Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
RHDPK #11

RHDPK #11

Cerita malam ini akan mengisahkan pengalaman #briikecil waktu liburan di perkebunan karet tempat Om Heri dan Om Wahyu bekerja.
Menyeramkan..
Ingat, jangan pernah baca cerita di sini sendirian, kadang “mereka” gak hanya sekadar hadir dalam cerita.

****
Libur telah tiba, inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh semua anak sekolah, termasuk gw.
Libur yang cukup panjang, selama hampir sebulan gw gak akan bersentuhan dengan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah, sangat menggembirakan, walau pun belum tahu akan mengisi liburan ke mana.
Waktu itu masih kelas enam SD, beberapa bulan ke depannya gw akan menghadapi ujian akhir sekolah. Tapi walau pun begitu, gw tetap ingin mengisi liburan dengan jalan-jalan, entah ke mana.
***

Gw lupa pastinya waktu itu hari apa, yang pasti sudah memasuki hari libur, karna gw sedang berada di rumah.
Sedang asik di depan tv ketika terdengar suara ketukan dari pintu depan. Gw langsung berdiri dan menuju pintu untuk membukanya.

Kaget bercampur senang, karna ternyata ada tamu jauh yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Gw gembira ketika melihat salah satu sosok yang gw kagumi, berdiri di depan pintu.
“Om Heri…!!”
Setengah berteriak gw menyambutnya.
“Hahaha.., kaget ya liat om datang?”
Sambil tertawa Om Heri menyapa dengan pertanyaan.

Kami langsung berpelukan..
Selanjutnya, kami terlibat dalam perbincangan yang seru.
Sudah cukup lama gw gak bertemu dengan om Heri semenjak dia pindah bekerja ke daerah Sumatera.

Sebelumnya gw hanya mendengar cerita dari Bapak kalau om Heri akhirnya mendapatkan pekerjaan yang lumayan bagus, kerja di perkebunan karet yang dimiliki oleh pemerintah. Hanya itu saja yang gw tahu..

“Om baru aja dari Jakarta Brii, ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor pusat. Sudah lama gak ketemu kamu, makanya om sempatkan mampir..”
“Trus om kapan berangkat lagi ke tempat kerja? Perkebunan karet itu kan Om?”‘

Tanya gw antusias,
“Mungkin lusa om sudah harus kembali ke perkebunan itu, kasihan teman om sendirian mengurus pekerjaan.”
Tiba-tiba terlintas di pikiran sebuah ide yang cukup cemerlang. Gw berpikir untuk ikut om Heri ke tempat kerjanya, perkebunan karet, untuk mengisi liburan.

Gw pikir, dari pada nanti pada akhirnya gak kemana-mana, ya lebih baik ikut om Heri ke pedalaman Sumatera kan..
“Serius km mau ikut om?” Tanya om Heri ketika gw melempar ide tersebut.
“Serius om, kan aku juga lagi libur panjang, boleh kan Om? Tolonglah om..”
Gw menjawab sambil sedikit memelas.
“Ya sudah, kamu tanya Bapak Ibu kamu dulu deh, kalau mereka kasih ijin lusa kita berangkat.”

Ah, senang sekali gw mendengar jawaban om Heri.
Singkatnya, ibu dan bapak akhirnya memberikan ijin untuk gw ikut om Heri.

Tapi memang, orang tua gak pernah susah memberikan ijin untuk bepergian jauh, sejak gw kecil. Bersama teman atau sendirian, waktu masih SD, gw sudah melanglang buana ke Lampung, Palembang, Jakarta, Bandung. Ketika sudah SMP lebih jauh lagi gw berpetualang.
Nanti kapan-kapan gw ceritain semua, gak malam ini.
***

Menurut Om Heri, perjalanan ke perkebunan karet akan memakan waktu sekitar 18 jam, kami menggunakan bis umum.

Singkatnya, pada hari yang sudah ditentukan, sekitar jam sebelas siang kami sudah berada di atas bis yang akan membawa kami langsung menuju kota kecil yang berada di daerah Sumatera Selatan.

Sejak kecil, gw sangat gemar jalan-jalan ke daerah yang jauh dari rumah dan belum pernah gw kunjungi sebelumnya. Termasuk kali ini, gw sangat senang, ditambah dengan keberadaan om Heri, salah satu Om favorit.
Dalam perjalanan, kami banyak berbincang, seperti biasa om Heri menceritakan kisah pengalaman yang pernah dia alami, termasuk pengalaman seramnya juga, malah itu yang gw tunggu.

Namun om Heri belum menceritakan secara detail tentang pengalaman yang dia alami di tempat kerja yang sekarang, dia cuma bilang kalau dia tinggal di perkebunan karet yang letaknya cukup jauh dari keramaian. Om Heri bilang juga kalau tempatnya indah dan masih sangat asri.
“Nanti kita turun di salah satu kota Brii, dari kota itu kita lanjut naik motor ke perkebunan. Tempatnya bagus banget, kamu pasti senang di sana. Tapi…”
“Tapi apa Om?”
Om Heri terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Kamu nanti gak usah takut kalau ada sesuatu yang agak-agak seram ya. Gak usah takut, kan ada Om.”
Lanjutan kalimat om Heri membuat gw bertanya-tanya.
Sesuatu yang seram? Apa itu?
Hantukah? Atau yang lain?
Ah, apa pun, gw akan tenang kalo udah bersama Om Heri.
Tapi tetap saja penasaran. Ada apa di perkebunan karet itu?
***
Keesokan harinya sekitar jam delapan pagi, bis berhenti di satu kota kecil, kami turun di tempat itu.
Selanjutnya bis melanjutkan perjalanannya menuju Palembang.

Kami turun di sebuah kota kecil yang tidak terlalu ramai, tapi masih termasuk di jalur lintas Sumatera.
Pagi itu matahari mulai bersinar cukup terik, mata gw agak perih melihat sinarnya karna kurang tidur dalam perjalanan.
“Kita jalan kaki sedikit ya Brii, ambil motor yang om titipkan di rumah teman.”

Om Heri bilang, dia menitipkan motornya di rumah salah satu temannya yang tinggal di kota itu, Pak Rusli namanya.
Di bawah sinar matahari yang semakin panas, kami berjalan kaki menyusuri jalan kota.

Gw membawa tas gendong yang berisi pakaian dan perlengkapan lainnya, ukurannya cukup besar dan berat. Om Heri bilang, terserah gw mau sampai berapa lama nantinya tinggal di perkebunan, kalau nanti sudah merasa bosan dan ingin pulang om Heri akan mengantarkan gw pulang lagi.

Sekitar 30 menit berjalan kaki, akhirnya kami tiba juga di rumah Pak Rusli.
Rumahnya cukup besar, kami disambut oleh seorang ibu yang ternyata adalah istri Pak Rusli.

Kebetulan Pak Rusli sedang gak ada di rumah, jadi setelah sedikit berbasa-basi kami langsung mengambil motor dan berpamitan.
***
Hampir jam sepuluh pagi ketika kami sudah berboncengan di atas motor menuju tempat kerja om Heri, perkebunan karet.

Matahari semakin terik, gw yang duduk di belakang sangat menikmati perjalanan.

Awalnya motor menyusuri jalan kota, kota kecil yang banyak terlihat toko-toko dan warung di sisi jalan.

Semakin lama semakin jarang bangunan dan keramaian yang gw lihat, hingga berangsur-angsur menjadi sepi dan hanya tinggal lahan kosong sebagai pemandangan.

Berikutnya pemandangan berganti dengan pepohonan yang besar dan rindang, jalan yang kami lalui pun, yang tadinya jalan aspal, berganti dengan jalan tanah yang hanya cukup untuk dilewati oleh kendaraan roda dua.
Kami mulai memasuki kawasan hutan..
***
Gak terlihat ada tanda-tanda kelelahan, om Heri terus saja berbicara memberikan penjelasan tentang apa saja yang kami lewati dan lalui selama perjalanan.

Om Heri bilang, hutan yang sedang kami lalui ini masih termasuk kawasan hutan lindung yang dimiliki dan diawasi oleh pemerintah. Masih banyak hewan-hewan liar di dalamnya.

Benar adanya, hutan ini sangat rindang, sinar matahari hanya dapat menembus ke dalamnya dalam bentuk garis-garis sinar terang. Udara yang kami hirup sangat bersh dan menyejukkan, sama sekali gak ada polusi.
Gw sangat menikmati perjalanan, perjalanan seperti inilah yang sangat gw sukai.

Sekitar 30 menit kemudian, pepohonan besar dan rindang berganti dengan barisan pohon karet yang berjajar rapi.

Kami mulai memasuki kawasan perkebunan karet..
“Ini sebagian wilayah perkebunan karet tempat om kerja, ini ujung baratnya, kita lanjut terus ke timur, sebentar lagi sampai rumah.”
Perkebunan yang sangat luas, sejauh mata memandang hanya terlihat barisan pepohonan karet yang menjulang, barisannya membentuk terowongan yang sangat jauh, beralaskan rumput ilalang yang beragam tingginya.

Gak bosan-bosannya gw memandang sekitar.
Perjalanan motor itu hanya sesekali berpapasan dengan motor lain yang berlawanan arah, om Heri selalu bertegur sapa dengan mereka, sepertinya dia kenal dengan orang-orang itu.
“Brii, kita mampir ke tempat teman-teman om yang sedang bekerja dulu ya, sebentar aja kok.”
“Iya om..” Jawab gw singkat.

Kemudian motor berbelok arah ke kiri jalan, mulai menembus rumput ilalang yang tumbuh di dela-sela pohon karet.
Matahari terlihat semakin meninggi, menandakan waktu sudah menjelang tengah hari.

Sesaat kemudian, dari kejauhan gw melihat ada beberapa orang yang berkumpul di sekitar pohon karet. Tapi setelah kami lebih dekat lagi ternyata jumlah orang yang ada di situ cukup banyak, sekitar dua puluh orang lebih.

Om Heri menghentikan motor dan memarkirnya di dekat orang-orang itu, yang gw yakin kalau mereka adalah temen-teman pekerja om Heri di perkebunan itu.
***
“Asalamualaikum, maaf saya baru datang.”Om Heri menyapa para pekerja yang sebelumnhya sibuk dengan kegiatannya, lalu mereka menjawab salam dengan sumringah.
“Siapa ini Pak?” Tanya salah satu pekerja.
“Oh iya, ini Brii, keponakan saya, tinggalnya di jawa.” Jawab om Heri.
“Oh ini yang namanya Brii, om kamu ini sering cerita tentang kamu loh, katanya kamu anak yang pemberani ya..hehe.”
Jawab salah satu pekerja yang belakangan gw tahu kalau namanya adalah Wahyu.

Itulah saat pertama kali gw bertemu dengan om Wahyu. Berperawakan kurus tinggi, rambutnya agak panjang dan ikal, kulit yang gak terlalu hitam dan gak terlalu putih juga.

Walau baru beberapa menit kami bertemu dan berkenalan, gw merasa kalau om Wahyu adalah orang yang menyenangkan.
“Semoga kamu betah di sini, nanti malam kita makan ayam bakar ya, om yang buat sendiri.”

Begitu om Wahyu menutup percakapan, setelahnya dia kembali bekerja.
Sekitar jam dua belas siang, Om heri berpamitan ke seluruh pekerja, dia bermaksud mengajak gw pulang ke rumahnya untuk beristirahat.
Setelah perjalanan jauh kami memang sangat lelah dan membutuhkan istirahat.
Kami pun pulang..
***
Gak terlalu lama perjalanan, ketika kemudian om Heri menghentikan motor di depan sebuah rumah, rumah yang hanya berdiri sendiri di kawasan itu, sama sekali gak ada bangunan lain di sekitarnya.

“Ini tempat tinggal om dan om Wahyu Brii, bagus kan rumahnya, hehe..”
Rumah yang gak terlalu besar, tapi gw melihatnya cukup nyaman. Halaman luas yang beralaskan rumput yang terawat, sebelah kirinya ada kandang ayam yang berdiri di depan beberapa baris tanaman singkong.
“Di belakang rumah,  gak terlalu jauh, ada sungai yang jernih airnya, nanti kita ke sana ya.” Kata om Heri, gw mengangguk-angguk saja mendengarkan.

Setelah itu kami masuk ke dalam rumah.
Om Heri menyuruh gw untuk meletakkan tas di kamar tengah, kamar cukup besar dengan tempat tidur besi berkelambu.
Gw membuka jendela kamar yang langsung dapat melihat pemandangan kebun karet.
“Kamu tidur di kamar ini sama om nanti, om Wahyu di kamar depan.” Begitu kata om Heri.
“Kamu istirahat aja dulu, tidur ya, capek banget kan. Om mau beberes rumah sebentar.”

Benar kata om Heri, gw capek dan mengantuk.
Gak lama setelah merebahkan badan di atas tempat tidur, gw langsung terlelap.
***

Jarum jam sudah lewat dari pukul empat sore ketika gw terbangun sendirian di dalam kamar. Angin sepoy-sepoy bertiup masuk melalui jendela yang masih dalam keadaan terbuka, angin sore yang cukup menyejukkan.

Rumah dalam keadaan sepi, gak terdengar sedikit pun ada aktifitas di dalamnya. Asumsi gw saat itu, rumah dalam keadaan kosong.

Gw bangun dari tempat tidur lalu berjalan ke ruang tengah, duduk di kursi yang menghadap ke bagian belakang rumah.

Gw bisa melihat pintu belakang dan pintu kamar mandi dari situ.
Di meja yang berada persis di depan gw duduk, ada beberapa majalah dan koran yang letaknya berdampingan dengan asbak  yang berisi sisa puntung rokok yang masih menyala apinya.
Iya, masih ada puntung pendek rokok yang masih menyala di atas asbak itu.
“Ah ternyata ada orang di rumah..”
Begitu gw pikir dalam hati.

Entah itu om Heri atau om Wahyu, saat itu gw yakin kalau ada orang lain di dalam rumah selain gw.

Gw semakin yakin, ketika tiba-tiba terdengar suara jebur-jebur air dari dalam kamar mandi.
“Om Heri atau Om Wahyu sedang mandi rupanya..”
Begitu gumam gw dalam hati.

Suara air itu cukup lama terdengar, kadang menghilang juga sesekali, lalu kemudian terdengar lagi. Begitu seterusnya hingga nyaris setengah jam.
Sementara puntung rokok yang tadinya masih menyala, sudah mati karna tembakaunya habis.
“Om…?”
Gw mencoba memanggil ke arah kamar mandi, namun gak ada jawaban. Kemudian suara air kembali terdengar.
Begitu seterusnya..
***
Sudah hampir jam lima sore, ketika akhirnya gw memutuskan untuk ke luar rumah, duduk di kursi yang berada di teras.
Gw menikmati suasana sore di perkebunan itu, masih sangat asri..

Hanya terdengar suara dahan dan daun pepohonan yang bersentuhan satu sama lain akibat tiupan angin. Suara kokok ayam yang mulai mendekat ke kandangnya juga menambah indahnya suasana.
“Itu di kamar mandi siapa ya, lama amaat. Aku pingin pipiiiiiss..”
Gw mulai merajuk dalam hati.

Tapi memang benar, selama nyaris satu jam, entar itu om Heri atau om Wahyu yang sedang berada di dalam kamar mandi, sangat lama.

Hingga akhirnya, dari kejauhan gw melihat beberapa orang datang berbondong-bondong mendekat ke arah rumah. Ada yang menggunakan motor, ada juga yang menggunakan sepeda.

Setelah jarak kami cukup dekat, baru gw dapat memastikan kalau itu adalah Om Heri dan Om Wahyu, mereka datang bersama para pekerja lainnya.
Tunggu, Om Heri dan Om Wahyu?
Kenapa mereka berdua ada di luar rumah? Lalu yang sedang mandi dari tadi siapa?
Yang meninggalkan puntung rokok di asbak siapa?
***
“Brii, knapa bengong?”
Tanya om Heri ketika baru saja turun dari motor.
“Gak apa om.” Jawab gw pendek, masih kebingungan.
“Maap ya tadi om tinggal sendirian, maksudnya supaya kamu bisa beristirahat. Karna om harus bekerja di perkebunan.”
“Iya, gak apa-apa om.” Jawab gw.
Lalu gw melihat om Wahyu langsung masuk dan berjalan ke belakang rumah, lalu masuk ke kamar mandi..

Penasaran, gw ikut masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi.
Di depan lamar mandi gw berdiri diam, menunggu om Wahyu keluar.
“Aahh..lega, dari sejak di atas motor tadi om kebelet pipis brii..”
Om Wahyu bilang begitu sambil cengengesan setelah keluar dari dalam kamar mandi.

“Kamu mau ke kamar mandi juga,”
“Iya om.” Jawab gw singkat.
Setelah di dalam kamar mandi, gw masih terbengong-bengong memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Siapa yang tadi mandi?
***
Om Wahyu terus saja bicara, seperti gak pernah kehabisan topik bahasan, berbicara dengan gayanya, dengan logat Sumatera Selatan yang kental. Gw sangat senang mendengar dia bercerita, sepertinya dia juga senang dengan kehadiran gw.

Sementara om Heri hanya sesekali menimpali omongan om Wahyu yang terus saja bicara sambil sesekali menghisap rokok di tangannya yang entah berapa batang sudah dia habiskan.

Seperti yang om Wahyu janjikan pada siang hari sebelumnya, kalau malam ini kami akan menikmati ayam bakar hasil olahan tangannya sendiri. Kami menikmati ayam bakar malam itu.

Sekitar jam sembilan malam kami sudah selesai makan dan melanjutkan berbincang di teras rumah.

Suasana perkebunan yang memang berada tepat di hadapan terlihat sangat gelap, kebetulan juga langit sepertinya tertutup awan, gak ada sinar sedikit pun yang menerangi sekitar, hanya mengandalkan lampu templok yang menempel pada dinding rumah.

Gak ada suara yang terdengar kecuali suara jangkrik bersahutan dan katak yang sepertinya meminta hujan.
Pada saat itu, gw belum menceritakan kejadian yang gw alami di rumah pada sore harinya, belum..
Walau pun berkecamuk perasaan memikirkannya. Nanti sajalah, pikir gw saat itu.

Kami terus berbincang seru sampai hampir jam sepuluh malam. Hingga akhirnya rintik hujan mulai turun dari langit, meskipun belum terlalu deras, tapi kami memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
***
Gw tidur bersama dengan om Heri di kamar tengah, sementara om Wahyu di kamar depan.
Petromak di ruang tengah dibiarkan tetap menyala, sementara di kamar hanya mengandalkan lampu templok kecil.
“Kalo kamu mau ke kamar mandi, bangunin om ya brii, jangan sendirian.”
Begitu om Heri bilang.
“Iya om.”

Gw tidur pada sisi tempat tidur yang dekat dengan tembok, sementara om Heri di sisi yang satunya lagi.

Kelambu menutupi seluruh bagian tempat tidur, karna malam itu memang sedang banyak-banyaknya nyamuk.

Gw yang memang cukup lama tidur siang, belum merasakan kantuk sedikit pun ketika jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Sementara om Heri sudah tidur sangat nyenyak..

Gw hanya menghabiskan waktu dengan memperhatikan seluruh ruangan kamar, sambil mendengarkan suara rintik hujan yang terdengar dari luar.
Melamun gak jelas..

Jam dua belas malam, gw masih saja terjaga tanpa merasakan kantuk sedikit pun.

Hujan sudah berhenti, suara alam berganti dengan suara singgungan dahan dan daun pepohonan yang tertiup angin. Selain itu gak ada suara lain, agak mengerikan.

Jam setengah satu malam..
Angin berhenti bertiup, suasana sangat hening dan sepi.
Gak ada suara sedikit pun..
Sepi..
Hening..
Hingga pada akhirnya terdengar dari kejauhan lolongan panjang anjing hutan.

Sebelumnya gw belum pernah mendengar suara lolongan anjing seperti itu, baru pada saat itu gw mendengarnya.

Perasaan gw mulai gak enak ketika lolongan itu semakin sering terdengar dan semakin dekat, menambah seram suasana..
Keadaan itu membuat gw semakin gak bisa memejamkan mata.
“Sreeek..sreekk…srekk..”

Tiba-tiba muncul suara seperti ada orang yang sedang menyapu dengan sapu lidi, suaranya terdengar bersumber dari sebelah kanan rumah, gak jauh dari jendela kamar.

“Siapa yang menyapu malam-malam begini? Om Wahyu kah? Sepertinya gak mungkin, ngapain dia nyapu malam-malam begini.”
Banyak pertanyaan di dalam kepala..

Gw mulai ketakutan, ketika sayup-sayup terdengar suara cekikikan perempuan dari luar jendela. Suaranya sangat dekat.
Gw semakin ketakutan..
“Itu siapa…”

Gw masih belum berniat untuk membangunkan om Heri yang masih saja tertidur pulas.

Cukup lama “perempuan” itu menyapu dengan sapu lidinya, ditambah dengan sesekali tertawa cekikikan menyertai aktifiasnya.
Untunglah, beberapa saat kemudian suara menyapu dan tawa itu menghilang dengan sendirinya.

Gw menjadi sedikit tenang, walau pun masih ada perasaan was-was.
Tapi tetap saja, gw masih belum juga merasakan kantuk..
Kembali gw melamun di tengah keheningan malam itu.
Hingga tiba-tiba..

Pintu kamar mendadak terbuka, terbuka dengan sendirinya.
Gw kaget, langsung mengarahkan pandangan ke pintu.
Pintu benar terbuka, tapi gak terbuka lebar, hanya sejengkal celah kecil..
Tapi dari celah kecil itu gw dapat melihat keadaan ruang tengah.

Ruang tengah terlihat temaram, tampaknya lampu petromak yang menggantung hanya tinggal menyisakan sisa-sisa cahayanya yang terakhir.
Sambil ketakutan, gw terus saja memperhatikan celah pintu itu, memperhatikan dengan seksama ke ruang tengah, karna gw merasa mulai ada aktifitas di sana.

Iya, ada aktifitas di ruang tengah..
Tiba-tiba gw merinding, ketika melihat sekelebat bayangan terlihat lewat di depan pintu.
Hanya sekelebat, tapi gw yakin itu bukan om Wahyu..
Gak hanya satu kali, kelebatan bayangan hitam itu lewat kembali dalam rentang waktu yang berdekatan.

Hingga akhirnya ruang tengah tiba-tiba menjadi gelap gulita, lampu petromak sepertinya sudah menghembuskan nafas terakhir, alias mati..
Gw langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, gak berani memandang celah pintu itu lagi.
Gw ketakutan..

Hingga akhirnya, di tengah kekalutan perasaan, gw mendengar suara nafas seseorang.
Bukan, bukan suara nafas, tepi seperti suara orang yang menggeram.
Gw yakin itu bukan suara om Heri yang masih saja terlelap.
Pelan-pelan gw mulai mengalihkan pandangan ke pintu..
Awalnya hanya terlihat gelap, gw gak melihat apa-apa..
Lolongan panjang suara anjing kembali terdengar, semakin menambah kencang degup jantung..

Kemudian, cahaya lampu templok di dalam kamar memantulkan sedikit cahaya, membantu penglihatan gw yang terus saja menatap ke arah pintu.
Barulah gw dapat melihat sesuatu..

Gw melihat ada sosok yang gw pikir adalah sosok yang mengeluarkan suara geraman..
Sosok hitam dengan tinggi tubuh sama dengan tinggi manusia normal.
Sosok itu hanya diam berdiri di depan pintu, sepertinya berdiri menatap gw yang masih diam terpana ketakutan.
Gw ketakutan..
Sangat ketakutan..
Sosok itu menatap dengan mata yang lambat laun mulai mengeluarkan cahaya berwarna merah..
Semakin ketakutan, tetapi gw tetap gak bisa berbuat apa pun.
Tubuh seperti kaku gak bisa bergerak..
***
Udah dulu ya..
Suasana di sini mulai gak enak, ini gw beneran ketakutan kalo ingat kejadian itu.
Minggu depan InsyaAllah dilanjut lagi.
Met bobo, semoga mimpi indah.
Salam~Brii~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *