Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Hantu di Rumah Andi

Hantu di Rumah Andi

Malam ini gw akan cerita tentang pengalaman waktu kecil, sewaktu masih SD tepatnya.
Cukup seru,
Ingat, jangan baca sendirian, karena terkadang “mereka” gak hanya sekadar hadir dalam cerita.

“Brii, nanti pulang sekolah main ke rumahku ya. Aku punya game PS yang baru..”
Suara Andi membuyarkan lamunan gw pada siang itu, melamun sambil melayangkan pandangan ke luar jendela, gw duduk di pojok kelas sambil menunggu bel pulang berbunyi.

Waktu itu gw masih kelas lima SD.
Jendela kelas yang berbentuk memanjang dari depan sampai ke belakang itu menghadap ke taman sekolah yang cukup luas, sangat luas malah.
Pohon-pohon besar dan tanaman kecil yang berwarna-warni tertanam rapih memenuhi setiap sudut taman. Cuaca kota Cilegon yang panas dapat menjadi sedikit lebih sejuk dengan adanya taman sekolah ini.

Sebelah kiri taman, ada lahan luas yang beralaskan semen tebal yang biasa kami gunakan untuk upacara. Tiang bendera berdiri kokoh di tengah-tengah lapangan.

Agak jauh lagi ke arah timur, terdapat lapangan rumput yang luas, di lapangan ini biasa kami gunakan untuk pelajaran olahraga atau pelajaran lain yang memerlukan lahan yang luas.

Seluruh lingkungan sekolah dikelilingi oleh pagar besi berwarna merah yang tidak terlalu tinggi. Oh iya, SD gw ini bersebelahan dengan bangunan TK, gw alumni TK itu juga..:)

Ada beberapa cerita seram yang berhubungan dengan bangunan TK ini, yang memang bangunan dan lingkungannnya cukup menyeramkan. Nanti kapan-kapan gw ceritain, gak malam ini.
Itulah sedikit gambaran lingkungan SD tempat gw bersekolah dulu. Lingkungan indah yang sudah memberikan banyak pengalaman yang sangat berkesan, ada beberapa yang menyeramkan.
***
Andi, anak baru di kelas, murid pindahan dari Jawa Tengah. Dia pindah sekolah karena harus ikut ayahnya yang pindah tugas ke kota Cilegon.
“Game apa Ndi?” Tanya gw antusias.
“Balapan Brii, pokoknya seru.”
Seketika itu juga aku menjadi semakin bersemangat untuk cepat pulang dan langsung ke rumah Andi untuk main PS.

Tapi, gw menjadi gak terlalu bersemangat, ketika kembali ingat kalau rumah yang Andi dan keluarganya tempati adalah rumah yang gw takuti.
Gw pernah punya pengalaman seram di rumah ini beberapa bulan yang lalu, jauh sebelum keluarga Andi pindah ke situ.

Masih ingat kan dengan rumah yang ada perempuan berambut panjang duduk di teras depan?, Nah rumah ini yang di tempati oleh Andi dan keluarganya.
***
Mundur ke beberapa bulan sebelum cerita di atas ya, ketika Andi baru saja pindah sekolah dan tempat tinggal.
Layaknya anak baru, waktu itu Andi tampak malu-malu ketika diperkenalkan oleh Pak Wasidi di depan kelas.

Terlihat dari penampilannya, sudah nampak kalau Andi ini anak dari orang berada atau mungkin orang tuanya pejabat tinggi di penerintahan. Walaupun kulitnya agak gelap tetapi penampilannya terlihat bersih dan rapih, dengan rambut belah pinggir yang dibentuk menggunakan gel.
Setelah selesai acara perkenalan, Andi dipersilahkan untuk duduk.
Kebetulan, di sebelah gw adalah bangku kosong, teman sebangku sebelumnya pindah sekolah, jadilah Andi duduk di bangku itu, gw di bangku kanan Andi di bangku kiri.

Setelahnya, kami jadi berbincang memperkenalkan diri masing-masing. Benar tebakan gw, ternyata orang tua Andi memang pejabat yang cukup tinggi, seorang polisi yang dipindah tugaskan ke Cilegon.
Sejak saat itulah, akhirnya kami menjadi lebih akrab satu sama lain.
Singkatnya, pada suatu hari Andi mengajak gw untuk main ke rumahnya..
***
“Emang rumah kamu di mana Ndi?”
“Gak jauh dari sekolah kok Brii, di perumahan yang pohonnya banyak dan besar itu loh.”
Andi menjawab seraya menggambarkan komplek perumahan tempat dia tinggal.

Dari gambaran Andi menjelaskan letak rumahnya, gw belum menaruh curiga sedikit pun, yang ada di dalam kepala adalah Andi tinggal di komplek yang rumah-rumahnya besar, dan gw sudah tahu letak komplek itu di mana.

Sepulang sekolah, gw pun berniat untuk datang berkunjung ke rumah Andi untuk yang pertama kali.
***
Gw sudah agak hapal dengan seluk beluk perumahan itu, rumah-rumahnya besar dengan halaman yang luas.
Berboncengan menggunakan BMX silver kesayangan, gw dan Andi berjalan menyusuri jalan perumahan.

Jalan komplek yang berbahan aspal yang cukup mulus, walau pun ada beberapa lubang kecil di beberapa bagiannya.

Trotoar yang terbilang bersih ada di kanan kiri jalan, di atasnya berdiri lampu penerangan yang tiangnya cukup tinggi, serta ada pohon-pohon besar dan rindang tumbuh subur di belakangnya.

Seperti yang gw bilang di thread awal, komplek perumahan ini terbilang sepi, jarang sekali terlihat penghuninya berada di luar rumah. Jangankan malam hari, siang hari pun sangat sepi situasinya.

Berdiri di belakang, Andi terus saja memberi petunjuk jalan ke arah rumahnya, gw mengikuti arahannya.

Gw mulai curiga ketika jalan yang kami lalui mulai mengarah ke lokasi satu rumah yang gw takuti, rumah yang pernah memberikan pengalaman menyeramkan.

Rumah yang sering gw lihat ada perempuan duduk di terasnya.
Gw curiga jangan-jangan Andi tinggal di rumah itu..
***
“Ini rumah aku Brii, ayok kita masuk”
Gw terdiam di atas sepeda, ketika kami masih berada di depan pagar rumah Andi.

Kecurigaan gw terbukti benar, Andi tinggal di rumah yang gw takuti, rumah yang pernah memberikan pengalaman seram buat gw.
“Brii, ayoook..”
“Iya Ndi, iya..”

Ajakan Andi membuyarkan lamunan gw.
Kondisi rumah gak banyak berubah, hanya terlihat jauh lebih bersih dari sebelumnya, cat rumah sudah baru dan lebih cerah.
Lampu taman yang berbentuk bola kaca masih berdiri tegak di tengah-tengah halaman, gw yakin itu masih lampu taman yang sama dengan yang gw lihat dulu.

Gw sandarkan sepeda di sisi kiri garasi.Setelah itu kami berjalan ke teras rumah yang letak lantainya sedikit lebih tinggi dari garasi.

Kami melepas sepatu di teras, masih teras yang sama dengan teras yang pernah gw injak sebelumnya. Bedanya, kali ini gak ada kursi yang biasa diduduki oleh perempuan berambut panjang waktu itu, berganti dengan dua kursi kayu mengapit meja panjang di tengahnya.
“Asalamualaikum, Mbaaaak…”
Sambil menekan tombol bel, setengah berteriak Andi memanggil seseorang dengan sebutan “Mbak” dari dalam rumah.

Gak beberapa lama kemudian pintu terbuka, muncul sorang perempuan muda dari dalam rumah, perempuan itu adalah asisten rumah tangga Andi dan keluarganya.

Saat itulah gw baru tahu, kalau ternyata setelah di dalam, terlihat jelas kalau rumah ini besar dan luas.
“Ayok Brii, kita langsung ke kamarku aja.” Ajak Andi.
Gw mengangguk setuju.

Masih di ruang tamu, pandangan gw lemparkan ke seluruh isi rumah.
Sofa kulit berwarna kecoklatan tertata rapih di tengah ruang tamu, di tengah sofa ada meja marmer besar dengan vas bunga di atasnya.
Tepat di belakang sofa panjang, di dinding bagian atas, terpampang foto besar yang berisi empat orang, itu adalah foto keluarga Andi. Ayahnya berdiri dengan gagah memakai seragam dinas, di sebelahnya berdiri Ibunya Andi dengan kebaya dan sanggulnya, sedangkan Andi dan Kakak perempuannya berdiri di depan.
Belakangan gw baru tahu kalau waktu itu sang kakak sudah duduk di bangku SMP.

Di salah satu sudut ruangan, berdiri guci yang ukurannya cukup besar, sepertinya itu adalah guci tua, terlihat dari warnanya yang sudah terlihat kusam. Gw agak-agak takut dengan guci, Ibu gw bilang guci adalah tempat setan bersembunyi.

Dari ruang tamu, kami masuk ke ruang keluarga, ruangannya lebih besar lagi.

Lampu Kristal besar menggantung di tengah-tengah ruangan. Di sebelah kanan berdiri lemari kayu besar yang di dalamnya ada TV yang ukurannya besar juga, ukuran TV terbesar yang pernah gw lihat saat itu.

Di depan TV tergelar karpet tebal yang luas, dengan beberapa bantal besar tergeletak di atasnya, di belakang karpet ada kursi panjang dan meja kaca.
Ruang tengah/ruang keluarga ini cahayanya cukup redup, bisa dibilang temaram, mungkin karna lampu Kristal yang besar itu gak dinyalakan, mungkin juga karna di luar rumah tadi cuacanya sedang mendung.
Entah karna punya pengalaman seram dengan rumah ini sebelumnya, atau mungkin ada hal lainnya, perasaan gw semakin gak enak ketika sudah memasuki rumah ini.

Padahal kalau di lihat-lihat, rumahnya sangat bagus dan rapih, tapi tetap saja gw gak nyaman, ada yang aneh. Entahlah..
Kamar Andi terletak di sudut belakang ruang tengah, yang di depannya ada kamar lagi, menurut Andi itu adalah kamar kakaknya, di antara dua kamar itu ada kamar mandi.

Kami masuk ke dalam kamar.
Kamar Andi cukup luas dan besar, tempat tidurnya juga besar, meja belajar dan lemari pakaian melengkapi isi kamar. Suhu ruangan sangat sejuk, karna kamar dilengkapi oleh pendingin ruangan.
Setelah berada di dalam, gw baru tahu lagi, kalau ternyata rumah ini bertingkat pada bagian belakangnya.

Terlihat dari jendela kamar, kalau ternyata di tengah-tengah rumah juga ada taman yang bentuknya memanjang mengikuti lebar bangunan. Nah, di seberang taman inilah ada bagian bangunan yang bertingkat.
Lantai bawah sepertinya gudang, terlihat belum bersih keadaannya. Lantai dua ada dua kamar, ada dua pintu dalam keadaan tertutup. Di depan pintu ada selasar memanjang dari tangga yang berada di sebelah kanan, hingga ke ujung kiri bangunan.

Oh Iya, di pojok taman ada kolam ikan yang cukup besar, beberapa ikan mas terlihat berenang hilir mudik di dalamnya.
“Besar sekali rumah ini.” Gumam gw dalam hati sambil berdiri manatap ke luar kamar.
“Inilah rumahku Brii. Ayah kerja, lebih sering pulang malam, Ibu sedang ke luar rumah. Tadi itu yang membuka pintu pembantuku. Sedangkan kakakku biasanya sore baru pulang.”
Andi menjelaskan keadaan dan situasi rumahnya saat itu.
“Aku lebih sering sendiri di rumah ini, karena biasanya mbak pulang ke rumahnya jam tiga nanti.” Lanjut Andi menjelaskan.

Singkat cerita, kami akhirnya larut dalam keasikan bermain PS di dalam kamar.
Ada sesuatu yang aneh, ketika gw duduk di depan tv dalam kamar (kami berdua duduk di atas karpet, bersandar pada pinggir tempat tudur). Pintu kamar selalu dalam keadaan terbuka, jadi gw dapat melihat lorong di depan kamar yang menuju kamar mandi.

Walau gak secara langsung, dari ujung mata gw melihat ada sekelebat bayangan orang yang melintas melewati lorong ke arah kamar mandi.
Siapakah itu? Pembantunya Andikah? Atau orang lain?

Awalnya gak terlalu memikirkan hal itu, gw terus saja asik bermain PS, mata terus tertuju ke arah TV.

Hingga akhirnya gw penasaran, ketika sosok itu berjalan lagi melewati lorong menuju toilet, gw langsung menolehkan kepala ke arah pintu.
Gak keburu, kurang cepat gw menolehkan kepala, sosok itu sudah keluar dari sudut pandang dan masuk ke dalam toilet.

Namun walaupun begitu, gw masih dapat menangkap warna baju perempuan yang baru saja melintas, baju berwarna merah.Oh iya, gw melihat tubuhnya seperti perempuan dengan rambut terurai.
Tapi ada yang aneh lagi, gak terdengar ada suara pintu kamar mandi yang terbuka dan tertutup.
“Ada apa sih Brii, kok kelihatan bingung?”
Tanya Andi ketika melihat gelagat aneh yang gw tunjukkan.
“Gak ada apa-apa Ndi..” Jawab gw singkat.
Lalu kami melanjutkan bermain PS, tanpa memusingkan apa pun.
***

“Mas Andi, mbak pulang dulu ya, ini sudah jam tiga.”
Tiba-tiba mbak Yuni, ART Andi, muncul di depan pintu, dia pamit pulang.
Gw memperhatikan Mbak Yuni, dia memakai kaos hitam dan celana biru, gak ada warna merah pada pakaiannya.

Lantas, siapa yang tadi perempuan baju merah yang gw lihat berjalan ke arah toilet?
Ah, mungkin aja mbak Yuni ganti baju, bisa jadi begitu.
“Tolong kunci pintu depan ya Mas.”
Kata mbak Yuni lagi.
“Aku ke depan dulu ya Brii.” Ucap Andi.

Gw mengangguk, namun mata masih terus saja fokus ke layar TV.
Kemudian Andi meninggalkan gw sendirian di dalam kamar, dengan pintu yang masih terbuka lebar.

Dengan pintu kamar yang terbuka, gw dapat melihat ke arah ruang tengah.
Cuaca yang mendung mulai menjatuhkan rintik air hujan dari langit, membasahi taman yang berada di bagian belakang rumah. Langit semakin gelap padahal masih jam tiga sore, hal ini yang menyebabkan keadaan di dalam rumah menjadi gelap juga, termasuk ruang tengah. Hanya kamar Andi yang lampunya menyala terang benderang.

Tiba-tiba sekelebat sosok perempuan berbaju merah itu kembali terlihat di lorong depan kamar, dari arah kamar mandi menuju ke ruang tengah.
Penasaran, gw langsung berdiri untuk melihat siapakah perempuan itu.
Ketika sudah berdiri di depan pintu, gw menoleh ke arah kiri, ke ruang tengah.

Saat itulah, dalam temaramnya cahaya, gw melihat sosok perempuan berbaju merah dengan rambut sebahu melangkah masuk ke dalam kamar yang letaknya di ujung ruang tengah. Pintu kamar itu langsung tertutup.

Gw hanya berdiri diam di depan pintu kamar, banyak pertanyaan di kepala.
“Siapa perempuan itu?”
“Apakah itu ibunya Andi? Atau siapa?”
Tiba-tiba Andi muncul dari arah ruang tamu.
“Kenapa Brii? Ada apa? Kok kamu kelihatan bingung.” Tanya Andi kemudian.
“Itu kamar siapa Ndi?”
Gw menunjuk ke arah pintu kamar yang tadi ada sosok perempuan yang masuk ke dalamnya.
“Itu kamar ibu dan bapakku Brii. Ada apa memangnya?”
Andi menjawab dengan diakhiri dengan pertanyaan.
“Emang, ibu kamu sudah pulang?” Tanya gw lagi.
“Belum Brii, hanya ada kita aja di rumah ini, ada apa Brii?”
“Gak ada apa-apa Ndi, gak ada.”
Lalu kami kembali masuk ke dalam kamar.

Andi seperti membaca gelagat aneh yang gw tunjukkan. Mungkin raut wajah gw yang terlihat kebingungan membuat Andi masih saja penasaran.
“Kamu lihat apa Brii? Gak apa-apa, ngomong aja.”
“Gak lihat apa-apa kok Ndi, beneran.”
Jawabku sambil terus mengelak.
Gw tahu, Andi masih belum puas dengan jawaban yang dia terima, tapi gw masih terus saja gak mau menceritakan yang sebenarnya, belum.
“Sepulang sekolah, kamu selalu sendirian seperti ini Ndi?”
“Iya Brii. kami baru satu minggu tinggal di rumah ini, makanya aku masih takut kalau harus sendirian. Memang tadi kamu melihat apa sih Brii? Gak apa-apa, ngomong aja.”

Tetap, gw belum mau menceritakan apa-apa, karena memang gw sendiri masih merasa kebingungan setelah melihat sosok perempuan yang beberapa kali terlihat wara-wiri di depan kamar.
***
Hujan terdengar masih turun dari langit, keadaan luar rumah semakin gelap, ditambah dengan hari yang sudah semakin sore, beranjak malam.
Sekitar jam lima lebih sedikit, tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah berbunyi.

Andi langsung berdiri dan berjalan ke luar kamar, berniat untuk membuka pintu depan.
Gak lama kemudian, Andi muncul lagi bersama dengan seorang perrmpuan, yang ternyata itu adalah Ibunya Andi.
“Ini Brii ma, teman sebangku aku di sekolah.”
“Oh ini yang namanya Brii, saya mamanya Andi. Brii tinggal di mana?”
Ibunya Andi memperkenalkan diri sambil mengajak bersalaman.
“Saya tinggal di Ramanuju Tante, gak jauh kok hehe.”
Gw menjawab sambil cengengesan.
“Baiklah kalau begitu, Tante tinggal dulu ya..”
Lalu Ibunya Andi meninggalkan kami, berjalan menuju kamarnya.
***
Sekitar jam setengah enam, suara hujan tidak terdengar lagi, sepertinya sudah berhenti.
“Ndi, sudah sore, aku pulang dulu ya.”
“Iya Brii, terima kasih ya sudah mau main ke rumahku.”
Ketika gw hendak berpamitan ke Ibunya Andi, Andi bilang ibunya sedang tidur di kamarnya.
Ya sudah, akhirnya gw pulang tanpa berpamitan.
Andi mengantarkan gw ke luar rumah, sampai ke pagar depan.
Ketika kami sudah berada di pagar rumah, gw yang sudah duduk di atas sepeda, Andi berbicara dengan suara pelan dan nyaris berbisik.
“Aku yakin tadi kamu melihat sesuatu, kamu melihat perempuan baju merah kan?”
Gw tersentak kaget, bukan karena mendengar omongan Andi, tetapi ada hal lain yang membuat gw ketakutan.
Dari pagar itu gw dapat melihat ke arah jendela kamar yang letaknya di sebelah kanan rumah. Gw melihat ada seseorang di balik jendela..
Ternyata, perempuan berbaju merah itu sedang berdiri memperhatikan kami.
Melihat mata gw yang mengarahkan pandangan ke belakangnya, Andi ikut-ikutan menoleh ke arah jendela kamar..
Tiba-tiba sosok perempuan itu sudah menghilang..
“Aku pulang ya Ndi, sampai ketemu besok ya.”
Gw langsung mengayuh sepeda, menuju pulang, meninggalkan Andi yang masih diam tanpa kata terbengong-bengong di pagar rumah.
***
Itulah saat pertama kali gw berkunjung ke rumah Andi, dan saat pertama kali juga gw melihat sosok perempuan berbaju merah yang misterius itu.
Setelah itu, beberapa kali gw datang berkunjung ke rumah Andi, beberapa kali juga gw mengalami kejadian yang menyeramkan di rumah itu. Gak hanya siang hari, karna nantinya gw terpaksa harus menginap di sana. Kapan-kapan gw ceritain, gak malam ini.
***
Minggu depan, rencananya gw akan cerita tentang pengalaman #briikecil ketika datang mengunjungi rumah om Heri dan om Wahyu di perkebunan karet, dalam rangka mengisi liburan sekolah.
Percayalah, itu adalah salah satu liburan sekolah paling menyeramkan yang pernah gw alami. Menegangkan..
Tunggu minggu depan ya.
Met bobo, semoga mimpi indah.
Salam,~Brii~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *