Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Hantu di Rumah Sakit

Hantu di Rumah Sakit

Ada pengalaman seram yang gw alami di beberapa rumah sakit,
Malam ini gw akan cerita di dua tempat, RS Hasan Sadikin Bandung dan RS Pelni Jakarta Barat. Rumah Sakit yang lain gw akan ceritakan lain waktu.

***

Masih selalu ingat ketika Bapak gw bilang kalau rumah sakit itu termasuk tempat yang “Suci”. 

Dinding-dindingnya banyak mendengar doa tulus yang terucap, baik dari yang sedang sakit mau pun yang sehat walafiat.

Tapi meski pun begitu perasaan gw tetap gak enak setiap kali masuk rumah sakit, entah datang sebagai pengunjung atau sebagai pasien.

Beberapa kali juga gw lihat sedihnya “perpisahan”, bukan dari sisi yang ditinggalkan, tetapi dari sisi yang meninggalkan, alias berpulang.

***

Ahmad adalah salah satu teman baik, berteman sejak SMU. Kami sama-sama kuliah di Bandung, walaupun beda kampus.

Singkat cerita, pada suatu hari Ahmad mengabarkan bahwa bapaknya sedang dirawat di rumah sakit, rumah sakit Hasan Sadikin Bandung tepatnya.

Peristiwa ini terjadi pada awal masa gw kuliah, kala itu masih kost di daerah jalan Ciumbuleuit, Bandung. Belum tinggal di #rumahteteh

Karena jarak kost dan rumah sakit Hasan Sadikin gak terlalu jauh, gw langsung meluncur ke sana ketika Ahmad memberitakan kabar itu.
Sebelumnya, gw sudah dengar kabar kalau Pak Solihin (bapaknya Ahmad) sudah sakit-sakitan sejak lama. 

Gw dengar juga belakangan sakitnya bertambah parah.

Lupa waktu itu hari apa, tapi sekitar jam sembilan malam gw tiba di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (berikutnya gw sebut RSHS).

Waktu Itu RSHS masih belum direnovasi besar-besaran seperti sekarang, masih bangunan lama dengan arsitektur Belanda. Rumah sakit yang tergolong besar, memanjang dari jalan Eykman sampai ke jalan Pasteur.

Gedung bangunan tempat pak Solihin dirawat cukup jauh di belakang, gw berjalan hampir sampai di ujung komplek bangunan rumah sakit.

Tahu kan ruangan apa yang biasanya ditempatkan pada paling ujung dan pojok bangunan?

Iya.. ruang jenazah.

Tapi gw jalan gak sampai ke ruang jenazah. Beberapa belas meter sebelumnya gw sudah belok ke kanan.

Waktu itu, karena mungkin masih sekitar jam sembilan, lingkungan RSHS belum terlalu sepi, masih ada beberapa orang lalu lalang di sekitaran gedung rawat inap.

Gak susah juga mencari ruangan Pak Solihin, gw langsung menemukannya begitu masuk ke gedung ruang perawatan.

Ketika sudah berada di dalam ruangan, gw lihat cuma ada Ahmad dan Pak Solihin.

Ahmad dengan telaten sedang membalur tubuh Bapaknya dengan minyak kayu putih. Setelah berbincang sebentar dengan Pak Solihin, Ahmad mengajak gw untuk ke luar ruangan, supaya Bapaknya dapat beristirahat.

Kami duduk di kursi kayu di depan gedung.

Di situ Ahmad bercerita banyak.
Intinya, penyakit radang paru-paru yang diderita Bapaknya sudah tergolong parah. 

Menurut Ahmad, kalau dalam minggu ini gak ada perkembangan bagus, maka keluarga memutuskan untuk membawa pulang.

Dirawat di rumah saja..

Setelah berbincang sampai jam dua belas malam, gw pamit pulang.
Tapi Ahmad minta tolong, agar esok harinya gw datang lagi ke rumah sakit, menemani dia menginap di situ.
Gw menyanggupi ajakannya.

Akhirnya gw pun pulang.
Malam itu gak terjadi apa-apa..

Keesokan harinya, setelah selesai kuliah gw gak langsung ke RSHS memenuhi permintaan Ahmad. Gw memutuskan untuk pulang dulu ke kostan, rencananya akan ke RSHS selepas maghrib.

***

Sial, ternyata gw ketiduran, terbangun sekitar jam sebelas malam, buru-buru bersiap ke RSHS. Sebelum pergi gw coba telpon Ahmad, tapi ponsel nya gak aktif.

Ya sudah, gw putuskan langsung berangkat saja.

Gak sampai lima belas menit, gw sampai.

Memang sudah terlalu malam, seharusnya pengunjung sudah gak diperbolehkan masuk.

Gw coba telpon Ahmad sekali lagi, tetap belum aktif juga ponselnya.

Saat itu posisi sudah berada di lobby, gw coba sekali lagi menelpon Ahmad supaya menjemput gw di lobby, tapi tetap belum aktif juga ponsel nya. 

Nekat, ketika pak satpam teralihkan fokusnya, gw nyelonong masuk, dan sukses..!

Jam setengah dua belas, malam itu suasananya beda dengan yang gw rasakan pada malam sebelumnya, jauh lebih sepi.

Sepanjang lorong yang gw lalui sangat hening, gak ada orang lalu lalang. Gw masih berpikir, mungkin karena sudah nyaris tengah malam.

Oh iya, lorong RSHS ini waktu itu bentuknya lorong terbuka, hanya tiang-tiang kayu yang menunjang atap di atasnya. Jadi, udara dingin Bandung langsung menerpa tubuh yang salah kostum, karena hanya mengenakan celana pendek.

Lorong sepanjang kira-kira 300 meter itu terasa berkilo-kilo panjangnya,

~Kenapa begitu Brii?

Karena perasaan gw mulai gak enak, sejak masuk ke area gedung rawat inap gw gak melihat satu siapa pun.

Sepi..

Hanya terdengar langkah kaki gw saja..

Udara semakin dingin suasana semakin hening, semakin gak enak perasaan..

Sempat berpikir untuk kembali ke lobby, tapi gak jadi, karena ruangan Pak Solihin hanya tinggal beberapa puluh meter lagi.

Gw memperlambat laju jalan, ketika melihat sesuatu di depan gedung rawat inap..

Dari kejauhan, gw melihat ada seseorang yang sedang duduk di kursi kayu dekat pintu masuk.
Karena lampu selasar gak terlalu terang, dari jarak sekitar dua puluh meter gw masih belum bisa memastikan siapa orang itu, tapi dari perawakan tampaknya gw kenal.

Ah leganya, ternyata itu Pak Solihin.

“Alhamdulillah beliau sudah sehat..” Gumam gw dalam hati.

Padahal kemarin, untuk bangun dari tempat tidur saja susah, sekarang sudah bisa duduk di kursi luar.

“Assalamualaikum, alhamdulillah..sudah enakan badannya pak?”

Tanya gw ke pak Solihin,

“Waalaikumsalam, alhamdulillah Brii, sudah enakan.” Jawabnya sambil tersenyum.

Ketika gw tanya Ahmad ke mana, beliau bilang Ahmad mendadak pulang ke Serang, karena ada keperluan.

Kota Serang, propinsi Banten, adalah kampung halaman pak Solihin dan keluarga. Cukup jauh dari Bandung.

“Ah sialan si Ahmad, gak bilang-bilang kalau pulang mudik.” Sungut gw dalam hati, sudah gitu ponselnya gak bisa dihubungi. Kalo tahu begitu, gw gak akan dateng ke RSHS.

“Trus Bapak sama siapa di sini? Siapa yang menemani?” 

“Gak ada, gak apa-apa, bapak sudah enakan kok.,” Jawab beliau sambil tersenyum.

Kami duduk bersebelahan di kursi kayu panjang, gak ada orang lain di sekitar. Perawat yang biasanya berseliweran pun, gak terlihat sama sekali. 

Kami berdua lebih banyak diam, karena memang kami jarang ada kesempatan bertemu.

“Bri, bapak ke toilet dulu ya..” ujar pak Solihin memecah keheningan.

“Iya Pak, perlu saya antar?”

“Gak perlu Brii..” Jawab pak Solihin datar tanpa senyum. Kemudian beliau berjalan masuk ke dalam ruang rawat inap, tempat toilet berada.

Beberapa menit kemudian ponsel gw berbunyi, ada panggilan masuk..

Tertulis “Ahmad” pada layarnya..

“Gila lo ya Mad, gak ngasih kabar kalo mudik ke Serang, mana ponsel lo gak aktif..” Suara gw langsung meninggi menerima telpon dari Ahmad. 
Kesal…

“Maaf Brii, gw gak sempat kasih kabar.” suara Ahmad terdengar bergetar.

“Ponsel gw habis batrenya, gak sempat ngecas..”

“Trus ngapa lo tiba-tiba mudik?” Tanya gw penasaran.

“Jam dua siang tadi Bapak meninggal mendadak, kami sekeluarga langsung membawa jenazah Bapak pulang ke Serang, sekali lagi gw minta maaf, lo di mana ini? Belum sempat ke RSHS kan?”

Itu penjelasan singkat Ahmad..

Gw terdiam, gak tahu harus ngomong apa..

Gw tambah kaget ketika tiba-tiba melihat “Pak Solihin” keluar dari dalam ruangan tempat dia dirawat sebelumnya, lalu berjalan ke tempat semula, yaitu kursi kayu tempat gw duduk saat itu.

Badan gw lemas, pembicaraan dengan Ahmad di ponsel langsung gw putus.

Pak Solihin berjalan mendekat, tanpa senyuman, duduk di sebelah gw.

Pada saat itu gw baru sadar, kalau beliau terlihat pucat dan kuyu.

Gw gak bisa lari..

Kami hanya duduk diam, gak ada percakapan, karena gw juga gak tahu mau bicara apa. Badan gw gemetar dan berkeringat dingin. Gw membaca doa terus-terusan di dalam hati, berusaha membangun keberanian..

Itulah salah satu “lima menit” terpanjang dalam hidup..

Selama kira-kira lima menit itu, Pak Solihin hanya menatap kosong ke depan. Gw gak berani sedikit pun melirik ke arah beliau.

Suasana sangat hening..

Pada akhirnya, pelan-pelan beliau mulai terlihat hendak memutar kepala ke arah kiri, ke arah posisi gw duduk..
Mulai menatap ke arah gw..

Gak tahan dirundung ketakutan…
Sebelum pak Solihin berkata sesuatu, gw sontak berdiri dan berkata:

“Pak, saya pulang dulu ya, bapak yang tenang, Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam..” Jawab Pak Solihin datar dengan tatapan kosong. 

Wajahnya lebih pucat, sangat berbeda dengan waktu gw lihat di awal pertemuan tadi..

Di ambang pingsan, gw memaksa kaki untuk melangkah menjauh, pergi dari tempat itu.

Ketika belum terlalu jauh, gw menoleh ke belakang, ke arah pak Solihin duduk,
Beliau masih ada..

Ketika sudah agak jauh, gw kembali menoleh ke belakang. Beliau udah gak ada.

Gw langsung bergegas pulang..

Besok paginya gw berangkat ke Serang, ke rumah almarhum untuk melayat.

***


Pengalaman berikutnya terjadi pada pertengahan tahun 90an, ketika gw masih kelas dua SMP.

Waktu itu gw harus menjalani operasi amandel, karena menurut dokter sudah infeksi akut.

Rumah sakit tempat gw operasi adalah rumah sakit Pelni, di Jakarta Barat.
Waktu itu, operasi amandel masih harus rawat inap.

Operasi dilaksanakan pada jam sepuluh pagi.

Singkat cerita, operasi berjalan lancar. Alhamdulillah..

***

Sore harinya, setelah gw benar-benar sadar dari pengaruh bius, Bapak bilang, gw harus menginap sendirian di rumah sakit. Ada tetangga rumah yang meninggal, oleh karena itulah Bapak dan Ibu harus pulang ke Cilegon.

Ya sudah, mau gimana lagi, emang harus sendirian.

“Gpp Brii, kan ada suster dan perawat di sini, tenang aja..” ucap salah seorang perawat, ketika Bapak menitipkan gw ke mereka.

Sekitar jam lima sore, Bapak, Ibu dan Kakak pun pulang.

Mulailah gw sendirian di rumah sakit..

Gw dirawat di ruang perawatan kelas dua, dalam satu kamar ada dua tempat tidur untuk dua pasien. Tapi malam itu gw sendirian, gak ada pasien lagi di dalam ruangan.

Tempat tidur sebelah dalam keadaan kosong. Terasa di kelas satu jadinya..

Nah, peristiwa ini salah satu penyebab kenapa gw sangat menghindari tidur sendirian di dalam satu ruangan yang ada dua tempat tidur. Entah itu rumah sakit, hotel, atau pun tempat lainnya,

Gw lupa kamar itu di lantai berapa. Yang gw ingat, ukuran kamar cukup besar, ada TV di tengah ruangan.

Gw di tempat tidur yang letaknya dekat pintu, sementara tempat tidur kosong di sebelah kiri, dekat jendela. Hanya dibatasi oleh tirai putih.

Malam semakin larut..

Suasana di lantai tempat gw dirawat cukup sepi. Karena tempat tidur letaknya di sisi yang dekat lorong, Jadi gw dapat mendengar dengan jelas apabila ada suara langkah kaki, roda troley, atau pun tempat tidur dorong yang melintas.

Seperti gw bilang tadi, malam itu sepi, hanya sesekali terdengar langkah kaki perawat, kadang sambil mendorong troley.

Sekitar jam sembilan malam, ada perawat masuk ke kamar, dia tanya keadaan, dan mengingatkan untuk meminum obat.
Setelah itu beliau menyuruh gw untuk tidur.

Malam itu gw masih sedikit pusing, mungkin akibat masih ada sisa-sisa pembiusan saat operasi siang harinya.

Gw masih gak bisa bicara juga, karena tenggorokan masih terasa sakit. Untuk minum air saja masih sakit, apalagi bicara.

Seperti biasa, tv gw biarkan dalam keadaan hidup dengan volume suara kecil. Gak ada firasat apa-apa,
Sekitar jam sepuluh malam gw tertidur.

***

Sekitar jam satu malam, gw terjaga..

Terjaga, tapi mata masih terpejam, merasa ada yang memegang kening gw..
Tangan yang memegang terasa dingin, memaksa gw untuk membuka mata..

Samar-samar gw melihat, di sebelah tempat tidur telah berdiri seorang perempuan, berpakaian baju terusan panjang hitam kusam, dengan wajah bule, rambut berwarna gelap.

Gw diam seperti terhipnotis, ketika dia tersenyum, dengan tangan kirinya masih tetap di kening gw.

Gw masih gak menyadari siapa perempuan itu, gak bisa berkata dan berbuat apa-apa..

Kemudian, perlahan dia menuangkan obat sirup yang ada di meja, ke sendok makan, dengan pelan-pelan juga menyuapkan ke mulut gw.

Seingat gw, itu benar-benar obat sirup..

Setelah membantu gw minum obat, beliau berjalan pelan ke arah tempat tidur kosong di sebelah, sambil wajahnya tetap menatap ke arah gw. 
Sambil tersenyum..

Gw masih gak bisa berbuat apa-apa ketika dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kosong, dengan posisi miring ke kanan, ke arah gw.

Senyuman gak pernah lepas dari wajahnya.

Salahnya gw waktu itu, tirai yang memisahkan dua tempat tidur dibiarkan terbuka, seharusnya gw tutup. Akibatnya, kami berdua bisa bertatap-tatapan cukup lama.

Di titik ini gw mulai amat sangat ketakutan.

Gw baru tersadar kalau perempuan itu bukan manusia, ketika dia mulai bersenandung dengan suara lirihnya.
Suaranya mengambang, antara ada dan tiada..

Gw langsung lemas, ketakutan.,

Setelah itu gw coba untuk menggapai tombol bel pemanggil perawat.

Dan berhasil menekannya..!

Ketika gw menoleh lagi ke tempat tidur sebelah, ternyata perempuan itu sudah gak ada.

Lega rasanya,

Gak lama dari itu seorang suster perawat masuk kamar. 

“Ada apa Brii..?” Tanya dia,

Karena belum bisa bicara, gw cuma memberi bahasa isyarat agar tirai pembatas ditutup.

Setelah menutup tirai, perawat keluar kamar dan menutup pintu, situasi kembali hening..

Tapi gw sudah terlajur gak bisa tidur..

Perasaan gw masih gak enak..

Ternyata, posisi tirai tertutup lebih menyeramkan dari pada terbuka. Karena gw sama sekali gak bisa melihat ada apa di tempat tidur sebelah.

Benar saja..

Beberapa saat kemudian, gw mendengar perempuan itu bersenandung lagi dari balik tirai..

Kali ini terdengar lebih seram, karena gw sudah sepenuhnya sadar.

Gw gak bisa lari kemana-mana, badan kaku dan lemas.

Cukup lama senandung perempuan itu terdengar, tanpa terlihat wujudnya karena terhalang tirai.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba wajah perempuan itu muncul dari balik tirai, masih dengan senyum di bibirnya yang tetap bersenandung. 

Gw ketakutan, gak bisa teriak, gak bisa lari.

Perlahan dia berjalan ke pintu, lalu membukanya.

Sebelum keluar, beliau masih sempat melihat ke arah gw dan tersenyum lagi. Setelah itu gw gak ingat apa-apa lagi, entah pingsan atau tidur…

***

Pada pagi harinya gw dibangunkan oleh perawat, untuk memberi obat dan kontrol rutin, gw masih bengong ketakutan.

“Kamu kenapa Brii..? Kok begitu wajahnya?”

“Gak apa-apa sus, gak apa-apa ..” jawab gw singkat.

Sekitar jam sepuluh, Bapak dan Ibu datang. Gw langsung cerita semuanya tentang kejadian malam sebelumnya.

Ibu cuma tertawa, sedangkan Bapak langsung bertanya, “Jadi gimana? Nanti malam mau menginap di sini lagi?” Sambil bercanda.

“Gak mau pa, Brii mau pulang.” jawab gw sambil menahan tangis.

***

Sorenya kami pulang,

Sebelum pulang, gw pamit ke para perawat, ketika itulah salah satunya ada yang nyeletuk, “Semalam di datangi suster Belanda ya? Hehe.., berarti dia suka tuh sama Brii..”

Ternyata mereka semua sudah tahu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *