Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
RHDPK #2

RHDPK #2

Hari-hari berikutnya kami jalani seperti layaknya pekerja, menjalankan tugas sebaik-baiknya.

Tentu saja, diiringi dengan banyak kejadian yang aneh dan menyeramkan. Kami jalani semuanya, sambil mencoba tabah dan sabar.

Hampir setiap malam, nenek yang menyapu menggunakan sapu lidi terdengar aktivitasnya, namun om dan Wahyu gak pernah lagi menghiraukan, apalagi sampai berniat untuk melihat wujudnya.

Kami membiarkan dia dengan kegiatannya sampai akhirnya menghilang gak terdengar lagi.


Setelah sudah beberapa lama tinggal dan bekerja di tampat itu, om sudah mulai hafal dengan seluk beluk hampir di setiap sudut perkebunan.

Ada satu sudut yang sering menarik perhatian, ketika om sedang patroli berkeliling wilayah.

Sudut wilayah yang cukup menyeramkan ini berbatasan langsung dengan hutan rindang yang berada di luar perkebunan. Jadi, hanya beberapa meter kemudian kami gak menemui lagi pohon karet, hanya ada pepohonan lain yang besar dan rindang, hanya sedikit sinar matahari yang dapat menembus masuk ke dalamnya.


Waktu itu, pada sore hari yang biasa dan normal, om berjalan kaki mengelilingi perkebunan sendirian. 

Para pekerja penyadap karet sudah selesai melaksanakan tugasnya, suasana sudah sangat sepi, gak ada orang sama sekali.
Cuaca sangat bersahabat, sore yang cerah tapi gak terlalu panas. Om berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang kadang diselingi rerumputan, jalan setapak yang membelah sela-sela barisan pohon karet.

Sampai pada akhirnya, om tiba di tempat yang menurut om sangat menyeramkan itu.

Sudah sangat sepi..

Hari sudah menjelang gelap ketika om sudah sampai di sana.
Angin semilir menghembus pelan, membuat suasana manjadi sedikit sejuk.

Om tetap melanjutkan langkah, hingga mencapai sudut paling ujung perkebunan. Berniat memeriksa keadaan sampai benar-benar yakin kalau semuanya aman.

Langkah om berhenti, tepat di ujung pepohonan karet yang paling terakhir, memperhatikan sekeliling. 

Sekitar 20 meter di depan om berdiri sudah hutan rimba yang sepi dan gelap itu.

Lalu.. Tiba-tiba pandangan om terhenti pada salah satu sudut hutan.

Ada pemandangan yang cukup menarik perhatian.

Dalam suasana sore menjelang maghrib yang sudah mulai gelap itu, om melihat ada dua orang yang sedang mengerjakan sesuatu. 

Mereka seperti sedang menggali tanah.
Menggali tanah yang berada di bawah satu pohon yang sangat besar.

Penasaran, om berjalan mendekati mereka..

Setelah sudah cukup dekat, barulah om dapat melihat dengan jelas penampilannya.

Dua orang laki-laki berpakaian hitam-hitam, mengenakan topi caping di kepalanya.

Mereka menggunakan cangkul untuk manggali tanah..

Dengan cangkul itu, mereka tampak sedang manggali dengan fokus. Masing-masing menggali satu lubang, jadi ada dua lubang yang digali.

Lubang berukuran kira-kira dua kali satu meter.

Tampak seperti lubang kuburan..

Iya, tampaknya mereka sedang menggali dua liang kubur..

Aneh, setelah sudah beberapa lama tinggal di situ, sangat yakin kalau om gak pernah melihat ada pekuburan.

Dua orang itu tampak gak terganggu dengan kehadiran om yang sudah berdiri hanya beberapa meter di belakang mereka.

Om masih tetap diam dan gak berusaha untuk mengganggu, masih berdiri memperhatikan mereka menggali.

Kembali ada yang menarik perhatian, yang membuat om semakin yakin kalau mereka sedang menggali liang kubur.

Tepat di sebelah salah satu liang kubur, tergeletak dua papan kayu berbentuk nisan. Posisi om berdiri cukup dekat untuk dapat membaca tulisan yang ada pada papan itu.

Papan pertama tertulis “SUPRI”, sedangkan papan kedua tertulis “MARYONO”. 

Tulisan menggunakan cat hitam yang cukup besar.

Suasana sudah semakin gelap, ketika mereka akhirnya menghentikan kegiatannya.

Barulah keduanya melihat ke arah om.

“Assalamualaikum, saya Heri, yang bekerja di perkebunan sebelah. Warga mana yang baru saja meninggal Pak?”

Om membuka percakapan sambil memperkenalkan diri, gak lupa mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman.

Salah satu dari mereka berjalan perlahan ke arah om, seorang lelaki berkumis tipis berumur sekitar 50 tahun.
Dia menyambut juluran tangan om, dan kami pun bersalaman.

Om kaget, karena ketika bersalaman, om merasakan kalau tangan Bapak itu terasa sangat dingin, seperti mayat.

“Saya Supri, itu teman saya Maryono.”

………………

Reflek, om langsung melepaskan genggaman tangan kami yang tengah bersalaman.

Nama yang mereka sebutkan adalah nama yang tertera pada dua papan nisan yang tergeletak di sebelah liang kubur…

Sosok lelaki yang mengaku bernama Supri, di bawah topi capingnya tersenyum menyeramkan, dengan wajah pucat dan mata melotot.

Sementara rekannya yang berdiri di sebelahnya hanya diam tanpa kata, tapi wajahnya tampak pucat juga.

Om merinding ketakutan, lalu berjalan mundur menjauh perlahan,

Setelah itu om membalikkan badan dan berjalan dengan langkah yang cepat, berusaha untuk terus menjauh lagi dari tempat itu.

Ketika sudah cukup jauh, om memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Mereka masih ada dalam kegelapan hutan, berdiri menghadap ke arah om berjalan.

Semakin cepat langkah om untuk menjauhi, hingga akhirnya mereka gak terlihat lagi.

Hilang dari pandangan..


Kejadian yang cukup aneh itu langsung om ceritakan kepada Wahyu pada malamnya.

Wahyu bilang dia belum pernah melihat kejadian itu, karena belum pernah berjalan sendirian sampai ke tempat yang om maksud.

Dia hanya cerita, pernah ada kisah yang beredar dari mulut ke mulut kalau dulunya ada satu wilayah di hutan itu pernah ada kejadian yang menyeramkan.

Kejadiannya terjadi bertahun-tahun yang lalu, sudah lama sekali.

Pernah ada dua orang yang yang dibunuh oleh sekelompok orang, menurut kabar yang beredar pembunuhan itu terjadi karena ada perselisihan bisnis antar kelompok.

Sebelum dibunuh, kedua orang itu disuruh untuk menggali kuburannya sendiri oleh yang membunuhnya..

***

Beberapa hari setelah kejadian itu, kami kedatangan tamu, Pak RT dari desa sebelah datang berkunjung. Pak Roni namanya.

Sebelumnya, beliau sudah beberapa kali datang, kali ini adalah kunjungan yang kesekian kali.

Sore itu kami berbincang seru sambil ditemani kopi dan singkong rebus hasil menanam sendiri, hasil berkebun Wahyu disela-sela waktunya.

Seperti biasa, Pak Roni bercerita dengan semangat, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu diiringi dengan mimik muka dan gestur tubuh untuk menunjang cerita.

Seru mendengarnya..

“Jadi, rumah yang kalian tinggali ini sudah lama berdiri, berbarengan dengan perkebunan ini, sekitar tahun 1950an. Waktu itu saya masih kecil, tapi kurang lebihnya saya paham sejarah tempat ini.” 

Pak Roni mulai membahas tentang rumah yang om dan Wahyu tinggali.

“Sebelumnya, perkebunan ini adalah desa kecil yang jumlah penduduknya gak terlalu banyak, desa yang cukup terpencil.”

“Tapi ada yang cukup menyeramkan dari desa itu”

“Apa yang menyeramkan pak?” Tanya om mulai penasaran.

Dengan logat melayu kental beliau melanjutkan ceritanya, kali ini setengah berbisik, ada raut ketakutan tersirat di wajahnya.

“Ada pemakaman yang cukup besar di dalam wilayah desa itu. Sangat besar, luasnya hampir separuh dari luas keseluruhan desa.”

“Kenapa sampai seluas itu?, karena pemakaman itu bukan hanya diperuntukkan bagi orang meninggal di dekat situ, tapi juga untuk orang meninggal di desa-desa sekelilinya, yang kadang jaraknya cukup jauh.”

“Dan juga, pemakaman itu sudah cukup tua, menurut cerita yang beredar, sudah ada sejak tahun 1800an.”

“Hingga pada akhirnya, desa tersebut di gusur untuk penanaman pohon karet untuk perkebunan ini. Termasuk pemakaman besar itu, ikut juga digusur, dan dipindahkan ke tempat pemakaman baru yang jauh dari sini.”

Kemudian Pak Roni lebih mendekatkan lagj posisi duduknya ke tempat kami duduk, suaranya semakin kecil, mimik ketakutan semakin tampak di wajahnya,

“Menurut cerita yang beredar, ada banyak makam yang tertinggal, tidak terbawa untuk dipindah, karena kurangnya data mengenai pemakaman itu. Hanya makam-makam yang masih terlihat saja yang dipindahkan, sisanya masih ada, di wilayah ini..”

Om dan Wahyu ketakutan mendengarnya.

Setelah mendengar cerita itu, kami jadi teringat satu peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya, peristiwa seram yang sepertinya berhubungan dengan kisah yang diceritakan oleh Pak Roni.


Seperti biasa, hari itu om dan Wahyu pergi ke kota terdekat untuk membeli kebutuhan harian.
Biasanya kami belanja setiap dua minggu sekali.

Perjalanan menggunakan motor, sekitar dua jam lebih perjalanan untuk pulang pergi.

Gak seperti biasanya, disebabkan satu dan lain hal kami terpaksa berangkat pada sore hari. 
Sekitar jam lima sore kami memulai perjalanan.

Ketika waktu maghrib tiba, kami sampai di tujuan.

Selepas isya, kami selesai berbelanja, dan mulai bersiap pulang.

Nah, ketika baru keluar dari satu toko, kami berjumpa dengan atasan kami yang kebetulan baru sore harinya datang mengunjungi perkebunan.

Dia menyempatkan diri untuk beristirahat di kota itu sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Palembang.

“Wah.., kebetulan ketemu kalian, ayo kita cari makan dulu..” Begitu pak Burhan bilang.

Iya, namanya pak Burhan..

Ajakannya sangat berat untuk ditolak, karna kami memang sudah sangat lapar, dan kami yakin kalau beliau pasti mengajak makan di restoran besar.

Benar, kami mampir di salah satu restoran padang yang cukup terkenal, pucuk di cinta ulam tiba, kami makan enak malam itu.


Kami berbincang cukup lama di restoran itu, karena masih banyak cerita dan keluh kesah yang belum diceritakan kepada beliau mengenai pekerjaan dan hal lainnya.

Kami jadi lupa waktu..

Hingga pada akhirnya Wahyu memberi kode dengan menendang-nendang kaki om, 

Om langsung melihat jam, benar.. sudah hampir jam 10 malam..

Om langsung menutup pembicaraan dan segera pamit pulang.

“Oh ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya. Saya lanjut ke Palembang.” Begitu pak Burhan menutup pertemuan.

Kami pun pulang..


Malam jumat itu udara cukup dingin, angin berhembus kencang menerpa wajah om yang duduk di belakang.
Wahyu terlihat sigap mengendalikan motor dengan kecepatan agak tinggi.

“Hati-hati yu, sudah gelap banget ini.” Om mengingatkan.

“Iya pak, saya ingin cepat sampai rumah.”

15 menit awal perjalanan, kami masih terlibat percakapan, masih bisa berbincang seru, walaupun dengan banyak barang belanjaan di atas motor.

Namun ketika sudah mulai memasuki wilayah hutan, kami lebih banyak diam, mulai gak ada perbincangan. 
Kami lebih banyak diam.

Takut? Iya.., om mulai takut. Dan om yakin kalau Wahyu juga merasakan hal yang sama.

Jalan sudah mulai memasuki jalan tanah, kanan kiri hanya ada pohon rindang, amat sangat gelap..

Penerangan hanya bersumber dari lampu motor yang kami tunggangi, dan hanya suara deru motor yang terdengar di tengah-tengah hutan itu.

Hanya tinggal beberapa kilometer lagi kami sampai di rumah, ketika lampu motor mulai berkedap kedip seperti hendak mati, ditambah suara mesinnya yang mulai terdengar berebet (batuk-batuk).

Dan benar, terjadi hal yang sangat ditakutkan, mesin motor mati. 

kami terdampar di tengah hutan, tengah malam.

Om turun dari motor, sedangkan Wahyu langsung mencoba memperbaiki motor.

“Apa kita dorong aja motornya yu? Kita jalan kaki.” Om memberi ide..

“Saya coba memperbaikinya dulu pak, paling hanya businya yang kotor.” begitu jawab Wahyu, om ikuti saja aoa maunya.

Suasana mulai mencekam, jam sudah lewat dari pukul sebelas malam.
Gak ada suara sama sekali, hanya terdengar suara peralatan wahyu yang sedang mencoba memperbaiki motor.

Sangat hening..

Semakin mencekam lagi, ketika terdengar lolongan anjing dari kejauhan, lolongan yang panjang, lolongan yang biasanya menandakan akan kehadiran sesuatu.

Om coba mengalihkan pikiran dengan ikut berjongkok di sebelah Wahyu..

Lolongan anjing semakin jelas dan semakin dekat terdengar..

Om melihat ke arah Wahyu, setelah tiba-tiba dia mencolek tangan om, dan kemudian me ngarahkan jari telunjuknya ke arah hutan.

Di tengah gelapnya malam itu, om mencoba melihat ke arah yang Wahyu tunjuk.

Tapi om gak melihat apa-apa, hanya deretan pohon dalam gelap gulita..

Suara lolongan anjing kembali terdengar, ketika om akhirnya bisa melihat apa yang ditunjuk oleh Wahyu..

Dari kejauhan, terlihat beberapa orang yang sedang berjalan berbaris, karena masih begitu jauh dan gelap, orang-orang itu masih terlihat berbentuk siluet hitam.

Mereka berjalan dari dalam hutan menuju tempat kami berada..

Ketika semakin dekat, barulah terlihat semakin jelas kalau mereka berjalan membawa sesuatu..

Beberapa orang yang paling depan memanggul keranda mayat..

Iya, mereka berbaris membawa keranda mayat, berjalan cukup cepat..

Suasana sangat mencekam, kami terdiam gak mengeluarkan sepatahkatapun.

Sangat menyeramkan, tengah malam, di tengah-tengah hutan, melihat orang yang berbaris membawa keranda mayat.

Om merinding ketakutan, begitu juga dengan Wahyu..

Ketika sudah cukup dekat, baru terlihat kalau mereka berpakaian serba hitam, berbaris memanjang, sambil berjalan..

Ah ternyata bukan berjalan, mereka terlihat seperti melayang, gak menyentuh tanah, walaupun kaki-kakinya bergerak seperti melangkah..

Kami semakin terdiam, ketakutan..

Untunglah, ketika sudah tinggal beberapa meter jarak kami, mereka berbelok ke kanan, ke arah dimana rumah kami berada.

Setelah semuanya berbelok arah, lalu berjalan menjauh…

Hingga akhirnya semua menghilang ditelan gelapnya malam..

Suara lolongan anjing ikut menghilang..


Setelah sudah mulai tenang dan nafas sudah teratur, Wahyu mencoba untuk menghidupkan motor.

Alhamdulillah, motor kembali menyala seperti semula. Buru-buru kami melanjutkan perjalanan.

Masih gak banyak kata yang keluar dari mulut kami..

Kali ini, Wahyu sangat pelan mengendarai motor, dia masih merasa ketakutan..

Gak sampai lima belas menit kemudian, om kaget, nyaris terjatuh dari motor.
Karena tiba-tiba Wahyu menghentikan motor secara mendadak.

Ada apa? Kok Wahyu tiba-tiba berhenti?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *