Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
RHDPK #8

RHDPK #8

Di atas motor, cukup lama kami terdiam, tidak berbicara satu sama lain. Amri memacu kendaraan dengan kencang, sepertinya dia ingin cepat sampai di kota.

Sementara aku, hanya diam sambil sesekali melirik ke arah belakang.
Keadaan perkebunan karet yang sangat gelap, membuat penglihatan hanya bergantung pada cahaya lampu motor, lampu motor yang hanya mampu menerangi sebagian kecil sudut pandang, selebihnya hanya hitam pekat yang terlihat.

Aku masih terbayang dengan kejadian yang baru saja kami alami di rumah, masih gemetar ketakutan.
Perasaan masih tidak enak,
dan semakin tidak enak lagi ketika sayup-sayup terdengar suara yang sama persis dengan suara di rumah tadi.

“Creek…creeekk…creek..”

Suara itu terdengar dari belakang..

Awalnya berpikir kalau itu mungkin hanya perasaanku saja, mungkin hanya halusinasi saja.

Ketika kecepatan motor mulai melambat karena sedang melaui jalan yang kondisinya buruk dan menanjak, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.

Terhenyak kaget, jantung serasa berhenti berdegup..
Aku melihat pocong yang sedang melayang rendah mengikuti kami dari belakang..!

Pocong yang bentuknya sama persis dengan pocong di rumah tadi.

Sebegitu ketakutannya, sampai-sampai tidak sadar kalau tanganku mencengkram pinggang Amri dengan kuat.

“Wahyu ada apa? Sakit pinggangku kau cengkram.” Begitu Amri bilang.

“Pocong tadi mengikuti dari belakang, kita harus lebih cepat.”

Aku menjawab pertanyaan Amri dengan suara yang pelan dan gemetar.

Amri kaget dan ketakutan, kemudian berusaha mempercepat laju motor.

Namun sayang, usaha Amri tidak menuai hasil, motor tuanya tetap melaju pelan, tidak sanggup melewati jalan bergelombang dan menanjak itu dengan cepat.

“Creek..creeek..creek..”

Sayup-sayup kudengar suara itu lagi, kali ini terdengar lebih dekat.

Aku tidak berani menoleh lagi ke belakang, hanya menundukkan kepala dan mencengkram tubuh Amri dengan kuat. Aku sangat ketakutan..

“Amri, pocong itu ada persis di belakang kita..” Hampir menangis aku berkata seperti itu.

“Creek..creeek..creek..”

Aku berdoa semoga motor dapat terus melaju walau perlahan, kami harus cepat meninggalkan perkebunan karet ini.

Beberapa saat kemudian, masih dalam posisi kepala menunduk, aku merasa kalau jalan sudah tidak lagi menanjak, motor sudah terasa lebih cepat berjalan.

Masih menundukkan kepala dan memejamkan mata, aku tidak mau melihat keadaan sekitar.

Motor melaju semakin cepat,

Beberapa menit kemudian akhirnya aku memberanikan diri membuka mata, mencoba melihat sekitar.

Ternyata kami sudah keluar dari perkebunan karet, dalam jalur melewati hutan yang berada di pinggir perkebunan.

Agak sedikit tenang, karena kalau sudah sampai di hutan berarti sebentar lagi kami akan masuk ke perkampungan, tiba di kota setelahnya.

Aku melirik ke belakang, pocong itu sudah tidak terlihat lagi, suaranya juga sudah tidak terdengar lagi..

“Sudah aman Am, jangan terlalu ngebut, hati-hati..” Ucapku kepada Amri.

Laju motor mulai melambat, tetapi di sisa perjalanan kami masih tetap saling diam tanpa perbincangan.

***

“Sudahlah Yu, kamu tinggal di sini saja sampai atasanmu itu datang. Aku tidak tega membiarkanmu sendirian di perkebunan angker itu..”

Amri berbicara seperti itu ketika kami sudah sampai di rumah kontrakannya.

Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, tapi kami masih tetap segar tanpa mengantuk sedikit pun.

Aku menghisap rokok dalam-dalam, mempertimbangkan saran Amri.

Tidak bisa dipungkiri, hari-hari pertama tinggal di rumah dan perkebunan itu membuatku sangat trauma, ketakutan. Aku merasa kalau nanti ke depannya, teror akan terus berlanjut, teror yang mungkin akan lebih menyeramkan.

Aku berniat nanti setelah atasanku datang, aku akan membicarakan hal ini, akan kuceritakan semuanya, nanti dia pasti bisa mencari solusinya.

“Iya Am, sambil menunggu atasanku datang aku akan tinggal bersama kamu di sini, aku tidak berani sendiri di sana..”

“Bagus kalau begitu..” Amri menimpali dengan wajah yang terlihat lega.

“Oh iya, besok malam aku akan berangkat ke Palembang selama beberapa hari. Kamu peganglah kunci rumah ini.” Lanjut Amri.

“Iya Am..”

Perbincangan selesai, Amri langsung tertidur pulas, sementara aku masih saja termenung melamunkan peristiwa yang baru saja terjadi.

Masih terbayang jelas wajah dan bentuk pocong itu, suaranya, dan juga bau kentang yang mengiringi kedatangannya.

Masih sangat menempel di kepala..

Sampai adzan subuh berkumandang, aku masih belum juga tertidur.
Hasilnya, pada malam itu aku tidak tidursama sekali.

***

“Aku tunggu kamu di sini saja ya, aku mau istirahat seharian ini. Nanti sore kamu harus pulang ke sini lagi, jangan nekat..”

Begitu ucap Amri ketika aku berpamitan kembali ke perkebunan untuk melanjutkan pekerjaanku lagi.

Iya, Amri tidak ikut ke perkebunan walaupun sebenarnya hari itu dia masih libur bekerja.

***

Sekitar jam enam pagi, aku sudah berada di atas motor yang melaju dengan kecepatan sedang menuju perkebunan.

Dengan kondisi badan yang masih lemas karena tidak tidur semalaman, aku memaksa diri untuk tetap menunaikan kewajiban, melanjutkan pekerjaan yang masih belum selesai.

Sinar matahari pagi yang terlihat dari ufuk timur sedikit bisa menghangatkan tubuh yang kedinginan diterpa angin selama dalam perjalanan.

Kabut dan embun pagi terlihat masih menyelimuti kawasan hutan ketika aku mulai memasukinya wilayahnya.

Suasananya sangat berbeda bila dibandingkan ketika aku dan Amri melalui jalan yang sama pada malam sebelumnya, kali ini keadaannya sama sekali tidak menyeramkan, indah yang ada.

Sesekali aku mengusap wajah untuk menghilangkan ngantuk, mata terasa mulai berat untuk melihat, tapi tetap memaksa diri untuk terus berjalan.

Setelah melewati wilayah hutan, akhirnya mulai memasuki kawasan perkebunan karet.

Sinar matahari menembus sela-sela pepohonan, perlahan mulai mengusir kabut yang sebelumnya mendominasi pemandangan.

***

Pak Rusli dan beberapa pekerja sudah berkumpul di depan rumah ketika akhirnya aku sampai.

“Kamu menginap di mana Yu?” Tanya Pak Rusli.

“Menginap di rumah kawan di kota Pak.” Jawabku.

Selanjutnya aku masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.

Aku masih trauma melihat isi rumah, kejadian semalam masih sangat membekas di kepala. Untungnya aku sudah membulatkan tekad untuk tidak akan bermalam sendirian di rumah ini lagi, tidak berani.

***

Hari itu kami lanjut membersihkan perkebunan. Menurut perkiraanku, dalam beberapa hari prosesnya akan selesai, lalu kami akan masuk ke tahapan selanjutnya sebelum akhirnya akan memulai proses penyadapan.

Para pekerja sangat bersemangat dalam menjalankan pekerjaan, mereka melakukannya sambil berbincang satu sama lain, terkadang diselingi dengan canda tawa senda gurau, aku sesekali tersenyum menyaksikannya, dengan begitu aku menjadi yakin kalau mereka semua bekerja dengan sepenuh hati.

Sedangkan aku, badan terasa sangat lemas dan lesu, karena tidak tidur semalaman. Tapi walaupun begitu, aku harus tetapbmengawasi para pekerja.

Aku berharap sore cepat tiba, dengan begitu aku dapat langsung menuju rumah Amri untuk beristirahat.

***

Akhirnya, sudah jam lima sore, selesai pekerjaan pada hari itu.

Seperti sebelum-sebelumnya, kami berkumpul terlebih dahulu di depan rumah sebelum membubarkan diri.

Aku dan Pak Rusli memberikan sedikit pengarahan dan berbincang ringan.

Matahari sudah bersandar di ufuk barat, membuat keadaan semakin beranjak gelap.

Aku yang belum tidur selama 24 jam terakhir berusaha mati-matian menahan kantuk, berusaha untuk tidak tertidur di tempat duduk.

“Kamu kelihatan lelah sekali Wahyu, setelah ini kamu langsung beriatirahat saja, tidurlah..”

Begitu kata Pak Rusli yang melihat tampak lesu dan lemah.

“Iya Pak, setelah ini saya akan istirahat..” Jawabku.

***

Rumah menjadi kosong dan sepi setelah akhirnya semua pekerja telah pulang, termasuk Pak Rusli.

Sementara Aku, masih duduk di teras depan rumah sambil menikmati suasana sore, ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok. Angin yang bertiup sepoi-sepoi menambah relaks tubuhku yang sudah sangat kelelahan.

Aku merencanakan berangkat ke rumah Amri selepas maghrib nanti, tanggung..

Sepuluh menit menuju jam enam, aku masuk ke dalam rumah. Menyalakan lampu petromak dan lampu templok yang ada di dalam kamar. Setelah itu aku ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan mangambil air wudhu.

Syukurlah, kamar mandi dalam keadaan bersih, normal, tidak seperti beberapa waktu sebelumnya yang terlihat kotor.

Jam enam lebih sedikit, waktu maghrib tiba, Aku bersiap untuk melaksanakan sholat..

***

Masih di atas sajadah, aku merasakan kantuk yang teramat sangat ketika sedang terdiam melamun.

Tidak lama kemudian akhirnya aku membereskan semua perlengkapan sholat, lalu berbaring di atas tempat tidur.

Saat itu aku berusaha dengan keras untuk jangan sampai ketiduran, bisa-bisa kebablasan sampai malam, bahaya..

Namun pada akhirnya aku kalah..

Aku tidak dapat menahan rasa kantuk yang hebat ini..

Aku tertidur..

Pulas..

***

Posisi tidur berada di sebelah paling kiri tempat tidur, bukan pada sisi yang menempel tembok. Tubuhku menyamping menghadap lemari pakaian, sementara pintu kamar berada di sebelah kiri lemari.

Begitulah posisi tubuhku ketika tersadar dari tidur..

Setelah sudah benar-bebar tersadar lalu aku mengucek-ngucek mata sambil berusaha melihat jam dinding yang menempel di tembok kamar.

Aku terkejut, ternyata sudah jam dua belas lebih sedikit, aku tertidur selama nyaris enam jam.

“Gawat..”

Suasana sangat sepi, tidak terdengar suara apa pun, tidak ada suara angin maupun suara binatang malam yang biasanya terdengar dari luar.

Sekitar beberapa menit aku tidak merubah posisi tubuh, masih miring menghadap lemari, membelakangi tembok.

Sayup-sayup terdengar lolongan panjang anjing hutan, lolongan yang membuat suasana menjadi menyeramkan, perasaanku mulai tidak enak..

Pintu yang sejak maghrib tadi memang kubiarkan terbuka, tetap dalam keadaan terbuka, karena itulah aku tetap dapat melihat ruang tengah ketika melirik ke arahnya.

Lampu petromak masih menyala, nyalanya meredup dan sedikit berkedap kedip karena sudah terlalu lama menyala tanpa ku pompa.

Hanya lampu templok yang masih menyala dengan konsisten, karena tabung minyak tanahnya masih terisi penuh.

Belum juga berganti posisi, aku melirik jam dinding sekali lagi, ternyata sudah nyaris setengah jam aku melamun.

Apa aku harus pergi saat itu juga menuju ke rumah Amri? Atau lanjutkan tidurku? Itu pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala..

Tapi ketika sedang memikirkan apa yang harus kulakukan, ternyata sesuatu mulai terjadi..

Aku merasakan kalau ada sesuatu di dalam kamar,

Iya, di dalam kamar..

Ternyata aku tidak sendirian..

***

Indera penciuman menangkap aroma yang aku kenal, aroma yang masih melekat di dalam kepala.

Aku mencium kentang rebus..

Aroma yang aku cium pada malam sebelumnya bersama Amri..

Aroma yang katanya menandakan akan kehadiran mahluk yang paling aku takutkan, POCONG..

***

Bau kentang semakin kuat tercium, bersamaan dengan itu suara lolongan panjang anjing hutan semakin sering terdengar, bersahut-sahutan.

Aku memandang ke sekitar dengan perlahan, memperhatikan setiap sudut kamar dengan penuh ketakutan, aku belum melihat apa pun.

Kosong..

Kemudian aku alihkan pandangan ke ruang tengah yang keadaannya semakin redup karena lampu petromak nyaris mati.

Sama, dari sudut pandang yang cukup sempit, aku tidak melihat apa pun di ruang tengah. Kosong juga..

Posisi badan masih belum berubah, masih menyamping dan membelakangi tembok. Aku belum mau mengubah posisi..

Bau kentang semakin kuat tercium.

***

Hingga akhirnya, aku berniat berganti posisi..

Menggulingkan tubuh ke arah kanan, aku berniat untuk mengubah posisi menjadi menghadap ke atas, berbaring menghadap langit-langit kamar.

Perlahan aku bergerak,

Sukses, aku sudah dalam posisi merebahkan badan.
Tapi..

Denyut nadi seperti seketika berhenti ketika terdengar suara, aku mendengar suara desah nafas..

Desah nafas yang terdengar jelas dekat dari telinga kanan.

Jantung berdegup kencang, badanku lemas seketika, ketika tersadar kalau di sebelah kanan ada sosok yang tengah berbaring juga.

Aku belum berani melihat langsung, tetapi walau hanya dari sudut mata, aku dapat melihat kalau sosok yang berbaring dekat tembok adalah sosok yang sangat aku takutkan.

Ada pocong tengah terbaring di sebalah kananku..

***

Badan lemas, tidak dapat ku gerakkan sama sekali.

Aku tidak bisa bergerak, apalagi untuk berdiri dan lari dari tempat itu..

Suara desah nafas dari sosok yang tengah terbaring di sebelah semakin jelas terasa, semakin aku ketakutan, namun aku tetap tidak bisa bergerak, hanya bisa diam mematung..

“Ya Allah, tolonglah hambamu ini…”

Aku memohon kepadaNya agar diberi kekuatan dan keselamatan, terus membaca doa yang aku bisa di dalam hati.

Suasana sangat sepi, lolongan anjing tidak terdengar lagi..

***

Aku semakin ketakutan, ketika terlihat dari sudut mata kalau pocong itu mulai bergerak-gerak.

Aku menahan napas, sangat ketakutan, dengan tubuh yang masih juga belum bisa digerakkan..

Aku melihat, perlahan pocong itu mulai bangkit dari posisi tidurnya. Tubuhnya mulai terangkat, berangsur berubah posisi menjadi duduk, di atas tempat tidur.

Pocong itu duduk di sebelahku, aku dapat melihat punggungnya, wajahnya menghadap tembok kamar.

Aku semakin keras berdoa di dalam hati..

Dalam posisi duduk memunggungi, sang pocong mulai menolehkan kepalanya ke arahku. Sampai akhirnya, aku mulai dapat melihat wajahnya yang hitam legam.

Sudah di ambang pingsan, tubuh gemetar dan aku sudah mulai menangis..

Kemudian, tiba-tiba keajaiban datang, aku dapat menggerakan tubuh, doaku terkabul..

Pelan-pelan bangkit dari posisi tidur..

Aku melihat pocong itu masih saja terdiam duduk memandang ke arahku..

Aku langsung keluar kamar, mengambil kunci motor, keluar rumah, tanpa berani melihat ke belakang lagi.

Sekali lagi, pada tengah malam aku tinggalkan rumah dalam ketakutan. Memacu motor dengan kecepatan tinggi, harus sampai di keramaian secepat-cepatnya.

***

Itu adalah malam terakhir tinggal di rumah sendirian, setelah itu tidak berani lagi bermalam di situ, selanjutnya aku tinggal di rumah Amri sampai Pak Heri datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *