Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Rumah Teteh Chapter 1 (Circa 2007)

Rumah Teteh Chapter 1 (Circa 2007)

“Brii…Brii…”

“Tok..tok..tok”

Suara panggilan dan dibarengi dengan ketukan pintu membangunkan gw dari tidur siang. Mata langsung melirik ke arah jam, baru jam empat sore,

“Padahal janjinya juga habis maghrib..” gumam gw dalam hati.

Hari itu memang gw ada janji dengan Nando untuk melihat rumah yang rencananya akan kami jadikan tempat kost. Rumah yang terletak di daerah Cikutra, Bandung.

***

Selama tahun-tahun terakhir masa kuliah, gw berteman akrab dengan empat orang kawan, Asep, Nando, Doni, dan Irwan. Semuanya berasal dari luar pulau Jawa, kecuali Asep.

Nando, Doni, dan Irwan adalah mahasiswa yang berasal dari Sumatera.

Nah kalau Asep berbeda sendiri, dia orang sunda asli, orang tuanya tinggal di Cimahi, masih Jawa Barat, gak terlalu jauh dari kota Bandung.

Gw Brii, lahir dan besar di Cilegon, Banten. Kota kecil yang letaknya ada di ujung Barat pulau Jawa.
Gw satu kampus dengan Irwan dan Asep, sedangkan Nando dan Doni berbeda kampus, Asep yang memperkenalkan kami semua.

Empat teman inilah yang menurut gw pada waktu itu paling seiring sejalan.

***

Seiring berjalannya waktu, ketika kami sudah semakin akrab, muncul ide untuk tinggal di satu tempat kost.
Kami pikir, akan lebih menyenangkan apabila dapat tinggal dalam satu tempat.

Maka muncul ide agar mencari rumah saja sekalian, rumah yang dapat menampung kami semua.
Tanpa diduga, gak memakan waktu lama, kami langsung mendapatkan rumah yang cukup bagus.

Kebetulan, ada seorang teman kampus, Rudi namanya, dia bilang kalau ada rumah yang akan dikontrakkan, terletak persis di depan tempat Rudi tinggal. Menurut Rudi, rumahnya cukup besar, tapi sudah kosong cukup lama, sehingga sepintas terlihat tidak terawat.

Hingga pada akhirnya rumah tersebut dibeli oleh sepasang suami istri yang berasal dari Sumatera.

Niat awal mereka membeli rumah tersebut, untuk memberikan tempat tinggal dua anak perempuannya yang sedang kuliah di Bandung. Tapi dengan kondisi rumah yang cukup besar, maka mereka memutuskan menjadikan sisa kamar yang tak terpakai untuk kamar kost.

Setelah membelinya, mereka lantas langsung memperbaiki rumah tersebut, tanpa merubah struktur bangunannya.

Tentu saja kami tertarik dengan rumah ini, karena menurut Rudi rumahnya memiliki kamar yang banyak. Selain itu juga letaknya dekat dengan kampus, gak terlalu jauh dengan pusat keramaian.

Gw dan Nando mewakili teman lainnya, memutuskan untuk melihat rumah itu secara langsung, survey lah kira-kira namanya.

***

Dengan langkah sedikit malas gw membuka pintu, benar saja, memang Nando yang berada di balik pintu dengan senyum khasnya.

“Baru jam empat ini Ndo, semangat amat sih lo..” ucap gw saat itu.

“Sekalian gw keluar Brii…hehe” balas nando.

Selepas isya kami berangkat, menuju daerah yang bernama Cikutra, gak jauh dari taman makam pahlawan.

Perjalanan gak memakan waktu lama dari Ciumbuleuit, gak terlalu jauh.
Setengah jam kemudian, kami sampai di tujuan.

***

Rumah besar dengan halaman yang luas, kira-kira cukup untuk tiga mobil, terlihat sudah rapih dan bersih, karena mungkin seperti yang Rudi bilang tadi, rumah ini baru saja diperbaiki oleh pemilik barunya.

Setelah memarkirkan mobil, kami turun dan langsung menuju pintu utama.

Cukup lama kami menunggu setelah mengetuk pintu, hingga akhirnya muncul seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik.

Oh iya, sebelumnya Rudi sudah bilang kepada pemilik rumah kalau kami akan datang untuk melihat rumah.

“Brii ya? Saya Lusi..” itulah ucapan pertama yang keluar dari mulut sang pemilik rumah, mulai sejak saat itu kami memanggilnya dengan panggilan “Tante Lusi”.

Setelah memperkenalkan diri, kami dipersilahkan masuk.

Perempuan ramah dengan penampilan yang cukup modis. Perawakannya tinggi proporsional berkulit putih berambut panjang, dengan senyuman yang gak pernah lepas dari wajahnya.

Kami langsung menuju ruang tengah, berjalan melewati ruang tamu dan tangga yang menuju ke kamar atas.

Di ruang tengah terdapat sofa kulit panjang dengan meja dihadapannya, kami duduk di situ.

Tante Lusi membuka percakapan dengan menceritakan awal mula dia dan suami memutuskan untuk membeli rumah itu.

Gak lupa juga beliau menceritakan tentang dua anak perempuannya yang sedang berkuliah di Bandung. mereka bernama Sisi dan Memi, Sisi lebih tua satu tahun lebih dari Memi.

Sofa tempat kami duduk itu berhadapan langsung dengan tangga menuju lantai atas.

Tangga sangat gelap, entah memang dibiarkan lampunya dalam keadaan mati atau memang begitu adanya, saat itu gw gak tahu.

Cukup lama kami berbincang di ruang tengah, sampai Tante Lusi mengajak kami untuk melihat-lihat ke bagian belakang.

Pada akhirnya hanya Nando yang ikut ke belakang, gw memisahkan diri untuk melihat-lihat bagian rumah lainnya sendirian.

Ada lima kamar yang berada di lantai satu, dua kamar di lantai atas. Tapi ada satu kamar lagi di bagian belakang rumah, kamar belakang ini bersebelahan dengan kamar kecil yang nantinya kami fungsikan sebagai gudang. Kamar paling belakang ini nantinya akan ditempati oleh Nando.

Ruang tengah memanjang ke belakang, menyambung menjadi satu dengan meja makan berbahan kaca yang bundar dan cukup besar, ada beberapa kursi mengelilinginya.

Nah, di sebelah kiri meja makan ini ada dapur, yang berisi kulkas, kompor, dan lain sebagainya, dilengkapi dengan tempat mencuci piring. Dapur yang cukup bersih dan nyaman.

Dari dapur ini gw dapat melihat ke ruang tengah, walaupun cukup jauh..

Ketika gw sedang memperhatikan dapur dan meja makan inilah, tiba-tiba..

Tiba-tiba, sekilas gw melihat perempuan berjalan keluar dari kamar yang letaknya di paling depan,

Perempuan itu berjalan menuju tangga, naik ke lantai dua.

Walau hanya beberapa detik dan gak sempat beradu pandang, tapi dengan jelas gw dapat melihat perawakan perempuan ini.

Perempuan berambut panjang dan berperawakan cukup tinggi, mengenakan daster sebatas lutut dengan motif bunga.

“Oh, jadi itu anak perempuan Tante Lusi, cakep juga..” Ucap gw dalam hati, masih belum ada pikiran macam-macam.

Kamar paling depan, yang baru saja gw lihat ada perempuan keluar dari dalamnya itu, nantinya yang akan menjadi tempat gw tinggal dalam dua tahun ke depan.

Akan banyak kejadian-kejadian seram yang gak akan gw lupakan sepanjang hidup.

***

Gak lama kemudian, Tante Lusi dan Nando muncul dari halaman belakang, lalu kami kembali berbincang di ruang tengah.

Gw gak sempat tanya-tanya mengenai perempuan yang gw baru saja lihat, karena Tante Lusi terus saja bercerita mengenai rumah itu dan hal lainnya.

Namun tiba-tiba, mata gw tertarik untuk melihat sesuatu di belakang rumah.

Dari sela-sela jendela ruang makan yang terhubung langsung dengan halaman belakang, gw melihat perempuan yang sedang berdiri di dalam gelap.

Gw sedikit memicingkan mata untuk memastikan kalau itu benar-benar sosok perempuan.

Dan ternyata benar, itu adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang gw lihat tadi. Gw ingat dengan perawakan dan rambut panjangnya, dengan menggunakan baju yang sama pula.

Kenapa bisa perempuan itu tiba-tiba sudah ada di halaman belakang lagi?, itu pertanyaan yang muncul di benak.

Waktu itu gw langsung berpikir, mungkin saja memang ada tangga yang menghubungkan lantai atas dengan halaman belakang di lantai bawah.

Tapi sekali lagi, sebelum gw sempat menanyakan hal itu kepada Tante Lusi, dia selalu kembali berbicara mengenai hal-hal lain. Gak sempat cerita juga pada akhirnya.

Tante Lusi ini tipikal orang yang senang berbincang tentang hal apa pun,

Kami bilang bahwa kami terdiri dari lima orang, semuanya akan menempati rumah ini nantinya.

Karena kami hanya berlima, sedangkan kamar di lantai bawah ada enam, maka tante Lusi mempersilahkan untuk mencari orang lain untuk menempati satu kamar yang tersisa.

Tante Lusi hanya berpesan, apabila nantinya kami jadi menempati rumah ini, maka beliau mohon untuk menjaganya dengan baik, hindari perilaku negatif. Kami mengangguk setuju.

Setelah dirasa cukup berbincang panjang lebar, dan yang paling penting adalah harga yang ditawarkan tante Lusi cukup bagus, maka mewakili teman-teman lainnya, kami bilang bahwa kami setuju untuk mengontrak di rumah itu.

Tante Lusi terlihat senang mendengarnya. Karena dia bilang, Rudi dan keluarganya sudah memberikan rekomendasi yang bagus tentang kami.
Di akhir perbincangan, beliau mempersilahkan kami untuk pindah ke rumah itu secepatnya.

***

Sekitar jam Sembilan malam, gw dan Nando pamit pulang.

Kemudian kami keluar rumah lalu menuju mobil,

Ketika gw sudah duduk di belakang kemudi, sekali lagi gw melihat sesuatu..

Gw melihat ada perempuan berdiri di balkon teras atas rumah..

Perempuan itu perawakannya persis dengan perempuan yang gw lihat di dalam rumah tadi.

Tetapi kali ini wajahnya agak sedikit terlihat, memandang ke arah mobil.

Karena lampu teras atas agak gelap, gw jadi gak terlalu jelas melihat wajahnya. Tapi gw yakin, itu adalah perempuan yang sama.

***

Dalam perjalanan pulang Gw dan Nando berbincang mengenai rumah itu, Nando cukup senang setelah melihatnya, gw juga.

Sampailah ketika kami mulai membahas mengenai dua anak perempuan tante Lusi.

“Ndo, anaknya Tante Lusi cakep juga ya, kayak model.” gw membuka perbincangan sambil cengengesan.

“Emangnya lo liat anaknya Tante dimana Brii..?.”

Kemudian gw mulai menceritakan semuanya, kalau gw beberapa kali melihat perempuan di rumah itu selain tante lusi, gw pikir itu adalah salah satu anak Tante lusi.

Jawaban Nando berikutnya membuat gw kaget,

“Brii.., tadi Tante Lusi di rumah sendirian. Suaminya menunggu di hotel. Beliau sengaja datang ke rumah itu hanya untuk menemui kita, setelah itu dia kembali ke hotel lagi. Dia tadi juga bilang, kalau kedua anaknya masih berada di Sunatera.”

Gw kaget mendengar omongan Nando, terus siapa perempuan yang gw lihat tadi?

***

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib ditandai *