakan jubah pasien berwarna biru, rambut putih panjangnya tergerai, wajahnya pucat tanpa ekspresi. Iya, datar tanpa ekspresi..

Kami berhadapan selama beberapa saat..

Dalam ketakutan, akhirnya aku mulai bisa untuk berdoa di dalam hati.
Lalu perlahan aku kembali menundukkan wajah, sambil terus berdoa.
Lama kelamaan senandung nyanyian menghilang, hingga akhirnya gak terdengar lagi.

Ketika sudah muncul keberanian, aku mengangkat wajah, sosok Ibu Juwita sudah gak terlihat lagi, hanya lorong gelap kosong yang ada di hadapan.
Gak berapa lama kemudian, dua rekanku berdatangan.
Selesai..
***
Itu adalah satu dari peristiwa yang aku dan teman-teman alami di rumah sakit. Banyak peristiwa aneh dan gak masuk akal.
Nanti satu persatu akan aku ceritakan semuanya, dengan bantuan Mas Brii tentu saja.

Oh iya, ada cerita yang cukup banyak orang tahu di rumah sakit ini, cerita tentang suster Belanda. Suster Belanda yang sering terlihat penampakannya, nanti kapan-kapan aku ceritakan.
***
Hai..
Balik ke gw ya, Brii.. 😊
Tadi adalah satu kejadian yang dialami oleh salah seorang teman, mungkin akan panjang kisahnya, dan pasti seru..Tunggu aja.
Cukup sekian cerita malam ini.
Met bobo, selamat beristirahat.
Salam,~Brii~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *