Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Kereta Kencana di Jogjakarta

Kereta Kencana di Jogjakarta

Gw memiliki tiga sahabat, namanya Ulez, Ali, dan Deddy. Kami memulai pertemanan sejak kecil, jadi banyak hal yang sudah dialami bersama, ada yang menyenangkan, banyak juga yang menyedihkan.

Tentu saja, kami juga banyak mengalami kejadian mistis yang cukup menyeramkan.

Kali ini gw akan cerita pengalaman yang kami alami di salah satu hotel di Jogjakarta, terjadi pada suatu hari di akhir tahun 2004, dalam perjalanan darat ke Bali.

Perjalanan antara Cilegon – Bali yang panjang memaksa kami untuk beristirahat di Jogja. Pada awalnya, gak ada rencana untuk bermalam di kota itu. Tapi ada informasi yang mengatakan bahwa jalan darat antara Jateng dan Jatim sedang rawan kejahatam, kami gak mau ambil resiko dan ambil keputusan untuk menginap di Jogja untuk satu malam,

Berempat memang punya hobi yang sama, sangat menyukai perjalanan jauh, road trip istilahnya.

Apalagi kalau menuju tempat yang belum pernah dikunjungi, tempat yang asing. Menemukan suasana baru, lingkungan baru, pengalaman baru..
Seru..

Banyak pengalaman menarik untuk diceritakan, tapi gak akan malam ini, lain waktu gw pasti cerita…:)

***

Singkat cerita, sekitar jam sepuluh malam kami tiba di Jogja.
Awalnya sempat berniat untuk numpang menginap di rumah salah satu teman SMU, tapi ternyata yang bersangkutan gak bisa dihubungi.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari hotel aja..

Waktu itu kebetulan sedang memasuki musim liburan akhir tahun, jadi agak susah untuk mendapatkan hotel.

Ada yang agak aneh, gw merasa malam itu “suasana” Jogja sedang gak enak, entah kenapa. Ditambah, dengan kenyataan bahwa kami kesulitan mendapatkan hotel.
Mungkin juga sudah lelah, setelah menempuh perjalanan belasan jam..

Entahlah..

Sudah beberapa kali kami menemukan hotel yg available dan sesuai dengan budget, tapi karena suasananya kurang enak dan agak menyeramkan, akhirnya gak kami ambil.

Iya..hotelnya seram, nanti kapan-kapan gw cerita detail setiap hotelnya..

***

Setelah cukup lama berputar-putar, sekitar jam dua belas malam kami menemukan hotel yang letaknya pinggir kota Jogja, bukan di jalan utama lintas Jawa,
Hotel yang gw masih ingat namanya sampai saat ini.

Tapi yang gw tahu, sekarang sudah di renovasi, bentuk bangunannya berubah total.

Kalau diperhatikan dari luar, hotel itu terlihat cukup besar, walau pun bukan bangunan bertingkat.

Hanya memiliki satu jalan masuk, yaitu melalui pintu di depan lobby.
Yang sudah jelas terlihat dari luar, bangunan hotel terlihat cukup tua usianya..

Kami parkir di halaman yang luas, pagar putih mengelilingi bangunan dengan pintu besi hitam sebagai gerbang utama. 

Ada dua pohon besar di sisi kanan dan kiri. Pencahayaan sangat kurang, membuat suasana terlihat kelam.

Karena badan sudah lelah dan mengantuk, dengan agak sedikit terpaksa, akhirnya kami ambil keputusan untuk menginap di hotel itu..

***

Setelah selesai urusan administrasi di lobby, kami menuju kamar.

Benar dugaan gw, bangunan hotel adalah bangunan tua dengan arsitektur Belanda. Langit-langit cukup tinggi, tembok tebal bercat putih, ditambah dengan dengan perabotan antik menghiasi di setiap sudut ruangan.

Walaupun sudah larut, pegawai hotel yang terlihat hanya segelintir itu tetap melayani kami dengan ramah.

Agak mengherankan, karena sebelumnya beberapa kali kami mampir di hotel yang penuh pengunjungnya, tapi hotel ini terlihat sepi, masih banyak kamar kosong..

