Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Hantu Kebaya di Sekolah

Hantu Kebaya di Sekolah

Gw lahir dan besar di Cilegon (Banten), kota perindustrian yg letaknya agak di ujung barat pulau Jawa. Di kota inilah masa kecil tertempa lumayan keras.


Beruntung, gw punya Bapak yang “raja tega”, beliau mengajarkan untuk kuat dalam semua hal, termasuk menghadapi ketakutan akan hal-hal mistis.

Beberapa kali gw dibiarkan untuk menghadapi dan melawan sendiri ketakutan-ketakutan yang ada, baik itu hal nyata mau pun ghoib. Mungkin sebagian besar teman-teman sudah tahu, kalau daerah Banten cukup kental dengan hal-hal mistis. Tapi memang benar begitu adanya, karena gw mengalami sendiri. 

Nah, kali ini gw mau ajak teman-teman semua untuk kembali ke masa sebelum Milenial. Gw akan cerita tentang pengalaman ketika masih SD, sekitar tahun 90an.
Sudah sangat lama, tapi kurang lebih gw masih ingat detail kejadiannya.

***

Sejak kelas satu SD, gw sudah gak pernah diantar jemput sekolah, sudah dibiarkan pulang dan pergi sendiri. Perjalanan dari rumah ke sekolah sekitar lima puluh menit berjalan kaki.

Waktu itu gw bersekolah di SD swasta, yang dimiliki oleh yayasan dari perusahaan terbesar di Cilegon.

Kelas satu dan kelas dua, gw masih berjalan kaki pulang pergi berdua dengan Kakak, kebetulan sekolah di tempat yang sama.
Ketika sudah kelas tiga, gw mulai pulang pergi sendirian, karna Kakak sudah lulus SD, melanjutkan sekolah di tempat lain.

Disinilah petualangan-petualangan seru dimulai..

Oh iya, SD tempat gw sekolah ini termasuk sekolah elit pada masa itu, hampir semua yang bersekolah di situ adalah anak-anak yang orang tuanya punya jabatan penting di perusahaan besi Baja terkenal, atau minimal pengusaha sukses.

Mereka juga rata-rata tinggal di perumahan elit yang letaknya gak terlalu jauh dari sekolah, kalaupun jauh, mereka pasti diantar pulang pergi menggunakan kendaraan pribadi.

Tapi belakangan, sekolah menyediakan Bus antar jemput untuk murid-murid didikannya.

Nah, gw sedikit berbeda, Bapak gak bekerja di pebrik Baja, masih satu grup sih, tapi sedikit beda kasta.

Kami gak tinggal di komplek perumahan elit sebagaimana teman-teman sekolah yang lain.

Kami tinggal di kampung, Ramanuju namanya. Karena itulah, setelah Kakak sudah melanjutkan sekolah SMP, gw jarang banget punya teman untuk pulang dan pergi ke sekolah, hampir selalu sendirian.

Jalur perjalanan pulang pergi sekolah ada dua.
Yang pertama adalah jalur normal, jalannya menyusuri trotoar yg bersih dan cukup lebar. Trotoar ini berada di sisi jalan industri, bukan termasuk jalan umum, jadi jalanannya relatif sepi.

Jalur aman..

Nah, jalur kedua yang agak berbeda.

Jalur ini lebih singkat perjalanannya dibanding jalur pertama. Karna jaraknya lebih pendek.
Jadi, kalo lewat jalur kedua, gw akan sampai di sekolah/rumah lebih cepat.

Tapi jalurnya agak menyeramkan. Harus melewati jalan setapak rerumputan, menyusuri jalan pada sisi tembok tua pabrik baja.
Di pinggir tembok itu ada kawat berduri yang ditumbuhi semak belukar dan rumput liar. Di sisi lainnya banyak pohon besar dan rindang.

Mungkin bisa disebut hutan kecil.

Yang membuat semakin seram, sebelum memasukinya ada peringatan tertulis menempel di tembok jalan masuk, “Hati-hati, banyak ular berbisa”

Memang benar, di situ banyak ular berseliweran. Apalagi kalau pagi atau sore menjelang malam. Setiap melintasinya, gw pasti bertemu ular, minimal satu ekor, dengan berbagai ukuran.

Diharuskan amat sangat berhati-hati berjalan, ngeri..

Masih dalam pembahasan jalur kedua, ada bagian jalan dimana gw harus melintas di depan mulut gorong-gorong agak besar dan gelap.
Gorong-gorong ini berbentuk lingkaran, terbuat dari besi tebal. Kalau diperhatikan, panjangnya lebih dari dua puluh meter. Tampaknya itu adalah saluran pembuangan limbah pabrik yang ada di balik tembok, tapi sepertinya sudah gak berfungsi sepenuhnya, karna gw gak pernah lihat ada limbah yang mengalir keluar. Hanya ada air kotor mengalir bersama dengan sampah.

Bagian jalan yang ada gorong-gorongnya ini, rerumputan dan semak belukarnya paling rimbun, mungkin karena selalu dalam keadaan basah dan lembab

Begitu rimbunnya, kalau kita gak perhatikan benar-benar, maka gak akan terlihat kalau ada mulut gorong-gorong di situ. Hampir tertutup sepenuhnya. Gorong-gorong ini gak terlalu besar, kalau gw masuk harus sedikit menundukkan kepala.

Sejak lama gw udah merasakan kalau ada yang aneh dengan gorong-gorong ini, tapi gak pernah terlalu peduli.
Sampai nanti pada suatu hari ada peristiwa yang mengharuskan gw masuk ke dalamnya.

***

Waktu itu kelas empat SD.
Jam 5.30, gw sudah rapi dan siap berangkat.

Dengan seragam merah putih, tas punggung besar, dan termos terselempang di depan.

Sebelum berangkat sekolah, Bapak selalu berpesan “Lewat trotoar aja, jangan lewat tembok pabrik..”

“Iya Pa..” jawab gw nurut.

Tapi sering kali pada akhirnya gw gak nurut omongan Bapak, tetap melewati jalur dua. Jalur yang Bapak menyebutnya “Jalur tembok pabrik”. Karena gw ingin sampai di sekolah lebih cepat.

Sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumah, sampailah gw di “pintu masuk” jalan tembok pabrik.

Gw harus meloncati selokan selebar sekitar satu meter untuk mulai memasukinya.

Sepanjang yang gw ingat, jarang sekali ada orang lain di jalur ini, entah yang berpapasan mau pun searah tujuan. Gw hampir selalu sendirian melewatinya.

Oh iya, gw menyembunyikan batang kayu yang cukup panjang di sisi selokan. Ketika masuk, kayu panjang itu selalu gw bawa, berguna untuk menghalau ular yang akan gw temui.

Setelah melewati selokan dan batang kayu sudah di tangan, gw pun memasuki jalan itu. 

Seperti biasa, pagi itu gw sendirian, sama sekali gak ada orang lain. Hanya suara burung-burung kecil dan suara sepatu Kasogi kesayangan yang bergesekan dengan rumput basah karena embun pagi.

Itu bukan kali pertama, sebelumnya sudah sering lewat situ. Titik yang paling membuat jantung bersegup kencang adalah ketikamelewati mulut gorong-gorong.

Beberapa kali gw mendengar suara aneh yang bersumber dari dalamnya.

Jalan setapak agak menurun, dan semak belukar semakin lebat ketika mendekati mulut gorong-gorong.

Seringkali gw mendengar suara “kresek…kresek..”, seperti ada aktifitas di balik semak belukar, di mulut gorong-gorong.

Gw berpikir mungkin itu ular, atau binatang lainnya. Setelah itu biasanya gw langsung mempercepat laju jalan, pergi menjauh.

***

Pagi itu gw jalan seperti biasa, tetap dengan batang kayu panjang di tangan kanan.

Setelah beberapa menit, sampailah pada spot yang paling ditakuti, mulut gorong-gorong..

Jalannya menurun dan agak licin. Harus sangat berhati-hati. Mulut gorong-gorong tepat berada di sebelah kiri.

Entah kenapa, kali ini gw sangat tertarik untuk melirik ke arah situ. Lubang yang hampir tertutup sepenuhnya oleh semak belukar.

Gw berhenti, karna mendengar suara “kresek..kresek” lagi.

Gw arahkan pandangan ke gorong-gorong. Sudah lama penasaran ingin tahu suara apa itu sebenarnya.

Dengan hati-hati, gw coba lebih dekat ke mulut gorong-gorong. Semakin penasaran, karena suara itu semakin tinggi intensitasnya.

Setelah sudah cukup dekat, gw coba untuk menyingkirkan semak belukar yang hampir menutupi mulutnya, dengan batang kayu yang gw bawa dari awal.

Gw buka pelan-pelan, suara “kresek…kresek” itu semakin jelas terdengar..

Setelah benar-benar terbuka, gw malah mendengar suara lain yg keluar dari dalam..

“Heh…heh..heh..!” Kira-kira seperti itu suaranya..

Seperti suara perempuan.

Kemudian disusul dengan suara cekikikan pelan “hihihi..”

Tanpa pikir panjang gw langsung lari terbirit-birit ketakutan, meninggalkan tempat itu dengan segera..

***

Sedari kecil gw sudah dibiasakan oleh orang tua untuk selalu datang lebih awal dalam hal apa pun, apalagi urusan sekolah. Kalau masuk jam 7.30, biasanya gw sudah duduk manis di dalam kelas jam 6.30. 

Jadi, seperti biasa, pagi itu sekitar jam 6.30 gw sudah sampai di sekolah. SD tempat gw sekolah ini memiliki lingkungan yang asri. Punya fasilitas Lapangan olahraga beralas rumput luas dan tempat upacara yg bersih berlantai beton. Pohon-pohon besar mengelilingi bangunan sekolah.

Waktu itu jalan raya yang ada di depannya belum berubah menjadi jalan umum.

Yang bikin seru, ada sungai cukup besar mengalir di belakang sekolah. Tapi sungai ini agak menyeramkan apabila datang musim penghujan, airnya mengalir deras.

Di belakang sekolah juga ada hutan kecil, melintas di tengahnya sungai yang tadi gw ceritakan. 

Nah, di hutan kecil ini ada jembatan besi yang digunakan untuk menyeberang melintasi sungai. Banyak cerita seram mengenai jembatan besi yg panjangnya sekitar dua puluh meter ini, 

Kalau dilihat fisiknya, jembatan ini memang menyeramkan. Waktu itu pun umurnya sudah cukup tua. Sebagian besar besinya sudah berkarat.
Nanti lain waktu gw ceritakan khusus mengenai jembatan besi ini.

Balik bahas tentang sekolah SD lagi ya..

Bangunan SD ini mengikuti kontur tanah yang meninggi. Ruangan kelas satu berada di paling bawah/rendah, kelas enam berada di paling atas/tinggi.

Waktu itu gw kelas 4A, ruangan kelasnya menghadap ke sebuah taman kecil. Taman kecil terbuka ini berbentuk segi empat dengan kursi tembok disekelilingnya, kursi panjang dan lebar.
Tempat kami duduk dan bercengkrama di luar jam sekolah.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, ketika gw sampai, lingkungan sekolah masih sepi. Benar-benar gak ada orang. Gw langsung berjalan ke ruang kelas.

***

“Hmmm…, ada Ibu itu lagi” Gumam gw dalam hati.

~Ibu siapa Brii..?

Sejak kelas satu, beberapa kali gw melihat perempuan setengah baya, berkebaya dan bersanggul, yang sedang duduk di taman depan kelas. Gak setiap hari gw melihatnya, hanya sesekali.

Gw harus melintas di depan dia kalau mau masuk ke dalam kelas, tentu saja harus bertegur sapa..

“Selamat pagi Bu..” Sapa gw sambil tersenyum.

“Selamat pagi Brii..” Jawab si ibu dengan ramah.

Gw langsung masuk kelas, ke tempat duduk untuk meletakkan tas di laci kolong meja.

Kalau kelas masih sepi, gw akan keluar dan ngobrol dengan ibu itu sebentar. Biasanya beliau menanyakan kabar gw dan keluarga.

Ya itu tadi, beliau hanya muncul sesekali saja, gak setiap hari. Tapi anehnya, Dia selalu menghilang apabila sekolah sudah mulai ramai.

Sering gw penasaran, Ibu itu kemana? Lalu gw mencarinya ke sekeliling sekolah, gak ketemu.

Oh iya, ibu itu pernah muncul pada malam hari. Malam ketika sekolah mengadakan acara perkemahan.

Gw lihat dari kejauhan dia berdiri sendirian di halaman belakang sekolah, gw mengenalinya.

Sadar ketika gw melihatnya, ibu itu melambaikan tangan. Gw melambai balik ke arahnya.

Pernah juga gw lihat beliau ketika ada acara buka puasa dan tarawih bersama di sekolah. Kadang dia duduk di bangku taman, kadang dia berdiri di halaman belakang.

Dan seperti biasa, beliau gak pernah terlihat lagi apa bila sekolah sudah ramai.

Gw pernah menceritakan hal ini kepada orang tua di rumah.

“Itu ibu yang berdagang di warung samping sekolah, kalau sekolah sudah ramai dia kembali ke warungnya” begitu kata Ibu, coba menjelaskan.

Ah., gw pernah cari ke warung-warung itu, tapi gak pernah ketemu.

***

Masih di hari yg sama,

Sekolah selesai jam satu siang, tapi gw gak langsung pulang. Main dulu ke rumah teman yang letaknya dekat dengan sekolah.

Gw pulang pada jam lima sore, memutuskan untuk lewat jalur pinggir tembok pabrik yg menyeramkan itu.

Karena ingin cepat sampai rumah. Padahal gw masih ingat betul, paginya ada suara-suara yang membuat gw ketakutan. Tapi tetap nekat, ada rasa penasaran juga, ingin tahu itu suara apa.

Tetap dengan batang kayu panjang ditangan, gw mulai memasuki kawasan itu.

Sore itu matahari sudah mulai redup, ditambah banyaknya pohon rindang di sepanjang jalan, semakin membuat keadaan bertambah gelap.

Hingga tibalah saat yang gw takutkan, melintasi mulut gorong-gorong..

Pelan-pelan gw melintasinya, karena hari sudah mulai gelap.

Ketika sudah berada persis di depan mulut gorong-gorong, tiba-tiba gw mendengar suara “kresek…kresek” lagi, kali ini lebih keras.

Saat itu gw memutuskan untuk mengikuti rasa penasaran, mengarahkan pandangan ke sumber suara, yaitu gorong-gorong gelap.

Gw berjalan mendekat. Dengan batang kayu yg ada di tangan, gw coba menyingkirkan semak belukar yang menghalangi mulut gorong-gorong.
Pelan-pelan dan hati-hati gw semakin mendekat, lubang gorong-gorong itu terlihat gelap.

Tiba-tiba terdengar suara “heh…heh..!” Seperti pagi tadi. Awalnya gw ingin langsung lari, tapi urung karena rasa penasaran yang lebih besar.

Perlahan gw malah mulai masuk ke dalam gorong-gorong, dengan agak menunduk. Bagian bawahnya basah karna ada air limbah yg mengalir kecil.

Suara “heh…heh..!” Itu semakin keras terdengar ketika seluruh badan gw sudah berada di dalam gorong-gorong.

Tetapi tetap gw gak bisa melihat apa-apa, karena gelapnya..

Suasana semakin gelap ketika sudah berada sekitar dua meter di dalam.

Tiba-tiba..

Ketika mata sudah terbiasa di dalam gelap, gw melihat ada mahluk berbentuk manusia, hitam legam, rambut panjang, mata melotot.

Dia jongkok menghadap ke arah gw, yang hanya berjarak sekitar tiga meter.

Gw yakin itu bukan manusia..

Di kanan kirinya gw lihat seperti ada sepasang mata berwarna merah menyala. Gw gak tahu mahluk apa lagi itu..

“Hihihihi…” mahluk itu tertawa cekikikan..

Gw langsung balik badan, lari keluar..

Terus berlari sampai gw menemukan jalan raya.

***

Sesampainya di rumah, gw ceritakan semua yang baru gw alami ke Bapak dan Ibu.

“Kan udah Papa bilang, jangan lewat jalan itu, kamu gak nurut sih..” ucap Bapak, dengan nada khawatir.

“Iya Pa., aku kapok, gak akan lewat situ lagi”

Sampai sekarang gw gak tahu pasti mahluk apakah itu, karena sejak saat itu gak pernah lewat situ lagi, gw lebih memilih memutar lewat jalan yang ramai.

Beberapa tahun kemudian, jalur itu benar-benar ditutup oleh pihak pabrik, jadi restricted area. Entah apa alasannya.

***

Kira-kira satu tahun berikutnya, ketika gw sudah duduk di kelas lima. Pramuka di sekolah mengadakan acara kemah, waktu itu biasa disebut Persami (perkemahan sabtu minggu).

Acara kemah ini rutin dilaksanakan satu tahun sekali.

Salah satu acara sekolah yang sangat malas gw ikuti..

Tapi untungnya, pihak sekolah gak pernah lagi mengadakan jurit malam. 

~ Knapa begitu Brii..?

Yang gw dengar dari cerita Kakak, beberapa tahun sebelumnya ada peristiwa menakutkan yang terjadi ketika jurit malam.

Nanti lain waktu gw cerita detailnya mengenai hal ini..

***

Acara kemah dilakukan di lapangan rumput depan sekolah, jadi gak terlalu jauh dari gedung sekolah.

Acarapun dimulai..

Sekitar jam sepuluh malam, setelah acara api unggun selesai, gw pingin pipis.

Toilet letaknya di dalam sekolah, jadi gw harus berjalan sedikit untuk ke sana.

Toilet favorit gw yang letaknya di sebelah ruang guru, agak tersembunyi, berhadapan langsung dengan taman kecil yang ada kursi tembok di sekelilingnya.

Di seberang taman ada ruang kelas 5A, ruang kelas gw. Setiap malam, ruangan kelas dibiarkan dalam keadaan gelap, hanya lampu taman dan beranda yang menyala.

Setelah sampai, gw langsung masuk toilet dan pipis.

Setelah selesai, gw keluar dari toilet..

Gw kaget, ketika melihat ibu berkebaya sedang duduk di kursi pinggir taman depan kelas.

Jarak kami hanya sekitar sepuluh meter, dipisahkan oleh taman.

Ibu itu duduk membelakangi, beliau menghadap ke pintu kelas yang gelap gulita.

“Ngapain ibu itu malam-malam duduk sendirian..?” Dalam hati gw bertanya-tanya.

Awalnya gw berencana untuk langsung ke lapangan perkemahan..
Tapi tiba-tiba Ibu itu menoleh ke arah gw, dan..

“Brii…” Ibu itu memanggil..

Tanpa ragu, gw langsung datang menghampiri tanpa ada perasaan takut atau apa pun. Karena sebelumnya sudah beberapa kali bertemu dan berbincang singkat dengannya.

“Ibu ngapain malam2 di sini?” Tanya gw penasaran.

Ibu itu hanya tersenyum, gak mengucapkan sepatah kata pun. Gw diam berdiri di hadapannya, menunggu jawaban..
Ibu itu tetap diam dan hanya tersenyum,

Masih ingat sampai sekarang, gw mencium bau wangi semerbak ketika berada di dekatnya.

Lama kami saling diam gak berkata apa-apa. Sampai tiba saat beliau mengukurkan tangannya..

Pelan-pelan gw menyambut uluran tangannya..

Sampai tiba-tiba..

“Brii….!”

Suara pak Wasidi dari kejauhan mengagetkan gw, langsung menoleh ke arah pak Wasidi.

Ketika gw menoleh balik ke arah semula, ternyata Ibu itu udah gak ada.
Gw langsung berjalan ke arah Pak Wasidi,

“Kamu dari mana Brii…?”

“Pipis Pak…” jawab gw,
“Bapak khawatir, kamu sudah satu jam tidak ada di perkemahan”

Satu jam? Kok lama sekali? Perasaan gw cuma hitungan menit berada di toilet.

“Iya Pak…, maaf.. gak akan Lagi-lagi”

Pak Wasidi adalah wali kelas gw sejak kelas empat, sampai gw lulus SD pun tetap beliau wali kelasnya. Satu dari sekian banyak guru gw yang paling baik..

***

Setelah peristiwa di acara kemah itu, sesekali gw masih bertemu dan berbincang sebentar dengan Ibu berkebaya pada pagi hari.

Tetap dengan kebiasaannya, beliau menghilang setelah sekolah sudah ramai.

Gw jadi semakin terbiasa dengan perilakunya.

***

Singkat cerita, satu tahun berikutnya gw lulus.

Masih ingat, pada suatu sore, bertempat di lapangan sekolah, gw dan beberapa teman sekelas berbincang santai dengan Pak Wasidi.

Kami saling bercerita tentang kesan-kesan bersekolah disitu, Pak Wasidi juga menyampaikan isi hatinya. Obrolan santai yang masih gw ingat sampai sekarang.

Pada akhirnya Pak Wasidi cerita tentang ke-angker-an gedung sekolah.

“Karena kalian sudah lulus semua, dan ini adalah hari terakhir di sini, maka Bapak akan cerita rahasia yang cukup seram..” beliau membuka omongan dengan senyum.

Gw dan teman-teman menyimak dengan serius,

“Pernah ada seorang Ibu yang bekerja di sekolah ini, beliau tugasnya membersihkan lingkungan sekolah dan membantu para guru”

“Tapi sedihnya, suatu hari Ibu itu ditemukan meninggal di dalam toilet. Ketika sedang bekerja, beliau terkena serangan jantung”

Gw langsung bertanya, “Ibu itu selalu berkebaya dan bersanggul ya Pak?”

“Iya.., setelah meninggal beliau kadang masih terlihat di sekitar sekolah. Guru-guru di sini memanggil dengan sebutan hantu kebaya, Brii pernah melhat?”

Gw langsung terdiam dan gak berkata apa-apa lagi..

Berikutnya Pak Wasidi bercerita tentang mobil carry putih Ghoib, yang kadang melintas di jalan raya yg ada di depan sekolah.

~ Mobil Carry putih ghoib Brii..?

Iya, gw punya pengalaman juga dengan mobil itu, lain waktu akan gw ceritakan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *