Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
RHDPK #1

RHDPK #1

Rumah Hantu di Perkebunan Karet, kisah tentang pengalaman yang dialami oleh salah satu anggota keluarga. Bagian episode dari hidup salah satu Om yang sempat tinggal dan bekerja di perkebunan karet pedalaman Sumatera.


Om Heri namanya..

Om gw yang pernah jadi supir mobil pengantar jenazah di Semarang. Om yang juga banyak memiliki pengalaman aneh dan seram.

Kali ini, beliau akan cerita tentang pengalamannya saat bekerja di salah satu perusahaan perkebunan. Pekerjaan yang dijalani setelah selesai bekerja di satu rumah sakit di Semarang, sebagai supir mobil pengantar jenazah.

Peristiwa ini terjadi pada awal tahun 90an.

Setelah ini, om Heri yang akan menceritakan langsung tentang kejadiannya..
Jadi yang cerita adalah om Heri, bukan Brii.


Waktu itu om bekerja di pedalaman Sumatera, tempat yang sangat terpencil, jauh dari mana-mana, benar-benar di tengah hutan, hutan karet tepatnya.

Alhamdulillah, setelah bekerja sebagai supir mobil jenazah waktu itu, om diterima bekerja di perusahaan perkebunan, yang letaknya di pedalaman Sumatera, dekat perbatasan propinsi Lampung dan Sumatera Selatan lebih tepatnya.

Om bekerja sebagai pengawas perkebunan karet yang total luasnya mencapai hingga ribuan hektar. Tapi tentu saja om gak mengawasi keseluruhannya, hanya beberapa ratus hektar saja yang menjadi tanggung jawab.

Perusahaan ini mempekerjakan banyak pekerja, yang jumlahnya paling banyak adalah buruh lepas, bertugas menyadap karet dari pohonnya, setiap hari.

Nah, salah satu pekerjaan om adalah mengawasi para buruh itu bekerja.

Mengawasi para buruh bekerja, menurut om itu bukan pekerjaan yang terlalu berat, om sangat senang melakukannya.

Karena waktu itu perusahaan masih kekurangan orang, maka om ditugaskan juga untuk mengawasi dan menjaga wilayah perkebunan, agar gak ada pencurian.

Tugas inilah yang agak berat, karena harus berpatroli malam hari, berdua bersama teman menggunakan motor, berkeliling perkebunan yang cukup luas.

Yang terkadang om gak kuat adalah ketika harus mengalami kejadian mengerikan dan melihat pemandangan seram yang sering terjadi dalam prosesnya.


Perusahaan ini memberikan beberapa fasilitas, dan juga gaji yang lumayan besar.

Salah satu fasilitas yang diberikan adalah tempat tinggal. Ada mess berbentuk rumah, disediakan perusahaan lengkap dengan isi dan segala penunjangnya, om diharuskan tinggal di situ.

Rumah besar yang terdiri dari tiga kamar, ruang tengah, dapur dan satu kamar mandi.

Letak rumah ini cukup “menantang”, terletak di tengah-tengah perkebunan karet dan hutan lebat, gak ada rumah lain di sekelilingnya, benar-benar sendirian.

Jarak menuju desa terdekat sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor.

Betapa terpencilnya letak rumah itu..

Oh iya, satu lagi, rumah juga gak berpagar, langsung berhadapan dengan hutan karet.
Dan yang paling seru, rumah ini belum ada aliran listrik, penerangan hanya mengandalkan petromak dan lampu templok minyak tanah.


Ketika pertama kali datang, waktu itu pada pagi hari, om disambut oleh Wahyu, yang nantinya bertugas sebagai asisten om selama bekerja di situ.

Wahyu berumur sekitar 22 tahun. Pemuda asal Palembang yang kebetulan baru tiga bulan bekerja.

Wahyu menyambut dengan ramahnya,

Kemudian kami berbincang, dia menceritakan keadaan dan suasana di tempat itu.

“Jadi, selama tiga bulan pertama kerja, kamu tinggal di sini sendirian?” Tanya om penasaran.

“Nggak pak, saya cuma sempat tinggal di sini selama satu minggu pertama, gak betah saya sendirian pak”

“Trus selebihnya kamu tinggal dimana?”

“Saya kost di desa terdekat pak, pulang pergi ke perkebunan setiap hari, naik motor.” Jawab Wahyu menjelaskan.

“Tapi karena pak Heri sudah datang, saya berani tinggal di sini lagi, kan sudah ada temannya.” Lanjut Wahyu.

Berani? Berarti sebelumnya Wahyu gak berani tinggal di rumah itu, hmmmmm…

Nantinya, kami memang hanya tinggal berdua di rumah itu..


Hari pertama bekerja, Wahyu mengajak berkeliling wilayah perkebunan yang nantinya menjadi wilayah tanggung jawab om, sekaligus memperkenalkan om dengan semua buruh karet yang bekerja di situ.

Wilayah perkebunan yang sangat luas, sepanjang jalan berkeliling menggunakan motor, kami hanya menemui barisan pohon karet yang berjajar rapih, 

Di pinggiran perkebunan terlihat hutan yang cukup rindang.

Cukup melelahkan hari itu, seharian penuh kami hanya berkeliling melihat keadaan perkebunan.

Sekitar jam lima sore, kami pulang..


Malam menjelang..

Wahyu dengan cekatan menyalakan lampu petromak dan semua lampu templok di seluruh ruangan. 
Suasana rumah menjadi cukup terang.
Sekitar sudah gelap, menutup pemandangan kebun karet.

Sangat sepi..


Selepas isya, kami berbincang di teras depan, ada dua kursi dan satu meja yang menjadi tempat kami ngobrol.

Pemandangan depan rumah sangat gelap, hanya ada siluet pohon karet dan rumput liar di sela-selanya.

Suara binatang malam juga terdengar mengiringi suasana.

“Pak Heri nanti tidur di kamar tengah aja Pak, saya di kamar depan. Kamar tengah lebih besar dari kamar lainnya.” Ucap Wahyu di tengah perbincangan.

Om mengiyakan saja..

Hingga sekitar jam sembilan malam kami masuk ke kamar masing-masing. Karena cukup melelahkan hari itu, om mencoba untuk tidur lebih awal.


Persis di depan kamar om adalah ruang tengah, kamar Wahyu ada di sebelah kanan, satu kamar lainnya ada di belakang bersama dapur dan kamar mandi.

Wahyu mematikan petromak yang ada di ruang tengah, hanya lampu templok di dalam kamar yang dibiarkan dalam keadaan menyala.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam, ketika om belum juga bisa memejamkan mata.

Gak ada yang bisa dilakukan di kamar itu, hanya bisa melamun sambil menunggu kantuk datang. Hembusan angin malam menembus jendela kamar yang berbatasan langsung dengan perkebunan karet di luar, anginnya terasa dingin menusuk tulang.

Terdengar juga suara binatang malam yang bersahutan.

Gak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara lolongan panjang anjing hutan.
Lolongan yang banyak arti.

Om mulai merasakan hal yang gak lazim, ketika lolongan anjing itu intensitasnya menjadi semakin sering.

Namun tiba-tiba lolongan anjing berhenti..

Om terdiam, ketika suasana menjadi sangat sepi..

Keheningan itu berlangsung cukup lama..

Jam sudah hampir di pukul satu, ketika om kembali mendengar suara..

Suara yang cukup menarik perhatian..

“Sreeekk…srekkk…sreeek..” kira-kira seperti itu bunyinya.

Dengan tubuh yang masih terbaring di atas tempat tidur, om mencoba untuk menajamkan pendengaran..

Suara itu semakin jelas terdengar..

“Sreeeek sreeek…sreeekk..”

Om langsung terkesiap, ketika menyadari kalau itu terdengar seperti suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah..

Seperti ada orang yang sedang menyapu menggunakan sapu lidi, di luar, dekat jendela kamar..

Siapa yang menyapu tengah malam seperti ini?, Wahyukah? Sepertinya gak mungkin..

Perlahan om bangkit dari tempat tidur dan berjalan medekati jendela, mencoba kembali memastikan keberadaan suara itu.

Setelah sudah berdiri di samping jendela, suara itu semakin jelas terdengar..

“Sreeek…sreekk..srekk..”

Penasaran, om coba mengintip dari sela-sela lubang jendela, gak melihat apa pun, hanya gelap gulita. Tapi suara sapu lidi itu masih saja terdengar..

Masih penasaran, pelan-pelan om coba membuka jendela..

Perlahan jendela mulai terbuka, membuat celah sedikit demi sedikit..

Pada saat itulah, ketika mulai bisa melihat dengan lebih jelas, om melihat sosok yang tampaknya adalah sosok yang menghasilkan suara..

Ada sosok perempuan tua dengan rambut panjang yang berwarna putih semua.

Badannya agak membungkuk membelakangi, dengan posisi seperti sedang menyapu..

Perempuan tua itu meggunakan kebaya dan kain panjang hingga menutup kakinya.

Om merinding melihatnya, dan sangat ketakutan..

Perlahan om mulai menutup jendela, 

Pada saat itulah om melihat perempuan itu mulai membalikkan badannya, perlahan..

Tangan kanan om tiba-tiba berhenti bergerak ketika sedang menutup jendela, karena wajah perempuan itu perlahan mulai terlihat..

Wajahnya senakin terlihat jelas, walau pun dalam keadaan gelap, karena jarak kami cukup dekat, hanya sekitar empat meter..

Wajahnya pucat, berkeriput, wajah nenek-nenek..

Sambil berdiri menyamping, nenek itu menatap ke arah om yang masih berdiri di balik jendela, kemudian tersenyum…

Bukan..
Ternyata nenek itu bukan tersenyum, tapi menyeringai, dan mengeluarkan suara ringkih tertawa..
Mengerikan..

Reflek, om langsung menutup jendela dan menguncinya, kembali bergegas ke atas tempat tidur..

Menutup seluruh tubuh dengan selimut sampai bagian kepala..
Suara sapu lidi nenek itu masih terdengar, ditambah sesekali suara tawa ringkihnya..
Om ketakutan, gak berani berbuat apa-apa..

Suara lolongan anjing kembali terdengar dari kejauhan, bersahut-sahutan..

Om membaca doa, mengharap perlindunganNya, berdoa semoga teror cepat berakhir…

Menjelang jam tiga pagi, teror itu akhirnya berhenti..
Kemudian om baru bisa terlelap..

Selesai..


Peristiwa malam itu gak om ceritakan kepada Wahyu, om coba untuk simpan sendiri, gak mau membuat Wahyu ketakutan.

Disamping itu juga, om sudah mulai sibuk dengan pekerjaan yang mulai cukup melelahkan.

Malam-malam berikutnya, suara nenek menyapu di luar itu tetap sesekali terdengar, tapi om mencoba gak terpengaruh,

Dalam ketakutan om memaksa diri untuk gak menghiraukannya, membiarkan hingga suara itu menghilang dengan sendirimya.


Sekitar satu bulan tinggal di rumah itu, ketika om dan Wahyu sudah semakin akrab, kami sudah dapat berbincang tentang apa pun, sudah gak terlalu formil lagi.

“Pak, memang pak Heri bisa tidur nyenyak di kamar itu sendirian?”. Tanya Wahyu pada suatu ketika.

“Nyenyak-nyenyak aja Yu., memang kenapa?” Tanya om,

“Gak Apa-apa pak…” Wahyu menggantung pembicaraan.

“Memang kamu gak bisa tidur nyenyak Yu?”

“Bisa pak…, bisa..” jawab Wahyu sedikit gelagapan.

Om gak terlalu ambil pusing dengan percakapan itu, hingga pada akhirnya ada peristiwa yang terjadi pada suatu malam, om akhirnya tahu alasan dibalik sikap Wahyu.


Seperti biasa, malam jumat itu, selepas isya kami berbincang di teras depan rumah.
Wahyu dengan sisa energi yang terlihat masih banyak, tampak bersemangat berbincang..

Segala hal kami perbincangkan, tentang pekerjaan, keluarga, dan lain sebagainya.

Tapi ada satu topik yang selalu kami hindari, sebenarnya Wahyu yang terlihat sangat menghindari, yaitu hal-hal aneh yang terjadi di rumah itu.

Ketika perbincangan sudah menjurus ke arah itu, Wahyu langsung mengalihkan topik pembicaraan, lalu memperlihatkan gelagat yang aneh, seperti ketakutan.

Gak terasa, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Kami sudah lelah dan mengantuk, bahan obrolan pun sudah semakin sedikit.

Malam itu cukup dingin seperti biasanya, walaupun gak ada angin yang bertiup. 

Suara jangkrik bersahut-sahutan. Gelap gulita mulai menjadi teman akrab ketika malam tiba, kami mulai terbiasa dengan pemandangannya

Dalam keheningan kami yang masih terdiam, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.

“Creeeeek…creeeek…creeeekk..” kira-kira seperti itu suaranya.

Kami saling berpandangan, menerka-nerka suara apa itu gerangan.

Suara yang awalnya terdengar sangat jauh, lama kelamaan semakin dekat, mendekat ke arah tempat kami duduk.

“Creeek…creeek…creek”

Semakin jelas dan kuat suara itu terdengar..

“Pak, kita masuk aja yuk..” ajakan Wahyu memecah keheningan.

Om mengangguk setuju, kami pun bergegas masuk.


Wahyu mengunci pintu dan jendela, wajahnya terlihat ketakutan.

“Ada apa yu? Kok kamu seperti ketakutan?”

“Gak ada apa-apa kok pak, mungkin karna kecapekan saja..” jawabnya.

Setelah mematikan petromak ruang tengah, Wahyu pamit masuk ke kamarnya.

Om juga langsung masuk ke kamar.

Entahlah, tapi malam itu memang sudah mulai mencekam sejak kami mendengar suara aneh itu di luar rumah.

Masih dalam keadaan penasaran, memikiran suara apakah gerangan tadi, om coba memejamkan mata..


Sudah jam sebelas malam, om masih belum bisa tidur juga.

Resah dan gelisah di atas ranjang besi dan kasur kapuk. Nyamuk-nyamuk semakin ganas, memaksa om untuk memasang kelambu mengelilingi tempat tidur.

Hanya bisa melamun, guling ke kanan guling ke kiri, kantuk gak datang juga.
Hingga ketika jam dua belas malam, sesuatu terjadi..

Om mendengar suara..

Suara yang bersumber dari luar kamar..

“Creeek…creeek…creek”

Suara yang sama persis dengan yang om dan Wahyu dengar waktu di luar rumah tadi.

Kali ini suaranya sangat dekat, bersumber dari dalam rumah..!

“Creeek…creeek…creek”

Om mulai ketakutan..

Dan semakin ketakutan, ketika om yakin kalau suara itu bersumber dari ruang tengah..!

“Creeek…creeek…creek”

Suara itu semakin terdengar dengan intensitas yang tinggi, semakin sering.
Om ketakutan, tapi gak berani berbuat apa-apa..

Selang beberapa menit kemudian, suara itu hilang..

Suasana kembali hening..

Sangat hening..

Jam sudah hampir di pukul satu malam, ketika tiba-tiba ada suara dari ruang tengah..
“Pak., Pak.., Pak Heri…”

Ada suara yang memanggil nama om, seperti suara Wahyu.

Om bangun dari tempat tidur, melangkahkan kaki mendekati pintu..
Pelan-pelan om memutar gagang pintu dan membukanya,

Setelah pintu terbuka sebagian, om melihat ke luar, ternyata gak ada siapa-siapa..

Di depan pintu gak ada siapa-siapa..

Gak ada Wahyu di depan pintu..

Kosong..

Tiba-tiba…

“Creeek…creeek…creek”

Suara itu kembali terdengar, kali ini sangat jelas dan keras, menandakan kalau sumber suaranya sangat dekat..

Reflek, om melirik ke arah sumber suara, ke pojok ruang tengah yang gelap.

Samar- samar, mata om menangkap sesuatu, sesuatu yang berdiri tegak di pojok ruang tengah. Jaraknya hanya sekitar tiga meter dari tempat om terpaku berdiri.

Badan om lemas, bulu kuduk berdiri semua, jantung berdegup sangat kencang, ketika menyadari kalau yang om lihat saat itu adalah pocong..

Pocong yang berdiri tegak di sudut ruangan..

Berwarna putih kusam, bagian wajahnya terbuka, namun om gak bisa melihat wajahnya dengan jelas..

Om langsung menunduk, dan perlahan menutup pintu.

Setelah pintu tertutup, buru-buru om naik ke atas tempat tidur, bersembunyi di balik kelambu..

Ketakutan..

Berharap semoga pocong itu tetap berada di luar kamar..

Tapi harapan tinggal harapan, ketika tiba-tiba pintu kamar perlahan mulai terbuka..

Om hanya bisa memandang ke arah pintu tanpa berbuat apa-apa..
Ketika pintu sudah terbuka penuh, om melihat ada pocong yang tadi..

Mengintip..

Lalu Pocong itu melayang masuk ke dalam..

Dan berhenti tepat di tengah kamar..

Dia berdiri diam menghadap ke tempat tidur..

Om sangat ketakutan..

Badan lemas, tulang seperti lepas dari engselnya..

Posisi kami hanya dipisahkan oleh kelambu yang tipis transparan..

Wajah pocong itu hitam dan gak karuan bentuknya…

Om di ambang pingsan..

Situasi itu sangat mengerikan..

“Creeek…creeek…creek” tiba-tiba pocong itu mengeluarkan suara..

Setelah itu gak ingat apa-apa lagi..
Om pingsan..


Ketukan pintu membangunkan om, suara Wahyu memanggil-manggil dari luar kamar.

“Pak…, pak Heri, bangun pak, sudah subuh..”

Om langsung bangun dari tempat tidur dan keluar kamar. Lalu kami sholat subuh bersama.

Setelah sholat, om melihat wajah Wahyu terlihat kuyu, seperti kurang tidur.

“Kamu kurang tidur ya?”

“Iya pak, nanti saja di luar rumah saya ceritanya ya pak.” Jawab Wahyu setengah berbisik.

Om mengangguk pelan, sepertinya om paham apa yang akan Wahyu ceritakan.


Siangnya, ketika sedang mengawasi para pekerja, Wahyu mulai bercerita..

“Tadi malam saya gak bisa tidur pak. Saya ketakutan..”

“Dari awal kita mendengar suara creeek creeek di luar rumah, saya sudah mulai ketakutan.”

“Karena saya tau itu suara apa.., itu suara pocong..”

Cerita awal Wahyu megagetkan..

“Makanya saya langsung ajak pak Heri masuk ke dalam rumah..”

“Yang saya takutkan, kalau pocong itu masuk ke dalam rumah. Dan benar pak, saya mendengar suaranya dari ruang tengah. Untungnya pocong itu gak masuk ke kamar saya..”

“Karena itulah saya gak bisa tidur semalaman pak..”

“Pak Heri mendengar suaranya juga gak semalam?” Tanya Wahyu di ujung cerita.

Om langsung menghela nafas panjang, dan menceritakan kejadian yang om alami pada malam itu, semuanya..

Wahyu hanya diam mendengarkan.

Itulah alasannya, kenapa Wahyu hanya tahan satu minggu sewaktu tinggal sendirian pertama kali, dia gak kuat menahan gangguan-gangguan yang menyeramkan.

Setelah hari itu, kami memutuskan untuk tidur bersama dalam satu kamar setiap malam, untuk mengurangi rasa takut.

Teror berakhir? Belum, teror tetap berjalan, dan semakin seram..


Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib ditandai *