Lokasi kamar yang akan kami tempati terletak sekitar lima puluh meter dari lobby, cukup jauh, karena memang berada di paling ujung bangunan.

Posisi hampir seluruh kamarnya melingkar mengelilingi sebuah taman.

Taman terbuka yang cukup luas..

Yang cukup menarik perhatian, ada pohon besar dan rindang di tengah taman.

Entahlah itu pohon apa, karena pencahayaan yang kurang gw jadi gak bisa melihat dengan jelas. Dibawahnya ada beberapa bangku taman..

Lorong yang kami lalui hanya diterangi dengan pencahayaan seadanya.

Lantai berlapis porselen tipe jaman dulu. Sepanjang jalan, tiang-tiang kayu berbentuk persegi manyangga atap yang menjadi satu kesatuan.

Beberapa saat kemudian kami pun sampai..

Kamar yang cukup besar, dengan dua tempat tidur kayu di dalamnya. Cukup untuk kami tidur berempat.

Posisi kamar persis menghadap ke taman tadi..

Di dalam kamar, kami sempat berbincang seru, sebelum akhirnya lelah dan kantuk memaksa untuk tidur.

Sialnya, gw malah masih segar, gak ngantuk sedikit pun, mungkin karena meminum dua gelas kopi dalam perjalanan sebelumnya.

Sedangkan Ulez, Ali, dan Deddy sudah pada posisi tidurnya masing-masing.

Seperti yang gw ceritakan di awal tadi, suasana Jogja malam itu terasa gak enak, gak tahu knapa..

Ketika kami sudah berada di dalam kamar, keadaannya tetap sama, suasana gak enak, agak mencekam..

Perasaan gw mengatakan demikian..

Ditambah lagi, dari awal masuk tadi, gak terlihat ada tamu hotel lain yang lalu lalang, seperti hanya kami yang menginap pada malam itu.

Atau mungkin karena sudah larut malam?

Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, ketika Ali dan Deddy sudah terlelap dalam tidurnya. Sedangkan gw masih terjaga, dengan sengaja memaksa Ulez yang sudah terlihat mengantuk untuk menemani ngobrol.

Di tengah perbincangan, tiba-tiba suasana menjadi tambah hening..

Sangat senyap..

Gak ada suara sama sekali..

Dead silence..

Perasaan gw mengatakan kalau sebentar lagi ada sesuatu yang akan terjadi..

Dan benar saja, gak lama kemudian gw dan Ulez mendengar sesuatu..

Kami mendengar suara yang bersumber dari luar..

Awalnya gak tahu itu suara apa, kami hanya saling berpandangan keheranan.

Beberapa saat kemudian gw bilang,”Itu kok kaya suara kereta kuda lez..”

Ulez gak membantah, karena memang terdengar seperti suara kereta kuda yang tengah berjalan di lorong depan kamar..

Suaranya semakin lama semakin jelas, seperti berjalan dari lorong seberang dan mengarah mendekati kamar.

Ulez sempat berniat untuk membuka tirai dan melihat ke luar. Tapi gw mencegahnya, menyarankan agar tetap diam dan menunggu.

Gw merinding, suara kereta kuda terdengar jelas..

Suasana benar-benar mencekam..

Oh iya, secara logika, kereta kuda gak mungkin bisa masuk ke dalam lingkungan hotel, pintu masuk hotel hanya bisa dilewati oleh manusia, kendaraan apa pun gak akan bisa masuk, karena pintunya kecil.

Lantas kenapa tiba-tiba ada kereta kuda melintas di depan kamar?

***

Terdengar dari suaranya, kereta kuda sudah tepat berada di depan kamar, dan berhenti.

Reflek, gw langsung mematikan lampu..

Suasana kembali hening, tapi suara nafas dan ringkihan kuda terdengar jelas..

Mencekam, karena gw dan Ulez yakin kalau itu bukan kereta kuda biasa..

Dari tirai jendela kamar, ada bayangan yang berbentuk siluet dua kepala kuda bergerak-gerak yang sedang berdiri di luar.

Gw dan Ulez hanya terdiam gak berani berucap apa-apa, sebisa mungkin gak menghasilkan suara apapun..

Benar-benar mencekam..

Tapi, sekitar 20 – 30 detik kemudian, kereta kuda itu mulai berjalan lagi..

Berjalan pelan menjauhi kamar, kemudian suaranya terdengar menjauh..

Semakin menjauh, sampai benar-benar menghilang dan gak terdengar lagi..

***

Suasana kembali hening..

Tapi ternyata cerita belum selesai..

Kami berdua sempat membahasnya sebentar sambil berbisik..

Setelah itu Ulez ngantuk tak tertahan, gak lama kemudian terlelap.

Sementara gw masih belum ngantuk juga..

Sudah pukul setengah dua, di keheningan malam itu gw hanya bisa melamun gak jelas, menunggu kantuk yang gak kunjung datang.

Perasaan mengatakan kalau sesuatu akan terjadi sekali lagi. Suasana menjadi semakin gak enak..
Dan benar..

Dalam posisi terbaring di atas tempat tidur, gw melihat pintu kamar yang letaknya ada di sisi kiri tiba-tiba terbuka dengan sendirinya..

Terbuka perlahan..
Terkejut gw melihatnya..

Tambah kaget lagi setelah pintu kamar benar-benar terbuka..

Gw melihat seorang ibu setengah baya yang sedang berdiri diam tepat di depan pintu, manghadap ke dalam kamar.

Ibu itu berkebaya khas jawa, lengkap dengan kain dan sanggulnya..

Gw diam terpana, badan kaku dan gak bisa bicara sama sekali, seperti terhipnotis..

Jantung berdegup kencang gak karuan, ketika tiba-tiba dia menolehkan wajahnya dan tersenyum..

Dalam ketakutan yang teramat sangat, gw masih bisa tersenyum balik..

Jarak kami berdua hanya sekitar empat meter..

Beberapa detik kemudian, ibu itu berjalan secara perlahan masuk ke dalam kamar.

Langkahnya seperti melayang…
Dan benar, gw melihat kakinya gak menyentuh lantai..

Berjalan ke arah toilet yang letaknya ada di sisi kanan..

Ketika ibu itu sedang berjalan menuju toilet, gw hanya bisa memperhatikan, gak berani berbuat apa pun. Itu salah satu 10 – 15 detik terlama yang pernah gw alami..

Dia berjalan pelan..

Lalu menembus pintu toilet yang dalam keadaan tertutup, kemudian gak terlihat lagi..

Hilang..

***

Pagi harinya, gw terbangun karena mendengar suara teman-teman yang sedang berbincang seru di teras kamar, langsung beranjak dari tempat tidur dan bergabung bersama mereka.

Gw gak langsung cerita tentang kejadian semalam, tapi gw bertanya sesuatu kepada mereka..

“Pintu kamar dalam posisi terkunci gak tadi pagi sewaktu kalian bangun tidur?”
Kompak mereka menjawab,

Iya, pintu dalam keadaan terkunci..

***

Kami check out pagi itu juga..

Ketika sedang berjalan keluar hotel dan melewati lobby, mata gw tertuju kepada lukisan besar yang terpampang pada dinding.

Lukisan seorang Ibu berkebaya khas jawa, lengkap dengan kain dan sanggulnya..

Perawakannya sangat mirip dengan ibu yang semalam gw lihat masuk ke dalam kamar..

Gw langsung bertanya perihal lukisan itu ke mbak resepsionis,

“Itu siapa ya mbak?” Tanya gw sambil menunjuk ke arah lukisan,

“Oh, itu pemilik dan pendiri hotel ini mas, sudah meninggal sekitar tahun 80an, pastinya saya kurang tahu..” jawab mbak itu menjelaskan..

***

Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Bali.

Dalam perjalanan itu, kami menemui beberapa kejadian yg aneh dan cukup menyeramkan.

Nanti kapan-kapan gw cerita..:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *