Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Perempuan di Teras Rumah

Perempuan di Teras Rumah

Perempuan itu terlihat lagi..

Duduk seperti biasanya, menghadap ke depan memandang halaman rumah. Duduk sendirian di atas kursi goyang berbahan rotan di teras depan. Jarang sekali gw melihatnya ditemani orang lain, nyaris selalu sendirian. Semakin hari melihatnya, tubuhnya semakin bertambah kurus dengan wajah yang pucat pasi, bibirnya berwarna kehitaman, kedua matanya yang cekung terlihat sayu gak bercahaya.

Gw menebak, kalau perempuan itu sedang sakit yang berkepanjangan. Tapi walaupun begitu, dia tetap berusaha untuk tersenyum ramah ketika melihat gw lewat di depan rumahnya.

Memperlambat laju sepeda, lalu gw balas tersenyum. Setelah melewati rumahnya, gw melanjutkan perjalanan menuju rumah salah satu teman sekelas, Henri namanya.

***

Gw gak kenal perempuan itu, tapi dia hampir seumuran dengan ibu di rumah.

Rumah tempat dia tinggal gak terlalu jauh dari sekolah, tapi bukan di jalur yang biasa gw lalui ketika pergi dan pulang sekolah.

Rumahnya berada dalam kawasan perumahan yang berisikan rumah-rumah besar, penghuninya orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di suatu perusahaan atau instansi pemerintah.

Rumah-rumah dengan model tahun 70/80an, hampir semuanya ber-cat warna putih.

Jalan di dalamnya cukup lebar namun sangat sepi, jarang ada mobil atau motor melintas, sehingga sering kali gw bisa memacu laju BMX silver kesayangan dengan cepat.

Pohon-pohon besar berdiri kokoh pada sisi kanan dan kiri jalan, membuat suasana perumahan menjadi sedikit teduh walau sinar matahari cukup menyengat.

Pintu masuknya hanya ditandai dengan portal besi tua dan berkarat, itu pun gw gak pernah melihatnya dalam keadaan tertutup.

Jarang sekali melihat penghuni rumah-rumah besar itu berkeliaran di sekitaran komplek, gw juga gak pernah melihat ada satpam atau hansip berkeliling menjaga keamanan.

Intinya, komplek ini sangat sepi, seperti perumahan yang gak berpenghuni. Perumahan yang menyeramkan..

Yang pasti, gw harus masuk dan melalui perumahan ini apabila sedang menuju rumah Henri. Ada alternatif jalan lain, tapi akan memutar lebih jauh, akan memakan waktu lebih banyak.

***

Sudah beberapa bulan terakhir gw harus berkunjung ke rumah Henri selepas jam sekolah, kebetulan pada waktu itu kami berada satu kelompok dalam mata pelajaran IPA. Ada satu tugas dari Pak Wasidi yang mengharuskan kami menanam tanaman dan memperhatikan perkembangannya. Kebetulan juga, di rumah Henri tersedia lahan luas untuk bercocok tanam.

Untuk alasan itulah kenapa gw jadi sering berkunjung ke rumah Henri, dua kali dalam satu minggu bisa dipastikan akan datang ke sana. Terkadang baru pulang malam hari, selepas isya. Dan tentu saja, dengan begitu gw juga harus melewati perumahan yang cukup menyeramkan itu dua kali seminggu.

***

“Brii, sudah hampir jam delapan malam loh ini..”

Ayahnya Henri mengingatkan untuk pulang, mungkin karena gw terlihat masih asik bermain PlayStation bersama anaknya.

“Iya om, ini sudah mau pulang.”

Gw langsung membereskan tas dan bersiap untuk pulang.

Seperti biasa, sebelum pulang gw meminjam telpon untuk menghubungi Bapak/Ibu di rumah, mengabarkan kalau gw sudah akan pulang.

Setelah beres semuanya, gw pamit dan jalan pulang..

Masih berseragam putih merah dengan tas gendong di punggung, gw pulang dengan mengayuh BMX silver yang selalu menemani kemanapun gw pergi.

Gw kayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Jalan kampung yang gak terlalu besar jadi pemandangan awal yang harus dilalui.

Bagian perjalalanan ini suasana masih ramai, masih banyak orang lalu lalang atau sekedar berbincang di luar rumah. Gw masih cukup tenang melewatinya.

Tapi, sekitar lima belas menit kemudian, tiba saatnya gw untuk masuk dan melewati komplek perumahan yang cukup menyeramkan itu.

Perumahan yang sangat sepi walau pada siang hari, apalagi malam seperti ini. Laju sepeda sengaja gw perlambat ketika akan melewati gerbangnya, gerbang yang hanya di tandai oleh portal besi tua dan berkarat, portal besi yang gak pernah tertutup.

Akhirnya gw memasuki komplek itu..

***

Jam sudah menunjukkan hampir di pukul sembilan, namun suasananya sudah sangat sepi, lebih sepi dari biasanya.

Beberapa rumah terlihat lampunya menyala semua, lampu taman, lampu teras, dan juga lampu yang ada di dalam. Beberapa rumah lain ada yang hanya terlihat lampu terasnya saja yang menyala, malah ada pula yang gelap gulita, fak ada satu pun lampu menyala.

Gw mengayuh pedal dengan perlahan, menyusuri jalan aspal yang berlubang pada beberapa bagian.

Penerangan hanya bersumber dari lampu jalan di atas trotoar, gak terlalu terang namun cukup membantu penglihatan. 

Angin malam mulai bertiup menerpa wajah, angin yang sudah mulai terasa dingin walau belum terlalu malam. 

Suara yang terdengar hanyalah suara ban sepeda yang bergesekan dengan aspal jalan, gak ada suara lain. 

Sepi.. 

Beberapa menit kemudian, akhirnya gw tiba di depan rumah yang biasanya ada perempuan setengah baya yang sedang duduk di teras.  

Rumah dalam keadaan sepi seperti biasanya, hanya lampu taman dan lampu teras yang menyala. Lampu taman berbentuk bola kaca ~yang disanggah oleh sebatang tiang besi~ itu menyala terang menerangi sekitarnya, sedangkan lampu teras terlihat redup.

Di dalam rumah gak ada lampu yang menyala, gelap gulita. Tapi, lampu teras yang redup itu cukup untuk dapat melihat suasana teras, cukup membantu gw untuk melihat kalau ternyata perempuan itu ada.

Gw memperlambat laju sepeda, berjalan nyaris berhenti sambil memperhatikannya.

“Ini sudah malam, kenapa Ibu itu masih saja duduk di luar rumah?” Begitu gumam dalam hati.

Perempuan itu tetap duduk seperti biasa, duduk di atas kursi goyang, yang bergoyang perlahan ke depan dan ke belakang.

Mengenakan jaket tipis berwarna gelap, dengan kain selendang melilit di lehernya. Rambut panjang terurai gak seperti biasanya, walau pun begitu wajahnya masih terlihat, wajah yang terus mengikuti pergerakan gw yang tengah melintas di depan rumahnya.

“Hati-hati nak, sudah malam..”

Tiba-tiba dia menyapa dengan suara pelan, tapi masih terdengar jelas.

Menyapa dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“Iya Bu..” Aku menjawab sambil tersenyum juga.

“Kasihan Ibu itu, terlihat sakit namun malam-malam masih di luar rumah.” Aku bergumam dalam hati seraya terus melanjutkan perjalanan, mempercepat laju sepeda agar segera sampai di rumah.

***

Satu minggu kemudian, seperti biasa gw kembali harus ke rumah Henri, melanjutkan mengerjakan tugas sekolah yang hampir selesai.

Kali ini gw berjalan berdua bersama Henri menuju rumahnya, mengendarai sepeda masing-masing kami berjalan menyusuri jalur seperti biasanya. Jalur yang harus melewati komplek perumahan yang sepi itu.

Ketika sudah memasuki perumahan itu, lagi-lagi gw tertarik dengan rumah yang biasanya ada perempuan duduk di kursi goyang di teras rumah.

Gw memperhatikan rumah itu ketika kami benar-benar sedang melintas di depannya. Rumah dalam keadaan kosong, perempuan itu gak terlihat, di teras rumah juga gak ada siapa-siapa. Sepi..

“Kamu melihat apa sih Brii?” Suara Henri mengagetkan gw.

“Gak kok Hen. Aneh saja, biasanya di depan rumah itu ada Ibu-ibu sedang duduk di kursi goyang, dan biasanya kami saling melempar senyum. Tapi kali ini Ibu itu gak ada.”

Gw menjawab panjang lebar.

Seketika itu pula Henri menghentikan sepedanya secara mendadak, gw terkejut dan ikut berhenti di sampingnya.

“Kamu tidak sedang bercanda kan Brii?, Rumah itu kan kosong sudah lama.”

Henri bilang seperti itu dengan mimik wajah yang serius.

“Ah kamu salah rumah mungkin Hen.., aku benar-benar sering melihat Ibu itu kok.”

gw bersikeras mempertahankan pendapat, karena memang yakin kalau ibu itu benar-benar ada.

“Ya sudah kalau gak percaya. Pokoknya yang aku tahu rumah ini sudah lama kosong, pokoknya kamu hati-hati kalau lewat sini,”

Apa yang Henri bicarakan ada benarnya juga, rumah itu memang terlihat kosong. Suasananya juga memang terasa kalau rumah itu gak berpenghuni.

Tapi pada akhirnya gw berpikir kalau Henri yang salah, yakin kalau Henri membicarakan rumah yang berbeda di komplek itu.

“Yuk Ah.., jalan lagi Brii.” Lalu kami melanjutkan perjalanan.

Selama perjalanan kami masih saja berdebat mengenai rumah itu, masih bersikukuh dengan pendapat masing-masing.

***

“Brii, ada telpon dari Bapak tuh.” Wajah ayahnya Henri muncul dari balik pintu kamar, memberi tahu kalau Bapak menelpon untuk mencari gw.

“Ini sudah jam delapan lewat, kamu pulang sekarang ya. Berani pulang sendiri atau mau Papa jemput?”

Suara Bapak di ujung telpon menyuruh untuk segera pulang, karena hari sudah semakin malam.

“Gak usah jemput Pa, aku pulang sendiri saja..”

Memang, malam itu gw terlalu asik bermain game sampai lupa waktu, ternyata sudah jam delapan lewat beberapa menit.

Setelah itu gw bersiap pulang.

Berpamitan, gw langsung naik ke atas sepeda dan mengayuhnya cepat-cepat.

***

Malam jumat, suasananya sedikit berbeda, ditambah rintik hujan kecil mulai turun dari langit, hanya beberapa puluh meter setelah meninggalkan rumah Henri.

Kayuhan kaki pada pedal sepeda semakin gw percepat, fakta bahwa Jas hujan tidak ada di dalam tas, semakin membulatkan tekad untuk segera sampai di rumah.

Gw memilih untuk hujan-hujanan dari pada harus berteduh menunggu hujan reda, lagi pula hujannya juga gak besar, hanya gerimis kecil.

Sekitar beberapa puluh menit kemudian, akhirnya sampai juga di depan komplek perumahan yang sepi itu.

Karena teringat oleh omongan Henri pada sore sebelumya, sempat terbersit niat untuk memilih jalan lain yang lebih jauh, tapi gw urungkan niat itu, khawatir apabila hujan akan semakin deras memaksa untuk memilih jalur yang lebih pendek dan cepat, melewati perumahan sepi itu.

Sudah jam sembilan tepat, ketika gw lirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri. Sempat ragu, tapi akhirnya gw memaksa diri untuk melintas masuk ke dalam komplek.

Air hujan membasahi aspal jalanan, membuat jalan menjadi sedikit licin, gw lebih berhati-hati lagi walaupun laju sepeda tetap berjalan cukup cepat.

Beberapa kali gw harus membasuh wajah yang basah tersiram air hujan, karena hujan turun semakin deras.

Seperti biasa, suasana perumahan sangat sepi.

Yang gw rasakan, malam itu lampu rumah lebih banyak yang dalam keadaan mati, lebih banyak rumah gelap gulita dari pada yang terang benderang.

Lampu jalan yang berbaris di atas trotoar lagi-lagi membantu penglihatan menelusuri jalan sepi itu.

Suara gesekan ban sepeda gak sendiran lagi, kali ini ditemani oleh rintik hujan yang semakin deras.

Akhirnya, beberapa belas meter di depan, di sebelah kanan jalan, gw melihat rumah yang biasanya ada perempuan duduk di terasnya. Yang menurut Henri rumah itu sudah lama kosong.

***

Lampu taman menyala, karena memang lampu itu yang paling pertama terlihat.

Beberapa meter kemudian baru gw dapat melihat terasnya..

Perempuan itu ada..

Dari kejauhan, gw lihat dia duduk di atas kursi goyang seperti biasa..

Aku mengayuh sepeda perlahan, membuat jarak dengan rumah itu semakin dekat.

Dari kejauhan, kelihatan kalau dia sudah memandang ke arah gw.

Seperti biasa, tubuhnya tetap bergoyang pelan ke depan dan ke belakang, mengikuti ayunan kursi.

Ketika jarak kami sudah cukup dekat, tiba-tiba dia berdiri dari kursinya..

Berdiri menatap gw sambil tersenyum, kemudian melambaikan tangannya.

“Nak mampir dulu sini, jangan hujan-hujanan.” Dia memanggil, mengundang gw untuk mampir.

Gw semakin memperlambat laju sepeda, sampai nyaris berhenti.

“Terima kasih Bu, aku pulang saja.” Gw membalas ajakannya dengan sopan.

“Mampir dulu sebentar, sampai hujan reda. Gak apa-apa.”

Hujan yang swmakin deras memaksa gw untuk berhenti, mempertimbangkan ajakannya untuk mampir.

Iya, pada akhirnya gw memutuskan untuk mampir, membelokkan sepeda ke kanan masuk ke halaman rumahnya.

Dia berdiri di samping kursi goyangnya, dengan rambut panjang terurai hingga sebatas pinggang. Berpakaian daster panjang berwarna putih, tubuh bagian atas memakai jaket wol tipis berwarna gelap, ditambah dengan selendang yang melilit di lehernya.

Gw menyandarkan sepeda di tembok garasi, lalu mendekat ke tempat ibu itu berdiri.

“Sudah, berteduh dulu di sini sampai Hujan reda. Kamu pulang ke mana? Di mana rumah kamu?”

Suara lirih dan pelan keluar dari mulutnya.

Ada yang aneh, perempuan ini terlihat lebih segar dari biasanya, wajahnya gak pucat, tubuhnya sudah gak terlalu kurus lagi. Seperti sudah sembuh dari sakitnya.

“Rumahku di Ramanuju Bu..”

“Tuh kan, masi jauh dari sini. Sudah, kamu di sini saja dulu sampai hujan reda.” Mimik wajahnya terlihat cemas..

Setelah perbincangan singkat itu, kami hanya diam tanpa bicara satu sama lain, sama-sama memandang halaman rumah yang masih diguyur hujan.

Ibu itu duduk di kursi goyang, sementara gw berdiri di sebelah kanannya.

Cukup lama kami dalam situasi saling diam, sampai pada akhirnya dia berkata.. “Ibu ambil teh hangat dulu ke dalam ya, kamu tunggu di sini saja.”

Kemudian dia berdiri dan masuk ke dalam rumah, sementara gw memutuskan untuk duduk di atas tembok teras di sebelah garasi.

Suasana kembali hening, hanya teedengar rintik hujan yang masih turun.

Cukup lama gw sendirian, menunggu ibu itu keluar rumah..

Hingga tiba-tiba lampu teras dan lampu taman mati, keadaan menjadi gelap gulita, hanya lampu jalan yang sedikit membantu penerangan.

Perasaan menjadi gak enak, gw langsung berdiri dan memperhatikan sekitar.

“Bu..?” gw memanggil perempuan itu dari dalam rumahnya, namun gak ada jawaban.

Gw mulai merinding ketakutan, karena ketika mengintip dari jendela depan rumah, gw melihat kalau rumah benar-benar kosong, gak ada orang sama sekali.

Mundur beberapa langkah, berniat untuk bergegas naik ke atas sepeda dan pergi dari situ.

Namun tiba-tiba dari kejauhan terlihat ada kilatan cahaya, kilatan cahaya lampu yang muncul dari sebelah kanan.

Ternyata itu adalah lampu motor, motor yang semakin mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depan rumah.  

Gw dorong sepeda sambil berjalan menuju pagar rumah dan keluar dari halamannya.

“Kamu ngapain di dalam rumah itu tadi Dek?” Bapak pengemudi motor yang melintas tadi bertanya kepadaku.

“Berteduh pak, tadi hujannya deras.”

“Kamu jangan masuk ke rumah itu lagi ya, rumah itu sudah kosong lama, rumah angker, banyak setannya. Sudah, kamu cepat pulang, hujannya sudah berhenti.”

“Iya Pak, saya pulang sekarang.”

Setelah mendengar omongan Bapak itu gw jadi semakin ketakutan, bergegas pergi meninggalkan tempat itu,

mengayuh sepeda dengan cepat supaya segera sampai di rumah.

Siapa perempuan itu?

Ternyata itu bukanlah terakhir kali gw bertemu dengannya, dalam beberapa bulan ke depan kami akan bertemu dengan lagi.. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *