Monmaap nih gak boleh copy yes... kalo ngajak ngopi boleeee
Obor-Obor di Desa Kakek

Obor-Obor di Desa Kakek

Malam ini gw akan cerita salah satu pengalaman seram bareng Kakek tercinta. Kenapa gw bilang salah satu? Ya karena ada beberapa pengalaman horor yang pernah kami alami. Nanti gw ceritakan satu-persatu.
Kali ini cerita tentang “obor-obor di desa Kakek”.

Almarhum kakek dan nenek semasa hidup dulu tinggal di suatu daerah pedalaman Lampung Timur. Pedalaman yang benar-benar pedalaman, desa yang terletak di tengah hutan, kalau mau ke sana harus melalui perkebunan sawit, kapas, karet, rawa-rawa, hutan jati, macam-macam. Menurut Bapak, jaraknya kira-kira 40 km dari jalan utama, jalan lintas Sumatera.
Kenapa bisa terdampar di sana? Karena dulunya mereka ikut program transmigrasi.

Waktu Kakek dan Nenek masih hidup, setiap lebaran gw sekeluarga pasti mudik. Seru perjalanannya, dimulai dari naik kapal laut selat sunda, lintas sumatera Bakauheuni – Teluk Betung, lalu ke kota Bergen, hanya sampai di situ aja jalan aspalnya. Setelahnya, jalan tanah sampai ke rumah Kakek. Tapi gw menikmatinya.

Karena sudah tua, Kakek meninggal empat tahun yang lalu dalam tidurnya, Nenek meninggal satu tahun sebelumnya. Sejak mereka meninggal, gw gak pernah mengunjungi tempat itu lagi.

Peristiwa yang akan gw ceritakan ini terjadi sekitar 20 tahun lalu, waktu masih SD. Tapi tenang aja, detail kejadianya gw masih ingat..

Perjalanan ke rumah Kakek selalu menggunakan mobil, biasanya bapak yang duduk di belakang kemudi, gw duduk di sebelahnya.

Gw paling suka memperhatikan barisan pepohonan kelapa sawit ketika mobil berjalan melintas di tengahnya.

Ratusan kelapa sawit berjajar rapih, membentuk terowongan di antara barisannya. Indah. Pemandangan itu banyak terlihat antara Bandar Lampung – Bergen.

Di kota kecil bernama Bergen ini jalan aspal berakhir, selebihnya kami harus begoyang selama berberapa jam di dalam mobil, karena harus melintas di jalan tanah yang bergelombang.

Apa lagi kalau sedang musim hujan, benar-benar seperti offroad track dengan tingkat kesulitan lumayan berat.

Pernah pada suatu waktu ketika mudik ke sana, mobil kami tergelincir masuk ke sawah. Nyemplung ke sawah se-mobil-mobil-nya.
Trus gimana? Om Adi (om gw paling kecil), berjalan kaki ke kampung Kakek untuk minta bantuan. Beberapa jam kemudian dia datang bersama belasan orang, berbondong-bondong menghampiri kami.

Tahu gak apa yang mereka lakukan kemudian?Sekitar 15 orang beramai-ramai mengangkat mobil dari sawah ke atas jalan tanah yang ada disampingnya. Luar biasa kuatnya mereka. Luar biasa baiknya juga mereka.

Tapi sebelumnya mereka sudah tahu, kalau kami adalah “Anak cucu pak Ra’uf..”. Oh iya, Ra’uf adalah nama Kakek.

Itulah gambaran betapa “dahsyat”nya perjalanan ke rumah Kakek. Waktu itu ke rumah Kakek bukan dalam rangka mudik lebaran, tapi entah dalam rangka apa, gw lupa. Yang pasti waktunya adalah dua atau tiga minggu sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

***

Singkat cerita, kami pun sampai di rumah Kakek. Seperti biasa, Kakek Nenek menyambut di depan rumah dengan senyum bahagia.

Setelah itu masakan Nenek sudah menunggu di dapur, menunggu untuk dilahap, perjalanan berat membuat perut lapar.

20 tahun yang lalu, desa kecil tempat Kakek tinggal ini belum ada listrik. Penerangan menggunakan lampu petromak dan lampu templok.

Mata pencarian penduduk desa kebanyakan bertani dan berladang, termasuk Kakek. Tapi beliau gak hanya berladang, Kakek memiliki mesin giling padi bertenaga diesel di samping rumah, yang dapat disewa petani lain untuk menggiling padi.

Jarak dari rumah ke rumah lainnya cukup jauh, rata-rata sekitar 100meter. Dihubungkan dengan jalan tanah yang lumayan rata.
Masing-masing rumah memiliki halaman luas, ada yang beralaskan rumput, dengan pohon buah-buahan di atasnya. Rumah-rumahnya berbahan dasar kayu,

Kebayang kan suasana desanya? Gw sangat menikmati. Ga ada polusi, karena penduduknya bepergian menggunakan sepeda atau berjalan kaki, jarang ada motor melintas, apalagi mobil.

Mengangkut hasil pertanian pun menggunakan gerobak yg ditarik oleh sapi, dengan kalung lonceng kliningan dilehernya.

Gw akan cerita sedikit tentang sapi penarik gerobak ini, ada yang unik.

Jadi, hasil pertanian di kampung itu biasanya di bawa ke koprasi atau pengepul untuk dikumpulkan disana, setelah itu baru dibawa ke kota untuk dijual. Nah, dari gudang petani hasil pertanian dibawa menggunakan gerobak beroda kayu yang di tarik oleh sapi, satu gerobak ditarik oleh satu atau dua ekor sapi.

Karena jarak tempuh yang jauh, biasanya sapi-sapi ini berjalan pada malam hari, tiba di tempat tujuan menjelang pagi. Yang unik adalah, sapi-sapi ini sudah hafal rute jalan yang harus ditempuh tanpa diarahkan oleh kusir gerobak. Mereka berjalan sendiri mengikuti rute perjalanan, sementara sang kusir bisa tidur di atas gerobak selama perjalanan. Ketika sang kusir bangun dari tidurnya, gerobak sudah sampai di tujuan.

Keren kan..?

Kadang ditengah malam, di depan rumah Kakek terlihat melintas gerobak-geribak sapi ini. Awalnya gw bingung, kok mereka berjalan sendiri tanpa kusir. Hanya tumpukan hasil pertanian yang terlihat di dalam gerobak.

Ternyata kusirnya tidur di antara hasil tani dalam gerobak.

***

Malam jumat itu adalah malam kedua gw di rumah Kakek. Saat itu kami tengah ngobrol di beranda rumah. Suasana malam hari di desa itu sudah sangat sepi, sekeliling rumah hanya hutan dan rawa.

Sesekali suara binatang malam terdengar di antara hembusan angin. Di depan rumah Kakek adalah jalan desa yang cukup lebar. Di seberang jalan terdapat hutan rindang, agak seram kalau dilihat pada malam hari.

Obrolan kami berhenti sebentar, ketika Kakek muncul dari dalam rumah.

“Brii, anter Kakek ke rumah Kakek Hamid yuk..” ucap Kakek.

Kakek Hamid adalah adik kandung Kakek, gw biasa memanggilnya Kakek ke-dua, beliau orangnya lebih aktif, sering mengajak gw mancing ke tempat yang jauh, mengajak gw ke tempat yang seru.

Gw mengangguk menjawab ajakan Kakek, karena gw juga belum sempat mampir ke rumah Kakek ke-dua.

Jam sembilan malam kami berangkat.


Membawa obor, kami berdua menyusuri gelapnya malam di jalan desa terpencil itu. Berjalan kaki akan memakan waktu hampir satu jam untuk sampai tujuan. Kanan kiri jalan yang dilewati adalah hutan dan perkebunan, hanya sesekali kami melewati rumah penduduk. Kalau masih terlihat ada orang di depan rumah, Kakek akan bertegur sapa. Kakek kenal dengan semua penghuni desa itu.

Sepanjang jalan kami berbincang seru, Kakek memang hobi bercerita. Makanya gw gak terlalu takut jalan malam-malam di tengah hutan seperti itu, karna di sebelah gw ada Kakek yang gak terlihat takut sedikit pun.

Ya memang udah biasa jalan kaki pada malam hari.

Langkah gw melambat ketika tiba-tiba Kakek mengajak untuk mengucap salam.

Ternyata di sebelah kiri jalan terhampar pemakaman umum yang besar, terlihat suram dan gelap, juga ditumbuhi pohon besar. Dengan gapura lusuh pada pintu gerbangnya.

Merinding melewatinya. Padahal kalau jalan sendirian, atau dengan orang selain Kakek, mungkin gw akan berlari supaya cepat sampai tujuan.


Sepanjang perjalanan, yang terdengar hanya suara obrolan kami dan gesekan sendal di jalan tanah, diiringi suara-suara binatang hutan.

Malam itu gak ada bulan, jadi keadaannya benar-benar gelap

Sekitar jam sepuluh malam akhirnya kami sampai di tujuan. Senyum sumringah kakek ke-dua, di tambah dengan tawanya menyambut kami.


“Naahh cucu kesayangan Kakek akhirnya datang juga…” kata beliau.


Gw mematikan obor dan langsung masuk ke dalam rumah kayu itu. Kami berbincang bertiga di dalam, kadang ditambah dengan Nenek kedua yang sesekali ikut bergabung.


Seru melihat obrolan dua kakak beradik ini.


Beberapa saat kemudian gw memisahkan diri ke belakang, karena gw perhatikan ada pembicaraan penting di antara mereka berdua.

Gw duduk di dapur ditemani oleh nenek kedua,

***

Sekitar jam dua belas malam, Kakek mengajak untuk pulang. Gw senang, karena sudah agak ngantuk.

Setelah berpamitan, kami menyalakan obor dan berjalan pulang.

Kami melewati jalan sama seperti saat berangkat tadi, hanya kali ini udara mulai terasa lebih dingin. Entah kenapa, suasananya juga lebih hening. Untungnya Kakek masih semangat mengajak gw untuk ngobrol. Saat berangkat tadi, suara binatang hutan masih ramai terdengar, namun ketika dalam erjalanan pulang, malah lebih sepi.

Sedikit merasakan hal yang kurang enak, gw menggandeng tangan Kakek untuk menenangkan. Kakek melihat gelagat aneh gw, dan tersenyum “Gak usah takut Brii, ada Kakek, tenang aja..”

Gw menjadi sedikit tenang.

Di tengah perjalanan, dari kejauhan terdengar lolongan anjing hutan, melolong panjang.
Semakin erat tangan gw menggenggam tangan Kakek, semakin merapatkan diri ke tubuhnya, gw takut..😖


Lolongan anjing gak hanya sekali, tapi beberapa kali terdengar memecah kesunyian malam itu.

Bukan rahasia lagi, gw yang waktu itu masih kecil pun tahu, kalau ada lolongan panjang anjing seperti itu, biasanya ada aktifitas mahluk tak kasat mata disekitarnya.


Tiba-tiba lolongan anjing berhenti..

Berhenti total, suasana manjadi hening dan sepi..

Dead silence..

Hanya suara langkah kaki kami aja yang terdengar,

Suasana menjadi sunyi, lolongan anjing pun menghilang,

Langkah kaki Kakek melambat, gw gak tahu knapa..

Tiba-tiba..

Terdengar suara kliningan dari arah belakang..

Ternyata berasal dari lonceng kecil yang ada di leher sapi penarik gerobak, yang gw cerita di awal tadi. Dari kejauhan gerobak sapi itu berjalan pelan ke arah kami.

Kami menatap heran ke arah gerobak itu. Lama kelamaan, gerobak sapi semakin mendekat,

Hingga akhirnya gerobak benar-benar melintas di samping kami berdiri, kakek menghentikan gerobak sapi itu dengan memegang leher sapinya.

Gw melihat ke dalam gerobak, yang harusnya berisi kusir dan hasil pertanian,

Ternyata kosong..

“Kek, kita naik gerobak ini aja yuk, supaya cepat sampai rumah” ajak gw.

“Jangan, gerobak ini sudah ada yang mau menaikinya nanti di depan..” kata Kakek seraya menepuk punggung sapi agar meneruskan perjalanannya..

Gw gak ngerti apa maksud omongan Kakek. Gw bingung, siapa yang mau naik gerobak sapi malam-malam begini selain kami? Sepanjang mata memandang gak ada siapa-siapa, hanya kami berdua di tengah sunyinya malam itu.

Tapi gw akan dapat jawabannya beberapa menit ke depan..

Gerobak sapi lanjut berjalan dengan pelan menembus gelapnya jalan yang membelah hutan.

Kami mengikuti sekitar 30 meter dibelakangnya.

Perasaan gw makin ga enak.

Kakek gak mengeluarkan sepatah kata pun, tangannya menggenggam erat tangan gw yang sudah kelihatan takut.

Gak lama kemudian, tiba-tiba gerobak sapi itu berhenti, kami ikut menghentikan langkah.

Kakek menarik tangan gw, seraya memberi isyarat agar mengikuti langkahnya pindah ke pinggir jalan.

Gw bingung, kenapa Kakek tiba-tiba pindah posisi jadi ke pinggir jalan?

“Kita berhenti dulu disini, ada yang mau lewat, km jangan takut, tenang aja..” ucap Kakek sambil tetap tersenyum.

Gw semakin bingung, memang ada apa? Siapa yg mau lewat? Knapa Kakek juga kelihatan agak tegang sikapnya?

Gw baru sadar, ternyata gerobak sapi yang tadi itu berhenti tepat di depan pemakaman umum yang kami lewati juga saat berangkat.

Dalam perjalanan pulang, pemakaman itu letaknya menjadi di sebelah kanan jalan. Gw ingat dengan gerbang gapura lusuh sebagai pintu masuknya.

Suasana semakin hening, sesekali lolongan anjing hutan terdengar lagi dari kejauhan.

Kami masih berdiri di pinggir jalan, ketika..

Ketika tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian kami, sesuatu yang muncul dari dalam area pemakaman itu.

Dari kejauhan, kami melihat ada cahaya yang muncul dari salah satu gundukan tanah kuburan.
Cahaya itu ternyata api yang menyala pada ujung obor.

Obor terlihat keluar dari dalam kubur.

Dan ternyata, belakangan kami lihat obor itu gak muncul dengan sendirinya, ada yang memegang.

Dari kejauhan terlihat bayangan hitam berbentuk manusia yang muncul dari dalam kubur sambil memegang obor.

Bayangan hitam pekat mamakai jubah panjang,

Gw gemetar ketakutan, perlahan menggeser tubuh, pindah ke posisi menjadi di belakang Kakek, sambil mengintip dari pinggangnya.

Bayangan hitam itu kemudian berjalan pelan menuju ke luar area pemakaman. Berjalan menuju pintu gerbang.

Gak lama kemudian, dari gundukan kuburan yang lain muncul juga obor, sama seperti yang pertama, ada bayangan hitam juga yang keluar membawa obor dari dalam kubur.

Berikutnya muncul lagi dari kuburan yg lainnya..

Dan muncul lagi..

Gw hitung ada lima bayangan yang keluar dari dalam kubur dengan memegang obor, dan semuanya berjalan menuju gerbang pemakaman.
Gw semakin panik ketakutan, pingin nangis rasanya. Tangan menggenggam tangan Kakek kuat sekali.

“Jangan takut Brii, tenang aja, itu mahluk Allah juga, gak akan berbuat jahat.” ujar Kakek menenangkan.

Tapi gw tetap ketakutan..

Jarak kami ke area pemakaman sekitar 30 meter, cukup untuk melihat peristiwa itu dengan jelas.

Sambil mengintip, gw yakin ada lima bayangan hitam berjalan membawa obor keluar area pemakaman. Ternyata mereka menuju gerobak sapi tadi yang berhenti di depan. Satu persatu mereka menaikinya.

Kemudian gerobak mulai berjalan pelan..

Belum selesai..

Ketika masih terkesima melihat peristiwa itu, ada sesuatu lagi yang menarik perhatian..

Ternyata ada barisan obor berjalan dari arah belakang, dari arah kampung dimana rumah kakek ke-dua berada.

Barisan itu berjumlah sekitar 10 obor, masing-masing dipegang oleh satu bayangan hitam berbentuk manusia berjubah. Berjalan pelan ke arah kampung Kakek, jalur kami pulang.

Gw semakin ketakutan,
Gak berani melihat ketika barisan bayangan hitam itu semakin mendekat, dan terus mendekat..

Pada akhirnya mereka melintas juga tepat di hadapan. Gw membenamkan kepala ke dalam baju kakek.

“Asalamualaikum…” Kakek mengucap salam ketika mereka tepat berada di hadapan.

“Waalaikumsalam…”

Gw mendengar ada yang menjawab salam Kakek, suara laki-laki. Gw gak berani melihat, masih menutup mata dan membenamkan kepala di pinggang Kakek.

Kemudian, yang gw dengar adalah keheningan,

Beberapa saat kemudian kakek mengajak gw untuk melanjutkan perjalanan.

Sebelumnya Kakek bilang, “Kamu ga usah takut, kita akan berjalan di belakang mereka, mereka gak jahat, mereka cuma ingin pulang..”

Pulang? Pulang ke mana?

Kami berjalan di belakang barisan bayangan hitam yang membawa obor itu, berjarak sekitar 50 meter di belakangnya. Paling depan adalah gerobak sapi yang mengangkut beberapa bayangan hitam membawa obor di atasnya.

Sepanjang jalan, tangan gw tetap menggenggam tangan Kakek kuat-kuat.

Di perjalanan itu, gw perhatikan, setiap melewati satu rumah penduduk, ada satu bayangan yang berbelok dan masuk ke dalam rumah yang dilewati.

Ketika ada rumah lagi, satu bayangan berbelok dan masuk ke dalamnya.

Begitu seterusnya..

Gak terasa, akhirnya kami sampai juga di rumah, gw langsung lari dan mengetuk pintu.

Sementara rombongan bayangan pembawa obor meneruskan perjalanannya.

Nenek membuka pintu rumah, gw buru-buru lari masuk ke dalam.

Kakek mengajak gw untuk langsung ambil wudhu dan sholat malam bersamanya.

Malam itu gw tidur di kamar Kakek..

***

Esok harinya, Kakek menjelaskan tentang peristiwa yang baru saja kami alami.

Jadi, di kampung itu ada cerita turun temurun. Yang katanya, bulan Ruwah (bulan sebelum bulan Puasa) adalah waktunya arwah orang yang sudah meninggal untuk pulang ke rumah masing-masing. Dan pada malam itu, gw dan Kakek melihat peristiwanya, yang benar-benar terjadi.

Wallahualam..

“Kakek lupa kalo bulan ini ternyata sudah masuk bulan ruwah…hehehe. Kalo tahu, Kakek gak akan ngajak kamu jalan malam-malam ..hehehe” Kakek bilang begitu sambil tertawa,

Begitulah salah satu petualangan gw bersama almarhum Kakek.

Salam..
~Brii~
Photo credits:https://www.hipwee.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *