Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
RHDPK #5

RHDPK #5

“Sreeek…sreeekk..sreeekk..”

Sekali lagi, nenek dengan sapu lidi itu terdengar menyapu pekarangan di sebelah kanan rumah.

Om mendengarkan dengan seksama..
Suaranya kadang menjauh, kadang mendekat..

Terjebak di rumah ini sendirian.

Iya, pada tengah malam ini om sedang sendirian di rumah,

Wahyu gak ada..

***

“Pak, saya ke kota dulu ya. Sebelum maghrib saya sudah di rumah lagi.”

Siang itu Wahyu pamit untuk berbelanja keperluan ke kota. Belanja rutin bulanan kali ini hanya dia yang melakukannya, om gak ikut karena sedang gak enak badan.

Seharian hanya terbaring lemas di atas tempat tidur, hari itu om juga gak bekerja, semua pekerjaan dilakukan oleh Wahyu.

“Iya Yu, hati-hati ya..”

Wahyu langsung berangka pergi, kemudian terdengar suara motor dihidupkan di halaman, selanjutnya terdengar menjauh meninggalkan rumah.
Om gak berpikir macam-macam, karena yakin kalau Wahyu akan pulang sebelum maghrib. Om hanya ingin beristirahat saja seharian, fisik gak akan kuat kalau harus memaksa ikut Wahyu ke kota.

***

Jam sudah hampir di pukul enam sore, tetapi Wahyu belum juga kelihatan batang hidungnya. Om memaksa tubuh yang masih dalam keadaan demam tinggi untuk bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju halaman depan, duduk di kursi menunggu Wahyu.

Berharap kalau Wahyu sebenarnya sudah sampai di rumah ketika om sedang tidur tadi, tapi tenyata meleset, Wahyu memang benar belum pulang.

Suasana rumah dan sekitarnya sudah mulai gelap, om mulai menyalakan lampu petromak di ruang tengah dan lampu templok di setiap kamar.

Setelah di dalam rumah sudah terang om menyalakan radio.

Oh iya, Radio adalah satu-satunya hiburan kami di rumah ini, selalu setia menangkap siaran dengan frekuensi AM.

Untungnya, frekwensi radio yang tertangkap, sering memutarkan lagu-lagu yang sedang hits, musik era awal tahun 90an menjadi andalan. Barat maupun lokal. Pada saat itu yang sedang berkibar adalah Guns n’ Roses, Bon Jovi, White lion, dan kawan-kawannya.

Saat itu om sedang sangat menggemari lagu “you’re all i need”-nya White Lion, lagu romantis yang mengingatkan kepada mantan pacar ketika masih tinggal di Semarang.

Dengan gak adanya masjid atau musholla di dekat perkebunan karet ini, untuk mengetahui waktu sholat pun kami bergantung dari radio, yang akan menginformasikan ketika tiba saatnya waktu sholat dengan mengumandangkan suara adzan.

Radio yang kami miliki ini sebenarnya bukan radio tua, radio yang cukup baru malah, tapi sering kali kami harus mengubah dan menggerakkan antenanya yang panjang untuk menangkap siaran, kalau gak begitu yang terdengar akan lebih banyak “kresek-kresek”-nya.

Radio dua band berwarna hitam yang kami beli di kota waktu pertama kali tinggal di rumah ini, kami letakkan di atas meja ruang tengah, dikelilingi oleh kursi tamu panjang dan pendek.

***

Kumandang adzan belum terdengar juga, memang belum waktunya, walaupun jam sudah lewat dari angka enam.

Om membuka pintu depan dan melihat ke luar, Wahyu belum juga terlihat datang.
“Ah mungkin dia lupa waktu karena bertemu dengan temannya di kota dan akan sampai di rumah selepas maghrib atau isya..

Om membesarkan hati dengan berbicara sendiri..

Beberapa saat kemudian suara adzan maghrib akhirnya terdengar, om langsung menutup pintu dan mematikan radio, kemudian berjalan ke belakang untuk berwudhu dan melaksanakan sholat.

***

Kamis malam jumat, om lanjut mengaji setelah selesai sholat maghrib sambil menunggu isya.

Di dalam benak, masih terusik memikirkan keberadaan Wahyu yang sampai hampir masuk waktu Isya belum datang juga.

Di tengah-tengah kekhusu’an mengaji, ada hal aneh yang terjadi.

Tiba-tiba radio menyala dengan sendirinya, padahal om ingat kalau tadi sebelum maghrib sudah mematikannya.

Melirik ke ruang tengah, om melihat radio masih berada pada tempatnya, gak ada yang aneh, hanya suara yang keluar dari speakernya.

Radio itu menangkap siaran yang belum pernah om dengar sebelumnya, siaran radio yang aneh.
Om mendengar lagu keroncong yang kualitas rekamannya seperti rekaman tahun 1960an, atau bahkan lebih tua lagi.
Intinya, om mendengar siaran radio dari stasiun jaman dulu, mungkin tahun 1950 -1960an..

Kami tidak pernah menangkap siaran radio yang memutar lagu-lagu keroncong, apa lagi dengan lagu keroncong dengan kualitas rekaman jaman dulu.

Om langsung berdiri dan berjalan menuju tempat radio itu berada, kemudian mengubah frekuensinya, kembali ke frekuensi stasiun radio favorit.

Berdiri diam di depan radio, om menggeleng-geleng kepala sendiri..

“Siaran radio apa yang baru saja terdengar? Aneh…”

Gak berapa lama kemudian terdengar kumandang adzan, om langsung bersiap melaksanakan sholat isya.

Om semakin khawatir dengaan keberadaan Wahyu, sampai hampir jam sembilan malam dia belum juga datang.
Dalam hati berharap semoga gak terjadi hal-hal buruk yang menimpa dirinya.

Di satu sisi om mengkhawatirkan kabar Wahyu, di sisi lagi mulai merasa was-was. Kenapa was-was? karena kalau sampai Wahyu gak datang juga, berarti om harus menghabiskan malam di rumah ini sendirian.

Iya, sendirian..

Motor gak ada.

Malam jumat..

Di tengah-tengah perkebunan karet yang letaknya jauh dari mana-mana..

Perkebunan karet yang angker..

***

Sudah jam sepuluh malam, wahyu belum datang juga.

Gelas Teh hangat yang ada di atas meja sudah kosong, om gak sanggup untuk ke dapur dan menyeduh teh lagi.

Om juga merasakan kalau demam ini malah semakin tinggi, walau pun sudah minum obat penurun demam.

Aku menggigil meringkuk berbalut sarung di atas kursi di ruang tengah, belum mau untuk masuk ke kamar karena takut kalau tiba-tiba Wahyu datang.

Radio masih menyala, penyiarnya tengah memutar lagu-lagu barat kesukaan.

Hingga akhirnya lagu favorit om diputarkan oleh penyiar, You’re all i need-nya White Lion.

“I know that she’s waiting, for me to say forever…”

Suara merdu Mike Tramp diiringi petikan gitar berkarakter memecah kesunyian malam. Pikiran om langsung melanglang buana ke masa pacaran di Semarang. Sedikit banyak membantu untuk melupakan kesendirian di dalam rumah.

Tapi ketika sedang menikmati suasana itu, tiba-tiba lagu berhenti di tengah-tengah..

Kemudian berganti dengan musik keroncong tempo dulu, dengan kualitas rekaman yang retro juga.

Musik keroncong yang sama persis dengan musik yang mengalun dari radio waktu maghrib tadi.

Om coba mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama, musik keroncong itu ternyata mengiringi lagu yang dinyanyikan oleh seorang wanita.

Saat lagu selesai, suara yang keluar berganti dengan suara penyiar yang sedang membawakan acara.

Penyiarnya seorang laki-laki dengan suara berat, tipikal penyiar radio tahun 1960 sampai 1970an.

Dia berbicara layaknya penyiar yang sedang menemani pendengarnya pada malam hari, lancar mengeluarkan kalimat dengan tutur kata yang rapih dan jelas.

Om mendengarkan semakin fokus ketika dia terus berbicara panjang lebar, om menunggu informasi yang mungkin dapat menjawab banyak pertanyaan yang ada di dalam benak.

Ini radio apa? Apa nama acaranya?

Kenapa terdengar seperti siaran radio yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu?

Kenapa frekwensi radio ini baru tertangkap pada malam ini?

“Para pendengar, berjumpa lagi dengan saya, di malam ini saya akan menemani rekan-rekan semuanya. Pada hari ini 14 Maret seribu sembilan ratus enam puluh delapan, bertepatan dengan hari….”

Om langsung menjadi gak fokus mendengar kalimat selanjutnya, om terhenyak kaget ketika dia menyebut tahun 1968, om terkejut.

“Ini radio apa?”

Kembali om dengarkan ocehan sang penyiar yang terus menginformasikan berita-berita yang sedang terjadi pada saat itu, tahun 1968.

Tiba-tiba merinding, perasaan mulai gak enak, om mulai berpikir kalau siaran radio itu bukanlah siaran radio biasa.

Om langsung mematikan radio dan masuk ke kamar..

***

Pintu kamar sudah dalam keadaan terkunci ketika om masih memikirkan tentang siaran radio tadi, di samping itu juga om masih memikirkan tentang keberadaan Wahyu, takut terjadi apa-apa dengan dirinya.

Sedangkan om dalam keadaan terjebak di rumah tanpa bisa pergi ke mana pun,

Wahyu membawa motor, om gak bisa berjalan kaki jauh-jauh dengan kondisi tubuh yang masih demam tinggi.

Om hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur, sambil terus berharap semoga Wahyu tiba-tiba datang.

Namun harapan tinggal harapan, sampai nyaris jam dua belas Wahyu belum datang juga.

***

Demam tinggi ini semakin menyiksa, om menggigil kedinginan. Berselimut tebal juga menutup kelambu gak membuat kondisi badan membaik.

Pada saat itu om berpikir, kalau saja kondisi dalam keadaan sehat wal’afiat, om akan meninggalkan rumah, berjalan kaki mencari keramaian.
Tapi kondisinya gak memungkinkan, untuk berdiri saja om lemah, gak bisa dipaksa..

Tapi untunglah, beberapa saat kemudian setelah meminum sekali lagi obat pereda demam, badan mulai berkeringat, suhu tubuh berangsur turun.

Suasana di luar terdengar agak mencekam, sempat berharap kalau hanya sekadar halusinasi karena kondisi tubuh yang sedang sakit.
Suara binatang malam bersahut-sahutan, ditambah dengan suara pepohonan karet yang tertiup oleh angin yang kadang terdengar cukup kencang.

Yang membuat suasana mencekam, kadang tiba-tiba suasana menjadi hening dan sepi, semua suara menghilang, entah apa penyebabnya.

Pada saat itulah om mulai merasa ketakutan.

Dalam kegelisahan om tetap berharap agar malam itu gak terjadi apa-apa, berharap malam itu gak ada teror..
Tapi sekali lagi, harapan hanya tinggal harapan, kenyataan yang akan terjadi gak seperti itu.

***

Jam 12.30 tengah malam, om masih belum bisa memejamkan mata, perasaan dan isi kepala terus berputar kesana kemari, kegelisahan yang terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Om gak lagi memikirkan Wahyu, yang ada di kepala adalah bagaimana caranya dapat melalui malam itu secepatnya.

Tapi yang membuat sedikit tenang, sampai hampir jam satu gak ada tanda-tanda bakal ada kejadian yang aneh dan menyeramkan.

Hmmm.., salah, seharusnya om tidak berpikir seperti itu, karena beberapa saat kemudian teror dimulai.

“Sreek…sreeeek…sreekk..”

Tiba-tiba suara nenek dengan sapu lidi terdengar menyapu pekarangan di sebelah kanan rumah. Om langsung mendengarkan dengan seksama.

Suaranya kadang menjauh, kadang mendekat, terdengar mendekati jendela kamar.

Ketika sedang dekat dengan jendela, terdengar juga suara pelan tertawa cekikikan nenek itu, suara tawa yang seperti mentertawai om yang sedang sendirian.

Om hanya terdiam di atas tempat tidur, sama sekali gak berniat untuk mengintip dari jendela dan melihat keadaan di luar.

Seperti biasanya, om abaikan nenek sapu lidi itu, tapi walau pun begitu om masih ketakutan, terus berharap semoga dia tetap beraktifitas di luar rumah.

Cukup lama nenek itu menyapu dengan sapu lidinya, hingga akhirnya sekitar jam satu lewat beberapa menit dia menghentikan aktifitasnya, om tidak mendengar lagi suaranya.

Sedikit lega, selanjutnya om berharap semoga rasa kantuk akan datang dan bisa terlelap.

Kondisi tubuh yang sudah mulai membaik, demam yang sudah gak terlalu tinggi, membuat pada akhirnya kantuk datang. Sepertinya om akan tertidur sebentar lagi.

Tapi ternyata gak semudah itu..

***

Suara binatang malam yang awalnya bersahutan tiba-tiba menghilang, suasana menjadi sangat hening dan sepi. Gak ada angin yang bertiup di luar rumah.

Sangat sepi, semakin mencekam..

***

Om terhenyak, bulu kuduk berdiri ketika tiba-tiba mendengar suara lantunan musik keroncong, suara yang sepertinya bersumber dari ruang tengah.

Om yakin kalau suara itu berasal dari radio di ruang tengah, yang om yakin juga kalau sudah mematikannya sebelum masuk kamar.

Radio menyala dengan sendirinya..

Musik keroncong terdengar dengan jelas, mengalun syahdu dengan volume suara yang gak terlalu keras.

Saat itu lagu yang terdengar adalah lagu keromcong yang sangat terkenal, dinyanyikan dalam bahasa Indonesia oleh seorang penyanyi perempuan, tentu saja aransemen lagunya adalah aransemen tempo dulu, menjadi semakin terdengar menyeramkan.

Om hanya bisa terdiam di atas tempat tidur sambil terus mendengarkan dengan seksama.

Ketika lagu selesai, lalu ada suara penyiar laki-laki ganti terdengar, suara penyiar yang sama persis dengan yang om dengar sebelumnya.

“Selamat malam, pada malam yang syahdu ini saya akan menemani pendengar semua dengan lagu-lagu keroncong yang sangat digemari..”
Kira-kira seperti itu sebagian ocehan penyiar radio jadul itu.

Di sela-sela “siaran radio”, anjing hutan terdengar melolong dari kejauhan, suara lolongan yang biasanya menandakan akan kehadiran sesuatu.

***

Sudah sekitar tiga lagu keroncong yang diputar, diselingi dengan suara penyiarnya, om masih saja terjaga tanpa merasakan kantuk sedikit pun.

Nah ketika lagu terakhir ada hal aneh yang terjadi..

Om mengernyitkan dahi, menajamkan pendengaran, ketika mendengar kalau lagu keroncong yang terakhir ini gak seperti bersumber dari radio, tapi om merasa kalau lagu itu dinyanyikan langsung oleh panyanyinya, di ruang tengah..

Hanya terdengar suara perempuan menyanyikan lagu keroncong, gak ada musik yang mengiringi..

Om semakin ketakutan..

Suara lolongan anjing yang terdengar dari kejauhan semakin manambah kengerian..

Perempuan itu terus menyanyikan lagu keroncong dari ruang tengah, kali ini dalam bahasa jawa.

Om masih dalam posisi berbaring, tanpa berani bergerak sedikit pun, om gak mau menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian sang “Penyanyi”.

Namun tiba-tiba gagang pintu kamar bergerak-gerak, seperti ada yang hendak membukanya dari luar.

Om terdiam ketakutan..

Pintu yang om yakin dalam keadaan terkunci, perlahan mulai terbuka, seperti ada yang coba membuka dari luar.

Pada saat itu masih terdengar lantunan suara perempuan menyanyikan lagu keroncong.

Yang tadinya tertutup rapat dan terkunci, perlahan pintu mulai terbuka, mulai ada celah yang semakin lama semakin lebar.

Akhirnya pintu terbuka dengan sepenuhnya..
Ketika itu, barulah om dapat melihat dengan jelas penyebab kenapa pintu sampai terdorong terbuka..

Dalam bantuan sinar lampu templok di kamar, om melihat sosok perempuan yang tengah berdiri di depan pintu, perempuan berbadan agak gemuk mengenakan kebaya berwarna merah dan kain berwarna coklat, lengkap dengan sanggulnya.

Perempuan berumur sekitar 40 tahun itu tampak cantik, sambil menyanyikan lagu keroncong dengan mata yang terus menatap om yang masih berbaring di atas tempat tidur.

sangat ketakutan, om tidak mengenal perempuan itu sama sekali, baru malam itu melihatnya gentayangan di dalam rumah.

Namun akhirnya, dia mulai menghadapkan tubuhnya ke kiri, berjalan pelan menuju sisi belakang ruang tamu, suara nyayiannya masih terdengar walau pun sosoknya menghilang dari pandangan.

Sambil menahan takut dan nyaris menangis, om memaksa tubuh untuk bangun dari tempat tidur, berniat keluar rumah, entah akan ke mana, yang penting om harus pergi saat itu juga.

Om sudah gak tahan lagi..

***

Nyayian masih terdengar dari ruang tengah, tapi tidak perduli, om harus meninggalkan rumah, om paksa tubuh untuk berjalan terlebih dahulu keluar kamar, baru selanjutnya pergi keluar rumah.

Ketika sudah tepat berada di pintu kamar, om dapat melihat keadaan ruang tamu,

Selain ada radio dalam keadaan mati yang terletak di atas meja om juga melihat sesuatu yang menyeramkan.
Ada sosok yang sedang berada di ruang tengah, dan ternyata bukan hanya satu sosok, tapi dua..

Perempuan yang mengenakan kebaya dan bersanggul itu berdiri diam tanpa suara, yang akhirnya dia berhenti bernyanyi.

Dia berdiri di sebelah kanan kursi, kursi yang tengah diduduki oleh sosok yang satu lagi.

Ternyata dia ditemani oleh sosok laki-laki yang duduk diam, mengenakan pakaian serba hitam dengan tutup kepala yang berwarna hitam juga.

Laki-laki itu berkumis tebal dan melengkung pada bagian ujungnya.
Yang menyeramkan, dia tersenyum lebar sambil matanya melotot, mengerikan.

Mereka berdua menatap dengan tajam, om terperangah ketakutan.
Gak mau membuang waktu, om buru-buru berlari ke arah pintu dan mencoba membukanya, sama sekali gak berani menoleh ke belakang ke tempat dua sosok itu berada.

Pintu berhasil dibuka, om langsung lari keluar rumah dan menjauh secepatnya.

***

Di tengah malam buta tanpa bantuan penerangan sedikit pun dan dengan kondisi tubuh yang sedang sakit, om berjalan membelah perkebunan karet.

Om masih sangat ketakutan..

Sampai akhirnya dari kejauhan samar-samar om melihat ada kilatan cahaya,

ketika semakin mendekat, barulah terlihat kalau itu adalah cahaya lampu motor.

Alhamdulillah, ternyata itu Wahyu..

Om langsung terduduk lemas, bersandar pada pohon karet yang berada di sisi jalan setapak.

“Pak, maaf pak, tadi motor dipinjam oleh teman, dia baru pulang jam sebelas tadi. Pak Heri kenapa ada di sini malam-malam?”.

Wahyu meminta maaf sambil memberikan penjelasan ketika sudah berada dihadapan.

“Kita kembali ke kota saja Yu, menginap di rumah temanmu saja.”

Tanpa banyak tanya, Wahyu langsung memutar motor dan tancap gas ke arah kota kembali ketika om sudah duduk di atas jok motor.

Malam itu akhirnya kami kembali menginap di rumah teman Wahyu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *