Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Rumah Teteh Chapter 2

Rumah Teteh Chapter 2


Bandung, sekitar tahun 2007, udaranya masih tergolong dingin. Suhu bisa menyentuh empat belas derajat celcius.

Kabut masih terlihat tebal pada pagi hari, ketika gw berjalan kaki dari Ciumbuleuit menuju Dipatiukur.

Dan yang lebih seru lagi, waktu kamar mandi kost masih menggunakan bak mandi, setiap subuh permukaan airnya membeku, alias menjadi lempengan es karena begitu dinginnya.

Tapi memang dipengaruhi juga oleh faktor karena daerah Ciumbuleuit–Dago-Dipatiukur masih termasuk wilayah Bandung bagian dataran tinggi.

***

Hujan angin disertai petir menemani gw membereskan barang-barang di kamar kost yang lama. Cuaca waktu itu memang sedang di tengah musim penghujan.

Sebenarnya cukup berat meninggalkan kost di Ciumbuleuit, selama tiga tahun lebih gw tinggal di sana. Ibu dan Bapak pemilik kost sangat baik. Walaupun terhitung masih keluarga jauh, tapi mereka memperlakukan gw seperti anak sendiri.

Tapi karena keinginan untuk mencari suasana baru dan tinggal satu rumah dengan teman-teman dekat, membulatkan tekad gw untuk pindah ke tempat kost yang baru.

***

Setelah barang-barang sudah terbungkus rapih, gw pamit berangkat pindah ke kost baru. Tempat dimana dua tahun kedepannya akan terjadi banyak cerita yang akan gw ingat seumur hidup.

***

Untuk kedua kalinya gw menginjakkan kaki di rumah itu, rumah besar bercat putih dengan bangunan bergaya arsitektur tahun 80-an.

Fisiknya sudah bagus dan rapih, karena memang baru saja selesai direnovasi. Halaman cukup luas dan bersih.

Gw mengetuk pintu rumah, gak lama kemudian ada yang membukanya.

Muncul dari balik pintu, seorang perempuan dengan senyum dibibirnya.

“Hai, Aku Sisi anaknya Ibu Lusi..” Ucapnya sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

Ternyata Sisi namanya,

“Oh, aku Brii, salah satu orang yang akan kost di sini..” jawab gw dengan senyuman.

Selanjutnya gw dipersilahkan masuk.

Sisi adalah anak pertama dari Tante Lusi. Perempuan berumur sekitar 21 tahun, berparas cantik, badan tinggi langsing berambut panjang hingga menutupi punggungnya.

Itulah kali pertama gw bertemu Sisi, perempuan ramah dan terlihat memiliki perilaku yang baik.

Cukup lama kami berbincang dalam rangka memperkenalkan diri masing-masing. Ternyata Sisi berkuliah di tempat yg sama dengan gw, hanya berbeda jurusan dan angkatan.

Gak lama kemudian, muncul satu perempuan lagi dari tangga yang menuju lantai atas.

“Hai mas, Aku Memi.” ucap perempuan itu sambil menjulurkan tangannya sambil mengajak bersalaman.

“Oh..ini yang namanya Memi” jawab gw sumringah.

Memi, adik dari Sisi, berbeda jauh dengan penampilan kakaknya. Dia berambut pendek layaknya laki-laki, berkulit lebih gelap dari Sisi.

Berpenampilan tomboy, bercelana jeans dan memakai kaos band metal, gak ketinggalan aksesoris gelang dan cincin menghiasi tangannya. Wajahnya ber-makeup gothic dengan eye liner hitam di bawah mata ditambah dengan tindikan pada hidungnya. 

Anak metal, penampilannya berbeda jauh dengan kakaknya.

Setelah itu kami bertiga malanjutkan perbincangan di ruang tengah. Banyak yang mereka ceritakan, mulai dari kampus tempat mereka kuliah, hingga tentang keluarga.

Begitu juga dengan gw, menceritakan hal-hal yang menurut gw penting untuk mereka ketahui. Pada intinya, gw bilang bahwa kami berlima adalah anak-anak yang baik dan bisa menjaga kerpecayaan yang sudah Tante Lusi berikan untuk tinggal di rumah itu.

Ada hal unik tentang Sisi, dia bilang kalau dia memiliki kebiasaan yang agak aneh, yaitu “Tidur berjalan”.

Iya, Sisi punya kebiasaan yang menarik perhatian gw, kadang Sisi berjalan dalam keadaan tidur. Makanya Sisi berpesan agar gw dan teman-teman gak kaget apabila suatu ketika melihatnya berjalan dalam keadaan tidur.

Menarik, karena sebelumnya gw sama sekali belum pernah melihat ada orang yang memiliki kebiasaan ini.

***

Pada saat itu gw mangambil kesimpulan, bahwa Sisi dan Memi adalah dua perempuan muda yang menyenangkan, ramah, suka untuk bercerita.

Setelah cukup lama berbincang di ruang tengah, gw meminta izin untuk membereskan barang-barang dan menyusunnya di dalam kamar.
Selanjutnya mereka ke kamar atas, kamarnya masing-masing.

Pada waktu memutuskan untuk tinggal di rumah itu, kami langsung membagi-bagi tempat, siapa tinggal di kamar yang mana.Begini pembagiannya:1.Kamar gw 2.Kosong 3.Irwan 4.Doni 5.Asep 6.Nando
Dan inilah denah rumahnya:

Kamar Nando gak terlihat di dalam denah, kamarnya paling belakang, bersebelahan dengan gudang, berhadapan dengan taman kecil.

Kamar gw kira-kira berukuran 5 x 4 meter, sudah disediakan tempat tidur, lemari pakaian, dan meja belajar. Kamar yang lainnya juga berisi perabotan yang sama, yang membedakan adalah luas kamarnya, kamar yang paling besar adalah kamar yang gw tempati.

Bisa dibilang kami cukup beruntung bisa tinggal di rumah itu, disamping letaknya yang strategis –gak di pusat kota, tapi bukan di pinggir kota juga— harga sewa per kamarnya pun tergolong murah, hanya setengah dari harga pasaran kost-kostan di Bandung pada saat itu.

Dengan harga yang sudah cukup murah itu, kami mendapatkan tempat tinggal dengan fasilitas yang lengkap, termasuk dapur dan perlengkapannya.

Kami cukup senang tinggal di rumah itu, pada awalnya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *