Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
RHDPK #10

RHDPK #10

Angin dingin berhembus pelan dari arah depan, peluh mulai bercucuran, tanpa lelah kami terus berusaha melangkahkan kaki dengan cepat tanpa berani sedikitpun menoleh ke arah belakang.

Wahyu yang berjalan di depan sesekali memberi arahan harus kemana kaki ini dilangkahkan, sementara om yang berjalan di belakangnya terus mengikuti kemana Wahyu menuju.

Walaupun tidak melihat secara langsung, om tetap mendengar suara langkah kaki yang terseret-seret bergesekan dengan tanah, langkah kaki yang seperti terus saja mengikuti dari belakang.

Di balik cahaya obor yang berada di tangan Wahyu, pandangan kami hanya menangkap suasana hutan yang gelap gulita, binatang penghuni hutan sesekali mengeluarkan bunyi, ditambah dengan lolongan panjang anjing yang masih saja terdengar dari kejauhan.

Keadaan yang amat mencekam.
“Pak maaf, saya lupa jalannya, sepertinya jalan ini sudah pernah kita lewati tadi.”

as Wahyu tersengal-sengal ketika dia bilang kalau ternyata kami berada di tempat yang pernah dilewati.

Benar apa yang Wahyu bilang, om ternyata melihat gubuk tempat kami berteduh sebelumnya, gubuk yang terletak di sebelah kanan jalan, berseberangan dengan pohon-pohon pisang tempat kami melihat sosok hantu tak berkepala.
Kami kembali ke tempat yang sama..

***

Tidak mau membuang-buang waktu untuk berpikir, kami tetap malanjutkan langkah, berjalan ke depan.
“Kali ini coba perhatikan jalan lebih seksama lagi Yu.”
“Iya Pak..” Jawab Wahyu pelan.

Sekilas om beranikan diri untuk menoleh ke belakang, ternyata tidak terlihat lagi sosok yang mengikuti kami, sosok tak berkepala. Hanya gelap gulita yang terlihat.

Perlahan, bulan mulai terlihat muncul dari balik awan, memancarkan sinarnya menerangi malam panjang yang tengah kami coba untuk lewati.
Tubuh sudah mulai lelah, membuat langkah kaki semakin lambat.

Om sadar kalau masih ada yang tidak beres di perjalanan kami ini, perjalanan yang berulang lagi dari titik yang sama dan jalur yang sama.
Daerah yang kami lewati pun daerah yang sama.
Sementara itu suasana tetap mencekam, sama sekali tidak ada percakapan di antara kami.

Peluh semakin deras bercucuran, namun pikiran tetap berharap semoga dapat melalui hutan rimba ini dengan selamat.

Tiba-tiba mulai terdengar lagi langkah yang terseret-seret di belakang, suara langkah yang dapat dipastikan kalau itu bersumber dari sosok yang mengikuti kami.
“Jangan melihat ke belakang Pak, terus jalan.”
Gemetar suara Wahyu memberi peringatan, om hanya mengangguk mengiyakan.

Sosok itu kembali mengikuti..
Suaranya semakin dekat, semakin terdengar jelas kalau sumbernya berada hanya beberapa meter di belakang.
Tubuh om merinding ketakutan, terus menerus membaca doa di dalam hati.

Tiba-tiba, selain suara langkah kaki, terdengar juga suara seperti ada orang yang sedang bernafas dengan berat, lenguhannya terdengar hanya beberapa sentimeter di belakang.

Om berjalan lebih cepat, sedikit mendorong tubuh Wahyu agar lebih cepat lagi melangkah.
“Cepat Yu..”
Wahyu mengerti, dan mulai berlari kecil.

Beberapa saat kemudian suara langkah dan nafas itu menghilang..
Suasana kembali hening seperti semula.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Wahyu kembali berhenti melangkah..
Ada apa?

Ternyata, kami kembali sampai di tempat yang sama, kembali ke gubuk tempat kami berteduh tadi.
Kami kembali ke titik yang sama..
“Bismillah Yu, kita coba lagi, kalau kali ini gak berhasil juga kita harus kembali ke kampung Usman.”
“Iya Pak..”
Wahyu mengangguk pelan.

Sekali lagi kami menyusuri jalan setapak yang sama, jalur yang sama.
Sudah sangat lelah, kekhawatiran kami semakin bertambah ketika melihat api obor yang ada di genggaman wahyu mulai meredup, sepertinya minyak tanahnya sudah mulai habis.

Benar saja, akhirnya obor padam, suasana menjadi semakin gelap dan mencekam. Kami hanya tinggal mengandalkan lampu senter yang ada di genggaman tangan om untuk penerangan.
“Biar saya aja yang memegang lampu senternya Pak.”
Om menyerahkan lampu senter itu kepada Wahyu, karna memang dia yang selalu berjalan di depan.
Masih tidak ada perbincangan, kami terus berjalan melangkahkan kaki dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki.
Sudah kali ke tiga kami melewati tempat yang sama, jalan setapak yang sama, bagian hutan yang sama. Namun kami belum menyerah, akan terus berjalan sampai benar-benar sampai di tujuan.
***

Entah pada bagian hutan yang mana, tiba-tiba kami melihat sesuatu di depan, di kejauhan
Kami melihat cahaya kecil yang bergerak-gerak.
Cahaya apa itu?

Dari kejauhan, kami melihat kalau ternyata cahaya itu bersumber dari nyala api obor, obor yang sepertinya dibawa oleh seseorang.
Orang membawa obor itu berjalan ke arah yang sama dengan arah yang kami tuju, berjalan di atas jalan setapak yang sama dengan jalan yang kami lalui.

“Ada orang di depan Pak, ayo kita kejar..”
Aku mengangguk setuju, berharap orang itu nantinya akan dapat membantu menunjukkan jalan kami menuju pulang.

Tapi semakin cepat kami melangkah untuk mendekatinya, orang itu seperti terus saja menjaga jarak, menjauh.
Pada suatu waktu, ketika jarak kami mulai mendekat, Wahyu mencoba memanggil orang itu.
“Pak…!”

Setengah berteriak Wahyu memanggil, suaranya memecah keheningan malam itu.

Bukannya berhenti atau memperlambat laju jalan, orang itu malah terus saja berjalan bersama obornya, terus saja menjaga jarak, panggilan Wahyu tidak digubris.

Semakin jauh jarak kami dan orang itu, hingga pada akhirnya kami hanya dapat melihat cahaya api obor yang terus menyala di kegelapan hutan, api obor yang bergerak-gerak tertiup angin..

Tapi beberapa saat kemudian cahaya obor itu terlihat berhenti..
Melihat hal itu, kami jadi mempercepat langkah lagi supaya dapat sampai ke tempat orang itu berhenti.

Ketika jarak hanya tinggal beberapa belas meter, kami lihat orang itu berjalan kembali, kali ini langkahnya berbelok ke arah kanan, keluar dari jalan setapak.

Kami berhenti sejenak, untuk mengetahui akan ke mana sebenarnya orang itu menuju.
Di dalam gelap, kami melihat kalau ternyata dia masuk ke satu wilayah yang di depannya berdiri gapura kecil yang tidak terlalu tingg, Wahyu menyorot sinar lampu senter ke arah gapura itu.
Orang itu melawati gapura dan masuk ke dalamnya.

Tidak terlalu banyak pohon di sana, hanya ada beberapa pohon rindang dan besar berdiri di beberapa sudutnya. Lebih banyak terlihat tanah lapang yang kosong.

Kami kembali berjalan secara perlahan, melangkahkan kaki dengan sangat hati-hati.
Orang itu mau ke mana?
Wilayah apa yang dia masuki?

Setelah kami tiba persis di depan gapura, ada papan panjang bergantung di atasnya, di papan itu terdapat tulisan yang saat itu kami belum tahu itu tulisan apa.

Perlahan Wahyu mengarahkan lampu senternya, mencoba membaca tulisan yang tergores lusuh dan kusam.

Kemudian..
Kami langsung mundur beberapa langkah, ketika pada akhirnya kami dapat membaca tulisan yang terpampang di atas gapura.
Papan itu bertuliskan: “Pemakaman umum Desa Jati Mulya.”
Ternyata tempat itu adalah pemakaman umum..

Wahyu lalu mengarahkan lampu senter ke dalam wilayah pemakaman, terlihat gundukan-gundukan tanah yang terdapat batu nisan di atasnya selayaknya kuburan.

Suasananya sangat gelap dan mencekam, kabut tipis terlihat sedikit menutupi sebagian wilayah.
Kami berdiri diam, ketakutan.

Cahaya lampu senter Wahyu yang terus menjelajah ke setiap sudut pemakaman, yang pada akhirnya berhenti di satu kuburan yang di atas gundukannya masih terdapat bunga-bunga segar bertaburan, tampaknya itu kuburan baru.

Dalam diam, lalu kami mengarahkan pandangan ke sinar obor yang sejak tadi kami ikuti. Kali ini yang terlihat hanya tinggal nyala api obor, di dalam gelapnya wilayah pekuburan.

Obor itu seperti melayang berjalan sendiri, tidak ada orang yang memegangnya, berjalan terus memasuki wilayah pemakaman.
Kami masih diam memperhatikan, sangat berat kaki untuk melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Kemudian obor berhenti bergerak, diam di depan salah satu makam.
Cukup lama obor itu diam, hanya apinya saja yang bergerak bergoyang tertiup angin.

Sampai akhirnya obor itu mulai kembali bergerak perlahan..
Berjalan pelan ke depan, ke arah kuburan yang ada di depannya.

Nyala obor semakin lama semakin rendah, seperti hendak masuk ke dalam liang kubur..

Benar, cahaya obor itu lalu menghilang, masuk ke dalam liang salah satu makam.

Obor itu masuk ke dalam kuburan..

Kami gemetar ketakutan, peristiwa apa lagi ini?
“Pak, kita lanjut jalan Pak.”
Suara Wahyu bergetar dengan pelan, nyaris seperti berbisik.
Tanpa bicara sedikitpun, om mengangguk pelan.
Berjalan kami meninggalkan pemakaman umum yang sangat menyeramkan itu, berharap semoga kami tidak akan kembali ke tempat yang sama lagi.
***

Kembali kami menyusuri jalan setapak yang membelah hutan, waktu seperti berhenti berputar. Isi kepala masih berkecamuk membayangkan kejadian-kejadian yang baru saja kami alami.

Sangat aneh dan tidak masuk di akal, tetapi benar-benar terjadi.
Tubuh yang sudah sangat lelah seketika kembali seperti mendapatkan sedikit tenaga, ketika dari kejauhan terdengar suara aliran sungai.
Kami mendengar suara air yang mengalir di sungai yang letaknya berada di belakang rumah.
“Alhamdulillah, kita sampai juga akhirnya Yu.”
“Iya Pak, ayo lebih cepat lagi jalannya Pak.”
***

Benar saja, sungai yang berada di depan adalah sungai yang mengalir di belakang rumah.
Kami berhenti di pinggirnya, berdiri di atas gundukan tanah yang sedikit meninggi.

Kenapa kami berhenti? Karna kami melihat debit air yang mengaliri sungai lebih banyak dari pada ketika kami berangkat tadi.

Air sungai terlihat lebih tinggi dan dalam. Kami ambil kesimpulan kalau hal itu terjadi karena sebelumnya hujan yang turun sangat lebat di wilayah itu.
“Kita harus menyeberang Pak, aku sudah sangat lelah, kita harus sampai di rumah.”
Wahyu benar, jarak kami ke rumah hanya tinggal berjarak beberapa ratus meter saja.

Mau tidak mau om harus setuju dengan perkataan Wahyu, kami harus menyeberanginya saat itu juga.
“Ayo kita nyebrang Yu..”
Perlahan kami langkahkan kaki masuk ke dalam sungai, sungai yang sewaktu berangkat tadi tidak terlalu dalam airnya tapi kini sangat berbeda keadaanya.

Semakin jauh melangkah, semakin tinggi air sungai membasahi tubuh.
Kami semakin menggigil kedinginan, ketika ternyata air sudah membasahi tubuh sampai sebatas perut.

Kami semakin lambat dan berhati-hati melangkah ketika merasakan kalau arus sungai ternyata cukup deras, ada kemungkinan hanyut kalau tidak berhati-hati.

Sukurlah, walaupun perlahan akhirnya kami sampai juga di seberang.
Lalu kami menerobos masuk ke dalam pepohonan bambu.
Tidak berapa lama kemudian, akhirnya kami sampai di rumah.
***

Di dalam rumah, kami langsung jatuh terlelap kelelahan, tidak sempat memikirkan apa-apa lagi.
Malam itu adalah salah satu malam yang pernah kami alami di tempat itu.
Salah satu malam terpanjang yang pernah kami lalui.
***

Balik lagi ke gw ya, Brii..
Tenang, cerita pengalaman Om Heri dan Wahyu masih panjang dan berliku.

Nanti juga akan ada episode ketika #briikecil datang berkunjung di rumah hantu perkebunan karet itu.
#briikecil datang dan menginap, mengisi waktu liburan sekolah, dan ternyata menjadi liburan sekolah yang sungguh sangat menyeramkan, gw masih ingat detail kejadiannya sampai detik ini.
Sangat seru, tunggu ya..
Sekian cerita malam ini, met bobo semoga mimpi indah.
Salam~Brii~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *