Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
RHDPK #7

RHDPK #7

Malam pertama yang sangat aneh, begitu pikirku sambil duduk di ruang tengah, waktu itu sekitar jam enam pagi. Hari kedua..

Pak Rusli berjanji akan datang bersama banyak pekerja perkebunan. Para pekerja itu yang nantinya akan dipekerjakan sebagai buruh lepas harian penyadap karet.

Aku sudah menyusun kegiatan yang akan kami kerjakan selama satu minggu ke depan.

Yang paling pertama, membersihkan permukaan perkebunan yang nyaris seluruhnya sudah tertutup oleh rumput liar dan daun-daun kering.
Setelah sudah bersih, akan ada beberapa tahapan lagi yang harus dilakukan agar pohon karet siap disadap.

***

Sudah hampir jam tujuh,
Kabut tebal masih menutupi nyaris seluruh wilayah perkebunan, udara sejuk pagi yang menyegarkan menemaniku duduk di teras rumah. Segelas kopi dan sebungkus rokok membawa lamunanku menerawang jauh, lamunan mengenai keadaanku saat itu.

Sampai saat itu, aku masih merasa sangat bersyukur dengan pekerjaan ini, pekerjaan yang aku anggap sebagai jawaban dari doa-doaku dan Ibuku. Walaupun masih honorer, tapi gaji yang nanti akan kuterima jauh lebih besar dari pada penghasilan bekerja serabutan.

Lamunan terhenti ketika serombongan orang yang mengendarai motor berjalan mendekati.

Benar tebakanku, mereka Pak Rusli dan para pekerja perkebunan.

Dimulailah kegiatan pekerjaan hari pertama.

***

Setelah semua orang sudah berkumpul di depan rumah, aku dan pak Rusli memberikan sedikit pengarahan.

Sebagian besar yang akan kami lakukan dalam beberapa hari ke depan adalah membersihkan seluruh area perkebunan yang akan menjadi tanggung jawabku.

Sekitar lima puluh orang pekerja membantuku pada hari itu, hampir seluruhnya adalah orang-orang yang berasal dari kampung-kampung terdekat. Sebagian besarnya lagi juga pernah bekerja di perkebunan ini sebelumnya, beberapa tahun yang lalu sebelum perusahaanku mengambil alih.

Oh iya, Pak Rusli berjanji akan terus mendampingi sampai nanti ketika pimpinanku datang.

Sekitar jam delapan pagi kami memulai kegiatan. Membersihkan permukaan tanah yang sudah dipenuhi rumput liar, ilalang, semak belukar, dan sampah-sampah dedaunan kering.

Dalam proses awal pekerjaan, aku juga sambil mencoba mengenal lingkungan perkebunan dan sekitarnya.

Perkebunan ini sangat luas, sejauh mata memandang yang terlihat hanya barisan pohon karet yang berjajar rapih.

Aku juga ingin nantinya ketika pimpinanku telah datang, aku sudah dapat menjelaskan secara detail mengenai perkebunan dan seluk beluknya, supaya beliau nantinya dapat langsung bekerja tanpa perlu beradaptasi lebih lama lagi.

***

“Dari mana asal kamu dek?.”

Salah satu pekerja bertanya kepadaku ketika kami sedang beristirahat makan siang, umurnya sudah sekitar empat puluh tahun, berperawakan tinggi kurus dengan rambut ikal.

“Saya dari Palembang Pak, Ibu dan adik-adik tinggal di sana.” Jawabku.

“Kamu nanti tinggal dimana selama bekerja di sini?” Tanya Bapak itu lagi.

“Tinggal di rumah yang tadi kita pertama kali kumpul Pak. Saya akan tinggal di rumah itu dengan pimpinan saya nanti. Kebetulan dia belum datang.”

“Jadi, sambil menunggu pimpinan datang, kamu akan tinggal di rumah itu sendirian?, Sampai berapa lama?”

Bapak itu mulai menunjukkan mimik wajah yang aneh, terlihat khawatir, ketika melontarkan pertanyaan terakhir.

“Sekitar tiga bulan lagi pimpinan saya datang, saya akan tinggal sendirian di rumah itu sampai beliau. Memang kenapa Pak?”.
Aku menjawab diakhiri dengan pertanyaan.

“Saran saya, sebaiknya kamu tinggal di kota saja. Lebih baik kamu pulang pergi saja setiap hari. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja di sini beberapa tahun yang lalu. Kurang lebihnya, saya tahu mengenai keadaan perkebunan ini dan rumah yang kamu tinggali itu.”

Bapak itu menjelaskan cukup panjang lebar, cukup juga untukku bertanya-tanya.

“Memang ada apa dengan perkebunan ini Pak? Ada apa dengan rumah itu?”

“Pokoknya, saya sarankan supaya kamu jangan tinggal di rumah itu sendirian. Belum pernah ada orang  yang mampu menempatinya berlama-lama” Jawab Bapak itu lagi.

Aku diam mendengarnya. Tapi sebelum melontarkan pertanyaan lagi, ternyata kami sudah harus melanjutkan pekerjaan, karena matahari sudah mulai condong ke arah barat.

***

Terus terang, pembicaraanku dengan salah satu pekerja tadi menimbulkan banyak pertanyaan.

Ada apa dengan rumah itu?

Kenapa belum ada yang orang yang pernah tinggal lama di rumah itu?
Ada apa?

Melihat kondisinya, rumah sudah dalam keadaan bersih dan nyaman untuk ditinggali, aku hanya harus sedikit memperbaiki beberapa sudut yang masih rusak.

Aku juga berencana untuk menanam rumput dan tanaman di sekelilingya nanti, supaya lebih enak dipandang mata.

Iya, tidak bisa dipungkiri juga kalau pada hari pertama aku mengalami kejadian-kejadian yang menurutku cukup aneh.

Tadi pagi pun, sebelum memulai aktifitas, sekali lagi aku mengalami kejadian yang cukup aneh.

Begini ceritanya..

Aku yakin sekali kalau kemarin sore sudah membersihkan kamar mandi sampai ke setiap sudutnya. Kamar mandi yang ada di bagian belakang rumah ini ukurannya besar, berisi bak mandi dan sumur yang berada di sudut kanannya.

Bak mandi sudah ku kuras airnya dan membersihkan seluruh permukaannya.

Bagian atas sumur yang berbentuk tembok melingkar itu juga sudah aku bersihkan, lumut dan jamur yang sempat terlihat sudah hilang semua.

Intinya, kamar mandi sudah bersih, aku yakin itu.

Tapi ada yang aneh, ketika hendak mandi, aku lihat kamar mandi menjadi kotor lagi, banyak tanah bertaburan di lantainya, ember yang digunakan untuk mengambil air sumur tergeletak di lantai, bukan menggantung di tiang penyangganya.

Seperti baru saja ada yang menggunakan kamar mandi itu.
Tanpa berpikir macam-macam, aku membersihkannya lagi sebelum mandi.

Kejadian yang cukup aneh, tapi pada pagi itu aku tidak terlalu memikirkannya, sudah sangat antusias dengan kegiatan hari pertama bekerja di perkebunan itu.

***

Sore menjelang, matahari sudah bersandar di sisi bumi bagian paling barat.

Hari yang melelahkan, aku duduk bersandar di bawah salah satu pohon karet ketika para pekerja sedang membereskan peralatan mereka, bersiap untuk pulang ke rumahnya masing-masing.

Suasana sore yang tidak terlalu cerah, awan tebal sudah terlihat menggelayut di langit, tampaknya nanti malam akan turun hujan.

“Pak, nanti kita bareng jalan ke kota ya, ada beberapa perlengkapan rumah yang harus saya beli.”
Aku berbicara kepada Pak Rusli.

“Bagus, kamu nanti malam menginap di rumah saya saja, besok pagi kita berbarengan lagi.” Begitu jawab Pak Rusli.

Aku hanya tersenyum mendengar ajakannya, “Bagaimana nanti sajalah”, begitu pikirku.

Ada beberapa keperluan rumah yang memang harus ku beli, keperluan yang sangat diperlukan, seperti lampu templok, gayung mandi, keset, dan lain sebagainya.

“Bapak tunggu tunggu di sini saja ya, saya mau pulang dulu mengambil motor, nanti kita bertemu di sini.”
Aku langsung berdiri dan berjalan pulang.

***

Jarak antara rumah dengan tempat Pak Rusli dan para pekerja berkumpul, sekitar lima belas menit berjalan kaki, cukup alasan buatku untuk beristirahat sejenak ketika sudah sampai.

Ketika sampai, aku duduk di ruang tengah, menjulurkan kaki dan meletakannya di atas meja, hari yang cukup melelahkan.

Jam sudah nyaris pukul setengah enam ketika lamunanku tiba-tiba terhenti.

Aku mendengar sesuatu..

Aku mendengar suara dari bagian belakang rumah, suara yang bersumber dari kamar mandi.

“kreeeek…kreeeek..kreeek…”

Suaranya terdengar seperti ada yang menarik tali timba, seperti ada yang sedang mengambil air sumur dengan menggunakan timba..

Aku terdiam,

“Siapa yang ada di Kamar mandi?” Aku bertanya di dalam hati.

Kemudian, “Byur….byuurr..”
Terdengar suara seperti ada orang yang sedang mandi.

Aku mulai merasakan keanehan..

Berdiri dari duduk, aku memandang ke arah kamar mandi. Pintunya tertutup..

“Byuur.. Byur..” Suara guyuran air terdengar lagi.

“Siapa di belakang?” Aku memberanikan diri jntuk bersuara.

Tidak ada jawaban, tetapi suara itu tiba-tiba berhenti, membuat suasana kembali menjadi hening.

Beberapa saat kemudian, aku memberanikan diri untuk berjalan mendekati kamar mandi, berniat untuk mencari tahu ada siapa di dalamnya.

Aku terdiam beberapa saat di depan pintunya, menajamkan pendengaran memastikan kalau memang tidak ada suara lagi dari dalam.

Setelah yakin tidak ada suara apa-apa lagi, ku raih gagang pintu dan memutarnya.

Sambil menahan napas, perlahan aku membuka pintu kamar mandi..

Setelah pintu terbuka penuh, akhirnya dapat terlihat isi kamar mandi seluruhnya.

***

Kosong..

Ternyata di dalam kamar mandi kosong, tidak ada siapa-siapa.

Sedikit bisa menghela napas, walau pun masih cukup keheranan, karena yakin kalau tadi mendengar ada suara orang yang sedang menimba sumur dan menggunakan air untuk mandi.

Aku bertambah heran ketika kendapati kamar mandi sama seperti ketika aku lihat pada pagi hari tadi.

Banyak tanah yang berserakan di lantai, ember yang digunakan untuk mengambil air dari dalam sumur tergeletak di lantai juga, seperti ada yang baru saja menggunakannya.

Melihat keadaannya seperti itu, aku langsung bergegas membersihkannya lagi.

Setelah selesai, aku bersiap untuk mandi, menimba air hingga memenuhi bak. Setelah penuh, aku mulai mandi.

Nah, pada saat sedang mandi, aku mendengar sesuatu lagi..

Aku mendengar suara yang bersumber dari luar kamar mandi, sepertinya dari dapur.

“Creek…creeekk..crek..” Kira-kira seperti itu bunyinya.

Suara yang sama dengan yang aku dengar dari luar rumah pada malam sebelumnya.

***

Beberapa kali suara itu terdengar..

Sumber suara seperti tidak bergerak, hanya diam di dapur.
Mendengar itu, aku langsung menghentikan kegiatan, aku diam sambil perlahan membasuh tubuh dengan handuk.

“Itu suara apa sih..?” Begitu gumamku di dalam hati.

Perlahan ku buka pintu kamar mandi sambil menahan napas, takut ada sesuatu yang akan mengagetkanku di balik pintu.

Aku terdiam ketika pintu sudah terbuka penuh,

Syukurlah, tidak terlihat apa pun di dapur.

Aku langsung menuju kamar dan berpakaian.

***

“Maaf Pak, lama ya menunggu saya?”
Basa-basi aku menyapa Pak Rusli yang sudah duduk menunggu di atas motornya.

“Tidak apa-apa, ayok kita jalan Yu, takut keburu gelap.” Begitu kata Pak Rusli.
Kami pun langsung bergegas berangkat ke kota.

***

Barang-barang belanjaan sudah siap semuanya di atas motor, aku sudah mengikatnya dengan kuat di jok belakang.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika aku sudah siap berangkat kembali pulang.

Tapi tiba-tiba, Aku teringat akan Amri, teman sekampung yang tinggal dan bekerja di kota ini. Pada pertemuan kami yang terakhir, dia memberikan alamat tempat tinggalnya, menyuruhku untuk menyempatkan mampir kalau aku sedang berada di sini.

Baiklah, aku akan mencoba mencari alamat tempat tinggalnya. Ini kota kecil, seharusnya tidak susah untuk menemukan alamatnya.

Dan benar saja, tidak terlalu lama proses pencarian, aku menemukannya.

***

“Hey kamu ternyata.., apo kabar? Ngapo dindak kasi kabar? Ngapo tiba-tiba ado di sini?, begawe dimano sekarang?”
Amri langsung memberondongku dengan banyak pertanyaan ketika melihatku berdiri di balik pintu.

Kami berpelukan, sudah cukup lama tidak bertemu, aku hampir menangis terharu. Kami berbincang menggunakan bahasa daerah asal kami, Palembang.

Amri tinggal sendiri di rumah petakan yang terdiri dari satu kamar dan ruang tamu. Ada beberapa rumah yang berbaris berjajar, rumah Amri berada di paling pojok kanan.

Setelah itu, kami berbincang panjang lebar.

Beberapa gelas kopi dan berbatang-batang rokok menemani dua sahabat kecil yang tengah menceritakan kisah hidup masing-masing setelah berpisah lama.

***

“Jadi, sekarang kamu begawe di perkebunan itu?, tinggal jugo di rumah yang ado di tengah-tengah situ?”.

Raut wajah Amri berubah menjadi sedikit tegang ketika aku menceritakan di mana tempatku bekerja dan di mana tempat aku tinggal.

“Aku sudah hampir tiga tahun bekerja di kota ini, beberapa kali aku pernah mendengar cerita tentang perkebunan itu melalui orang-orang yang aku kenal.”

“Banyak cerita yang beredar, yang aku juga belum tahu tentang kebenarannya.”

“Tapi syukurlah kalau akhirnya perkebunan itu diambil alih oleh pemerintah, karena tekpat itu sudah lama terbengkalai, kasihan para pekerjanya.”

“Kamu termasuk beruntung dapat bekerja di perkebunan yang dimiliki oleh pemerintah, hanya saja kamu harus sangat berhati-hati tinggal di situ. Saranku, kamu tinggal di tempatku ini saja dulu sebelum pimpinanmu datang. Tidak tega aku melihatmu tinggal sendirian di tengah hutan seperti itu.”

“Ini sudah hampir jam dua belas malam, aku tidak akan mengijinkanmu pulang sekarang. Kamu bermalam di sini saja, kebetulan besok dan lusa aku libur, akan ku antar ke perkebunan esok pagi.”

Panjang lebar Amri memberiku wejangan, semakin banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepala.

Ada apa dengan perkebunan itu?

Mengikuti saran Amri, akhirnya aku bermalam di rumahnya.

Kami berbincang panjang hingga nyaris menjelang subuh.

***

Ketika pagi menjelang, Amri memenuhi janjinya, mengantarkan ke perkebunan.

Rencananya, pada malam harinya dia akan menginap di tempatku. Syukurlah, malam nanti aku jadi tidak sendirian, rasa cemas sedikit banyak akan berkurang.

***

Ketika sampai, ternyata di depan rumah sudah ramai oleh keberadaan Pak Rusli dan para pekerja.

Setelah sedikit berbasa-basi dan membereskan barang-barang bawaan, aku langsung memulai kegiatan.

Pada hari itu kami melanjutkan pekerjaan kemarin, membersihkan lahan sekitar perkebunan. Targetku, dalam waktu satu bulan seluruh wilayah yang menjadi tanggung jawabku sudah bersih semua, sehingga dapat dimulai proses selanjutnya.

Amri memutuskan untuk tinggal di rumah selama aku bekerja, dia berniat untuk tidur dan istirahat seharian.

***

Hari itu cukup terik, membuat badanku terasa lemas dan sangat kelelahan, ditambah karena tidur yang sedikit pada malam sebelumnya.

Sementara kulihat para pekerja tetap semangat dalam melaksanakan tugasnya, cukup senang melihatnya.

***

Sukurlah, hari berakhir dengan baik, wilayah yang sudah bersih menjadi bertambah luas, aku cukup puas dengan hasil kerja dua hari pertama ini.

Setelah berkumpul sebentar dengan para pekerja di depan rumah, sekitar jam lima sore aku mempersilahkan mereka untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri.

***

Setelah selesai mandi dan berpakaian, ternyata di meja ruang tengah sudah tersedia kopi dan singkong rebus yang disiapkan oleh Amri. Singkong yang sebelumnya kami bawa dari kota, rencananya beberapa batang singkong akan ku tanam di halaman sebelah kiri rumah.

Sambil menunggu waktu maghrib tiba, kami kami kembali berbincang, di ruang tengah.

Suasana rumah jadi sedikit lebih hidup dengan kehadiran Amri, orangnya memang sangat suka berbincang dan bercanda, gelak tawa kami sering kali meledak ketika ada pembahasan yang cukup lucu.

***

Malam pun datang,
Mengenakan sarung dan kaos oblong, kami melanjutkan berbincang di teras depan rumah, menghadap langsung ke perkebunan yang terlihat tidak terlalu gelap, cahaya bulan dan cerahnya langit malam membantu penerangan.

Amri kembali menyeduh kopi, kali ini sudah gelas yang kedua. Beberapa batang rokok juga sudah menemani perbincangan kami yang seakan tidak ada habisnya.

Seperti biasa, suara binatang malam terdengar bersahutan, menambah syahdunya suasana malam itu. Untuk beberapa saat, kami sangat menikmati ketenangan dan keheningan sekitar rumah.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ketika ada hal aneh yang mulai terjadi.

***

“Kamu menyalakan kompor Yu?” Amri bertanya.

“Nggak, memangnya kenapa Am?” Jawabku.

“Kamu mencium sesuatu gak?”

Aku menajamkan penciuman, dan ternyata memang iya, aku mencium sesuatu.

“Seperti bau kentang rebus ya Am, betul kan?” Tanyaku.

“Kamu gak sedang merebus kentang di dapur kan?” Amri kembali bertanya untuk menegaskan.
“Gak Am..” Jawabku sambil menggeleng.

Kami berdua mencium aroma kentang yang sedang direbus, aroma yang tadinya samar lama kelamaan menjadi semakin kuat.

Kami diam dan berpandangan.

“Bau kentang dari mana ya Yu?” Amri kembali bertanya.
Aku hanya mengangkat bahu.

Cukup lama bau itu tercium, kadang menghilang kadang muncul kembali.
Awalnya kami mengabaikan dan tetap melanjutkan perbincangan, walaupun suasana sudah mulai sedikit mencekam, karena suara-suara binatang malam secara perlahan mulai menghilang.

Angin sepoi-sepoi mulai bertiup dari arah perkebunan, bertiup menerpa tubuh kami yang mulai merasa kalau udara menjadi semakin dingin.

“Creeek..creeek….creek..”

Kami berpandangan, ketika tiba-tiba suara itu terdengar dari kejauhan. Suara yang sudah pernah kudengar pada malam sebelumnya.

“Creeek..crekk…creek..”

Suara itu kembali terdengar, kali ini seperti semakin mendekat, dari sisi sebelah kiri rumah, kami langsung mengarahkan pandangan ke arah tersebut.

“Ayo masuk Yu..”

Tiba-tiba Amri berdiri dari duduknya dan mengajakku untuk masuk ke rumah, wajahnya terlihat agak panik.

Aku ikuti ajakannya.

Setelah sudah berada di dalam, aku langsung mengunci pintu.

“Biarkan lampu petromak tetap menyala Yu, jangan dimatikan.”

Aku menjadi cemas, karena nada suara Amri terdengar seperti orang yang ketakutan.

Kami duduk di ruang tengah, duduk bersebelahan pada tempat duduk yang panjang, menghadap ke pintu kamar.

“Bau kentang dan bunyi creek creek tadi itu adalah pertanda Yu”
Nyaris berbisik, Amri bilang seperti itu.

“Pertanda apa Am?” tanyaku penasaran.

“Pertanda akan kehadiran pocong..” Jawab Amri dengan suara bergetar.

***

Aku hanya diam mendengar penjelasan Amri, karena aku sudah dengar suara itu pada malam sebelumnya dari luar rumah, namun tidak terlihat ada penampakan pocong.

Aku berharap semoga Amri salah, semoga yang dia bicarakan tidak benar.

***

Tidak terasa, jam sudah hampir di pukul dua belas malam.

Percakapan yang kami lakukan hanya seperlunya saja, tidak ada lagi gelak tawa dan canda ria, karena entah kenapa suasana semakin malam semakin mencekam.

Sesekali aroma bau kentang rebus tercium di dalam ruangan, kadang samar kadang sangat tajam baunya.

“Creeek..Creeek…crek..”

Kami terkejut, saling berpandangan, ketika tiba-tiba suara itu terdengar cukup keras dari dalam rumah, terdengar dari bagian belakang.

Yang pada awalnya terdengar dari luar, kali ini sumber suara sepertinya dari dalam.

Beberapa saat lamanya kami saling berpandangan, kemudian secara perlahan mulai menoleh ke arah bagian belakang rumah, tempat dimana kamar mandi dan dapur berada.

Lorong belakang rumah tidak terlalu terang, hanya mengandalkan penerangan dari lampu petromak dari ruang tengah, tempat di mana kami berada.

Sebelah kiri lorong adalah kamar belakang, sedangkan di sebelah kanannya tempat kamar mandi berada.

Kami hanya dapat melihat pintu kamar belakang, pintu kamar mandi tidak terlihat dari arah tempat kami duduk.
Tapi kami dapat mendengar, ketika ada suara yang sepertinya bersumber dari pintu kamar mandi, pintu itu mengeluarkan suara, seperti ada yang membukanya.

“Kriiyeeeeeett…”

Engsel pintu yang mungkin sudah cukup tua dan berkarat, mengeluarkan bunyi yang terdengar sampai ke ruang tengah.

Kami masih hanya bisa terdiam dan sesekali berpandangan satu sama lain.

“Creeeekk…Creeekk…creek”

Suara aneh itu kembali terdengar, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Kami ketakutan, sangat yakin kalau sumber suara itu berasal dari kamar mandi yang pintunya baru saja seperti ada yang membuka.

Tiba-Tiba, ada sesuatu yang perlahan keluar dari dalam kamar mandi.
Ada sosok berwarna putih kusam yang muncul dari dalam kegelapan, bergerak mendekat ke pintu belakang.

Kami terdiam, hanya duduk mematung menyaksikan pemandangan yang sedang terjadi di hadapan.

Sosok putih itu kemudian diam berdiri menghadap tembok kamar belakang, berdiri menyamping kalau dilihat dari arah kami duduk.

Aku dan Amri berkeringat dingin, jantung kami berdegup kencang ketika tersadar kalau yang berdiri di depan kamar mandi adalah Pocong, sosok pocong yang tinggi besar dengan kain kafan kusam menyelimuti tubuhnya.

Aku sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuh ketika secara perlahan pocong itu mulai menggerakkan tubuhnya menjadi menghadap kami.

Hingga akhirnya, pocong itu benar-benar menghadap ke tempat kami.

Kami dapat melihat sedikit bagian wajahnya, bagian wajah yang kehitaman, dengan bola mata yang berwarna putih seluruhnya.

Terdiam mematung, kami tidak bisa berbuat apa-apa, hanya memandangi pocong itu dengan ketakutan.

***

“Sadar Yu, ayok!, kita tinggalkan rumah ini..”

Suara Amri mengagetkanku, dia langsung mengambil kunci motor, dan aku langsung bangkit dari duduk untuk membuka pintu.

Kami berniat meninggalkan rumah saat itu juga.

Selama prosesnya, kami sama sekali tidak berani untuk melihat ke arah belakang rumah, tempat dimana pocong itu berada.

Setelah motor sudah berada di luar, aku langsung menutup pintu rumah dan menguncinya.

Dalam kegelapan malam , kami berada di atas motor membelah perkebunan karet untuk meninggalkan tempat itu secepatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *